Tampilkan postingan dengan label ilmuparenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ilmuparenting. Tampilkan semua postingan

Jumat, 21 Oktober 2016

Bagaimana mengintegrasikan Peran Keluarga dengan Sekolah

*Bagaimana mengintegrasikan Peran Keluarga dengan Sekolah*

Oleh: Ustadz Harry Santosa

Banyak sekolah progresif yang berfikir maju ke depan menyadari bahwa pendidikan tidak bisa dilakukan dengan baik oleh sekolah semata tanpa kesertaan peran orangtua dan komunitas. Sekolah sekolah seperti ini tahu betul bahwa tempat mendidik yang utama adalah keluarga atau rumah. Mereka juga tahu ada banyak aspek fitrah yang sekolah memerlukan peran keluarga lebih dominan, sehingga mereka sangat ingin betul menjadikan sekolahnya menjadi tempat bekerjasama terbaik antara keluarga, komunitas dan sekolah.

Sementara banyak keluarga yang menjalani Home Education terkadang memerlukan kerjasama dengan sekolah sebagai sumber akses pengetahuan dan expert. Sebagaimana kita ketahui bahwa konsep Home Education (HE) berbeda dengan konsep Home Schooling (HS), karena HE tidak mempermasalahkan anak bersekolah atau tidak serta dengan jelas menyatakan tidak membawa "sekolah" ke rumah.  HE fokus pada merawat dan menumbuhkan fitrah AyahBunda, fitrah keluarga dan fitrah anak anaknya.

Jadi HE sesungguhnya adalah kewajiban alamiah, fitrah maupun syariah setiap orangtua untuk menyelenggarakan pendidikan di rumahnya. Pendidikan adalah wilayah tanggungjawab orangtua, sementara Pengajaran bisa dikerjasamakan dengan lembaga seperti sekolah atau komunitas dsbnya.

Tentu saja kerjasama yang dimaksud adalah bukan sebagaimana peran komite yang sekedar menjadi penonton dan tukang stempel, atau juga bukan sekedar program parenting yang diselenggarakan sekolah dsbnya namun jauh daripada itu, yaitu melibatkan peran orangtua atau keluarga dalam proses pendidikan secara penuh setidaknya 70%.

Pertanyaanya kemudian adalah bagaimana model kerjasama terbaik antara Keluarga dan Sekolah. Berikut adalah beberapa langkah langkah untuk mewujudkan kerjasama antara Keluarga dan Sekolah dalam membangun sistem pendidikan terbaik.

1. Sekolah harus membuka diri untuk melibatkan keluarga dalam proses pendidikan secara penuh. Mindset bahwa sekolah adalah produsen dan keluarga adalah konsumen harus ditinggalkan jauh jauh. Orangtua juga harus berhenti melihat sekolah sebagai "Laundry" atau tempat penitipan anak.  Perubahan Mindset harus menuju kepada keyakinan bersama bahwa pendidikan  adalah membangun peradaban secara bersama sehingga memerlukan keterlibatan orang sekampung "It takes a village to raise a child".

2. Adanya kesepakatan keterlibatan keluarga dalam perencanaan dan proses pendidikan sampai 70%. Kesepakatan ini harus ditandatangani dan langsung dipraktekan. Parent Engagement Indeks perlu diberikan ukuran ukuran yang disepakati bersama. Secara praktek dapat dibuat List Kegiatan dengan pembagian responsible dan akuntabel antara orangtua/keluarga dengan guru/sekolah.

3. Keluarga dibekali keberanian dan kemampuan untuk merancang Personalized Curriculum untuk setiap anak anaknya. Para orangtua diberikan pelatihan untuk membuat Journal Kegiatan atau melakukan Assessment berbasis Aktifitas Anak (Activity based Assessment ABA) dimana di dalamnya tertuang profile anak termasuk potensi atau bakat, tanda antusias dalam suatu kegiatan, perkembangan tiap aspek fitrah dstnya. Dari ABA tadi maka akan selalu diserap potensi dan masalah, untuk kemudian diimajinasikan idea idea kegiatan baru yang lebih baik mengembangkan aspek fitrah termasuk skill, pengetahuan dan sikap/akhlak yang perlu dikembangkan. Rangkaian berkegiatan baru dengan pengalaman baru yang berangkat dari potensi fitrah dalam beberapa bulan ke depan inilah yang disebut Personalized Curriculum.

4. Pengintegrasian Kurikulum Sekolah dengan Personalized Curriculum. Sekolah idealnya dapat menjadi Co-Parenting yang justru membawa beragam kegiatan unik di rumah ke ruang ruang kelas. Orangtua menjadi Co-Designer Curriculum yang memberi pengayaan kepada kurikulum kelas. Dalam berbagai kebutuhan orangtua dapat menjadi Co-Teaching untuk pengembangan bakat atau talents dstnya.

5. Dalam perjalanannya Sekolah harus siap bermetamorfosa menjadi Community based School atau Community based Education (CBE) dengan stakeholder kepemilikan yang meluas yang terdiri dari Orangtua, Guru dan Lembaga juga Warga. Bahkan akan bisa mengarah kepada Community based Business (CBB) untuk menopang CBE. Karenanya sejak awal sebaiknya mulai dirancang AD/ART yang mengatur hak dan wewenang masing masing stakeholder untuk menghindari benturan kepentingan.

Salam Pendidikan Peradaban
#fitrahbasededucation
#pendidikanberbasisfitrah dan akhlak

Sabtu, 23 Juli 2016

"Sekolah *'KNOWING'* vs Sekolah *'BEING'*"

"Sekolah *'KNOWING'* vs Sekolah *'BEING'*"

Kantor kami, Perusahaan PMA dari Jepang, mendapat pimpinan baru 
dari Perusahaan induknya di Jepang.
Ia akan menggantikan Pimpinan yang lama yang memang sudah waktunya untuk  balik ke negaranya.

Sebagai patner, saya ditugaskan utk mendampinginya selama ia di Indonesia.
Saya menawarkan kepadanya selain perkenalan kpd relasi, juga utk  melihat2 objek wisata kota Jakarta dan Bandung .  Pada saat kami ingin menyeberang jalan, teman saya ini selalu berusaha utk mencari zebra cross.
Berbeda dgn saya dan org Jakarta yg lain, dgn mudah menyeberang di mana saja sesukanya.
Teman saya ini tetap tdk terpengaruh oleh situasi.

Dia terus mencari zebra cross ataupun jembatan penyeberangan, setiap kali akan menyeberang.
Padahal di Indonesia tidak setiap jalan dilengkapi dgn sarana seperti itu.
Yg lebih memalukan, meskipun sdh ada zebra cross tetap saja para pengemudi tancap gas, tidak mau mengurangi kecepatan guna memberi kesempatan pada para penyeberang.
Teman saya geleng2 kepala mengetahui perilaku masyarakat kita.
Akhirnya saya coba menanyakan pandangan ini mengenai fenomena menyeberang jalan tadi.

Saya bertanya, mengapa orang2 di negara ini menyeberang tidak pada tempatnya, meskipun mereka tahu bahwa zebra cross itu adalah sarana utk menyeberang jalan.

Sementara kenapa dia selalu konsisten mencari zebra cross meskipun tidak semua jalan di negara kami dilengkapi dgn sarana tsb..

Pelan2 dia menjawab pertanyaan saya,
*"It's ALL HAPPENS BECAUSE OF THE EDUCATION SYSTEM."*

Saya kaget juga mendengar jawabannya.
Apa hubungan nya menyeberang jalan sembarangan dgn sistem pendidikan?

Dia melanjutkan penjelasan nya, "Di dunia ini ada 2 jenis sistem pendidikan, yang pertama adalah sistem pendidikan yg hanya menjadikan anak2 kita menjadi mahluk *'KNOWING'* atau SEKEDAR TAHU SAJA, sedangkan yg kedua sistem pendidikan yg mencetak anak2 menjadi mahluk *'BEING'.*
Apa maksudnya?_*

Maksudnya, sekolah hanya bisa mengajarkan banyak hal UNTUK DIKETAHUI PARA SISWA.
Sekolah TIDAK MAMPU MEMBUAT SISWA MAU MELAKUKAN APA YANG DIKETAHUI SEBAGAI BAGIAN DARI KEHIDUPAN NYA.
Anak2 tumbuh hanya menjadi *'MAHKLUK KNOWING'*, hanya sekedar 'MENGETAHUI' bahwa:
» *ZEBRA CROSS adalah TEMPAT MENYEBERANG,*
»  *TEMPAT SAMPAH ADALAH UNTUK MENARUH SAMPAH.*

Tapi "MEREKA TETAP AKAN MENYEBERANG DAN MEMBUANG SAMPAH SECARA SEMBARANGAN".
Sekolah semacam ini BIASANYA MENGAJARKAN "BANYAK SEKALI MATA PELAJARAN".
Tak jarang membuat para siswanya STRESS, PRESSURE & akhirnya MOGOK SEKOLAH.

"SEGALA MACAM DIAJARKAN" dan BANYAK HAL DIUJIKAN, "TETAPI TAK SATUPUN DARI SISWA YANG MENERAPKANNYA SETELAH UJIAN".  Ujiannya pun HANYA SEKEDAR TAHU, *'KNOWING'*.

Di negara kami, sistem pendidikan BENAR-BENAR DIARAHKAN UNTUK MENCETAK MANUSIA2 YANG " TIDAK HANYA *TAHU* apa yg benar tetapi *MAU* MELAKUKAN APA YANG BENAR SEBAGAI BAGIAN DARI KEHIDUPANNYA'.

Di negara kami, anak2 hanya diajarkan 3 mata pelajaran pokok:
1. *_Basic Sains_* 2. *_Basic Art_* 3.*_Social_*

Dikembangkan melalui praktek langsung dan studi kasus dan dibandingkan dgn kejadian nyata di seputar kehidupan mereka.

Mereka tidak hanya *TAHU,* mereka juga *MAU* menerapkan ilmu yg diketahui dlm keseharian hidupnya.

Anak2 ini jg TAHU PERSIS ALASAN MENGAPA MEREKA MAU atau TIDAK MAU MELAKUKAN SESUATU.

Cara ini mulai diajarkan pada anak sejak usia mereka masih sangat dini agar terbentuk sebuah kebiasaan yg kelak akan membentuk mereka menjadi mahluk *'BEING'*, yakni MANUSIA2 YANG MELAKUKAN APA YANG MEREKA TAHU BENAR."

Betapa sekolah begitu MEMEGANG PERAN YANG SANGAT PENTING BAGI PEMBENTUKAN PERILAKU & MENTAL ANAK2 BANGSA.

Tidak hanya sekadar berfungsi sebagai "LEMBAGA SERTIFIKASI" yg "HANYA MAMPU MEMBERI IJAZAH" kepada para anak bangsa.

KARAKTER, PERILAKU dan KEJUJURAN adalah landasan untuk membangun anak didik  yang LEBIH BERADAB DALAM BERPERILAKU.

BUKAN SEKEDAR ANGKA-ANGKA AKADEMIK seperti yang tertera di buku-buku raport sekolah ataupun Indeks Prestasi IPK..

KEJUJURAN dan ETIKA MORAL adalah PRIORITAS UTAMA, sedangkan kepintaran itu kita kembangkan kemudian,  karena SETIAP ANAK TERLAHIR PINTAR dan pendidikan itu sendiri adalah perkembangan

Oleh sebab itu, Seyogyanya, kita TIDAK PERLU TERLALU RISAU jika seorang anak belum bisa calistung ( baca tulis hitung ) atau Pipolondo ( Ping Poro Lan Sudo )  saat masuk SD atau bahkan setelah sekolah SD sekalipun,

Tapi mestinya  harus peduli jika seorang anak TIDAK JUJUR dan BERETIKA BURUK.
Pendidikan itu BUKAN PERSIAPAN UNTUK HIDUP,  karena  PENDIDIKAN ADALAH KEHIDUPAN.. SEPANJANG HIDUP..

Rabu, 20 Juli 2016

ANAK ANAK KORBAN LOMBA BY UST. ADRIANO RUSFI (psikolog)

Anak Anak Korban Lomba
By: Ust. Adriano Rusfi (Psikolog)

Bulan Ramadhan memang bulan lomba, karena kita diminta untuk berlomba-lomba dalam kebaikan : fastabiqul khairat. Maklumlah, pada bulan ini pahala akan dilipatgandakan hingga 700 kali lipat. Mungkin karena motivasi ini, maka televisipun berlomba-lomba mengadakan perlombaan bertema Ramadhan, khususnya untuk anak-anak. Ada lomba dakwah, ada lomba tilawah, ada lomba tahfidz dan sebagainya.

Tak perlulah kita meragukan niat baik mereka, baik televisinya maupun penggagasnya. Lagi pula, di acara-acara tersebut berkumpul orang-orang baik. Saya melihat sejumlah da’i, muballigh, hafidz, qari’, tokoh masyarakat, dan pesohor. Sekian banyak orang tua hadir dengan rasa haru. Anak-anak tampil dengan penuh semangan dan pesona. Dan para pemirsapun menyaksikannya sebagai sebuah sajian Ramadhan yang nyaman di hati.

Saat ini saya tak ingin membahas : telah patutkah anak usia 4 tahun dipesantrenkan untuk menjadi seorang hafidz belia ? Karena yang ingin saya bahas adalah : sudah patutkah mereka mengikuti sebuah perlombaan serius ? Pertanyaan ini kembali mengggugah saya, saat melihat kaki-kaki mungil itu tampak gemetar di atas pentas, saat melihat wajah lugu yang gelisah, saat menyaksikan air mata dan kekecewaan harus melekat di wajah tanpa dosa karena harus tereliminasi.

Saya harus menjawabnya dengan terlebih dahulu membedakan rentang usia para bocah. Ada bocah berusia di bawah 7 tahun, dan ada bocah berusia 7 sd 12 tahun. Untuk bocah berusia di bawah tujuh tahun, harus saya katakan bahwa TAK SATUPUN LOMBA PANTAS UNTUK MEREKA.

Ini bukan usia lomba, ini bukan usia berkompetisi, ini bukan usia menang-kalah. Ini adalah usia individual, di mana setiap orang adalah pemenang, tak ada yang kalah. Mereka tak siap kalah… mereka tak pantas kalah… dan mereka belum perlu merasakan kekalahan. Karena Si A adalah Si A, tak perlu dibandingkan dan ditandingkan dengan Si B.

Sedangkan usia 7 hingga 12 tahun, ini memang usia lomba. Mereka telah berubah dari periode playing kepada gaming. Mereka sudah mengenal dan perlu diperkenalkan dengan perbandingan dan perbedaan. Sudah saatnya mereka tahu ada yang cepat dan lebih cepat, sudah saatnya mereka paham ada yang lemah dan yang kuat, sudah saatnya mereka untuk menerima kemenangan dan kekalahan. Bahkan, ini adalah usia di mana hukum rimba berlaku : siapa kuat dia berkuasa.

Tapi, perlombaan dan pertandingan yang cocok untuk mereka adalah fun and happy competition : memperlombakan sebuah permainan dan kelincahan masa kecil. Ya, bukan sebuah perlombaan yang serius, bukan perlombaan kompetensi atau perlombaan kehebatan. Ini adalah masa forming, bukan performing.

Ayahbunda… usia mereka masih panjang dan hidup ini bagai sebuah lari marathon. Jadikanlah mereka menjadi pemenang di akhir usianya. Jangan bikin mereka bagai sebuah kesebelasan sepakbola yang digdaya di babak penyisihan, namun malah babak-belur di babak maut, karena kehabisan energi dan motivasi.

```TANTRUM DALAM PERSPEKTIF PRAKTISI HOME EDUCATION```

```TANTRUM DALAM PERSPEKTIF PRAKTISI HOME EDUCATION```

Kamis 14 Juli 2016
Grup Bdg1 HEbAT on CBE

Notulen: Rasi Yugafiati

���� Kalo anak usia kurang dari 2 tahun atau yg kemampuan komunikasinya belum lancar, yg pertama dilakukan anaknya dipeluk. Kalo ga mau dipeluk, ditemenin aja disampingnya sambil ttp diajak ngobrol sambil cari ide buat mengalihkan perhatian ke hal yg disukai. Nanti kalo udah tenang atau si anak udah teralihkan, bisa diajak cerita lagi ttg kejadian yg tadi bikin tantrum. Kalo anaknya sudah lancar bicara, udah bisa diajak ngobrol,. Kalo pas tantrum, ya tetep aja diajakin ngobrol, ditanya baik2, sedihnya kenapa.

���� Berusaha sebisa mungkin ga jadi ikutan emosi ya hehe ��. Kalo yg saya pahami, anak2 tantrum itu salah satunya karena ya memang itu cara yg mereka baru bisa untuk mengekspresikan kemarahan, kekecewaan. Jadi cara handlenya ya secara bertahap berusaha membantu anak melogiskan kejadian yg dialami, lewat dialog, jaga intonasi, jaga emosi. Anak itu sensitif banget trhdp perubahan intonasi, meskipun pesan yg disampaikan baik atau tidak memarahi. Anak kan mencontoh kita. Kalo kita merespon kemarahan dg emosional, ngebanting barang, ya anak juga makin mencontoh. Dan percayalah...ini mesti sabar, karena anak belajarnya ga instant. Oh iya jangan lupa apresiasi anak kalo ada perkembangan dlm menghandle emosinya. Misal sebelumnya nangis sambil guling2, yg berikutnya cuma nangis aja..nah ini kasih pujian ke anak. Punten itu aja yg bisa dishare...ini juga masih perlu banyak belajar. #bapak1anak.

���� Sedikit nambahin, mereka anak anak sebenarnya ingin mengungkapkan sesuatu,ingin berkomunikasi dg kita, tapi belum tahu atau tidak tahu caranya bagaimana, sehingga yg keluar ya spt itu, dan ortunya memang harus extra sabar dan mencoba mengerti maunya anak apa��. Pelukan, Usapan lembut ke kepala atau punggung, bisikan dg kata kata bujukan, adalah beberapa cara yg kami terapkan ketika si.bungsu tantrum. Dan biasanya diakhiri dg minum air putih.

Saya dulu pertama juga begitu, ketika anak menyapih anak bungsu, si anak klo nangis dah heboh, tetangga ampe dateng nanyain, bwlum kalo tengah malam sering banget bangun dan nangis. Pikir kena apa gitu ampe dibaca bacain, lha ora ngepek��. Akhirnya setelah tau ilmunya, pelan pelan mulai bisa "menguasai" keadaan ketika hal tsb terjadi. "Komunikasi Produktif", "Bahasa bunda/ibu?", "Ilmu memeluk anak", 3 buku yg bagus untuk dibaca��

���� tantrum adalah cara bagaimana balita mengekspresikan luapan emosinya.. Tugas kita mendampingi & membantunya malabeli & meluapkan emosinya dengan bijak..
Children see children do, bagaimana orangtua meluapkan emosinya, itulah yg akan anak tiru dalam meluapkan emosinya..

Anak saya Usia 3 th, menurut teori sedang masa threenager yg emosinya meledak2. Alhamdulillah sependek pengamatan,  anak Kami termasuk kategori minim tantrum. Sependek ini, saya & suami mempraktekan konsep dasar menangani tantrum dr pak Angga Setiawan.
Ada 2 jenis tantrum:
1. Emosi (karena sakit, kecewa, lapar, capek dll)
Jika tantrum karna emosi, maka bantu melabeli emosinya & kita terima lalu salurkan..
Jika tantrum karena stra
2. Strategi (karena menginginkan sesuatu)
Maka ortu sebaiknya abaikan agar anak faham bahwa itu bukan cara yang tepat untuk meminta & tidak jadi kebiasaan..
Sebagai ikhtiar meminimalisir tantrum, Kami mengedepankan negosiasi sebagaimana disarankan bu Elly Risman & bu Septi.. Karena anak Kami masih 3 tahun maka Kami membuat Deal Board..

Deal board berisi poin2 kesepakatan antara kami & Lulu. Diawali dengan dialog "why" kenapa hal2 tsb perlu disepakati.. Lalu dibuatkan gambar sebagai ilustrasi (karna belum bisa baca), lalu di cap jempol tanda sepakat.. Hehe.  Seru2an karena dunia anak adalah bermain..

Salah satu kesepakatannya, jika lulu berbicara dengan berteriak/menangis maka bunda/Ayah tidak merespon..

1. Setelah mandi & sarapan boleh main sepeda diluar
2. Berbicara sambil berteriak atau menangis maka bunda/Ayah tidak merespon
3. Uang jajan sehari 2.000
4. Muraja'ah sebelum dibacakan cerita

Poinnya disesuaikan dgn situasi & karakteristik keunikan anak kami..��

���� Anak sy sebulan kmrn (lg ramadhan) sering bangun tiap malam dan nangis kenceng awalnya kaget tp spt halnya pak muji elmu meluk, bahasa bunda & komunikasi produktif jd solusi,

Wl sesekali ttp ngamuk & di pagi harinya fatimah anteng watados kyk g ada kejadian apa2 mlmnya ��

���� Tantrum istilah yg baru sy kenal krg lebih 2-3 thn kebelakang, sdgkan anak yg sulung sdh 10thn jd sy tdk menggunakan kiat2 mengatasi tantrum scra khusus klau anak2 emosinya sdg tdk stabil.

Sy menggunakan pola asuh orangtua (terutana mama) yg bliau terapkan kpd 5 anaknya. Orangtua sy cenderung "Minim Aturan". Beliau banyak memberi kebebasan pd anak2nya utk bermain, bereksplorasi, berelasi, berekspresi. Supportnya luar biasa jika anak2nya mau dan berani menampilkan apa yg disukai.

Ingat betul masa kanak2 km dipenuhi bunga2 keceriaan. Mama srg menceritakan masa2 kecilnya di kampung, sering menyanyikan lagu2 melayu dan daerah, klau mlm rame2 kami mendengarkan sandiwara radio. Mama jg rajin menginspirasi kgtn di rumah; bikin boneka kain, menyulam, bikin bunga2 dr kertas krep, bikin kue kering, dsb.

Eksplorasi di luar apalagi. Main di kebun rambutan, main di dlm got, main di sekitar kuburan masjid, eksplorasi di pinggir sungai yg ada buayanya. Bermain dg anak supir bajaj, anak warung, anak pak lurah, anak pak polisi, dll. Kuncinya, ortu berpesan agar kami saling menjaga.

Oya, ingat jg. Masa 0-2 thn kami berlima alhamdulillah full ASI, bhkn ada yg lebih. Alhamdulillah km berlima tdk ada yg tantrum (istilah sekarang), jd bisa dikatakan masa individualitas km tuntas.

Nah pola asuh tsb teh yg km terapkan pd anak2 saat ini, dg penyesuaian2 tentunya.

Di mulai sebelum nikah, benih2 fitrah orangtua sdh mulai ditanam.

Sy cuplik dr buku Prophetic Parenting, hal 67-75:
*Karakter Pendidik Sukses*
1. Tenang dan Tidak terburu buru
2. Lembut dan tidak kasar
3. Hati yang penyayang
4. Memilih yang termudah selama bukan dosa
5. Toleransi
6. Menjauhkan diri dari marah
7. Seimbang dan proporsional
8. Selingan dalam memberi nasehat.

Happy sharing��

MENJADI ORANG TUA AMANAH, BAGAIMANA CARANYA?

#4 MENJADI ORANGTUA YANG AMANAH, BAGAIMANA CARANYA?
.
Anak kita adalah amanah. Kita hanyalah fasilitator yang ditugasi memastikan ia mengenal tempat kembalinya : Allah swt.

Kita hanyalah babysitter terpilih yang ditugasi memenuhi kebutuhannya agar baik fisik dan jiwanya.

Lalu, bagaimana agar kita menjadi fasilitator yang baik?

Yang paling utama adalah terus mengenal diri sendiri dan mengenal anak kita. Mengenal perasaan diri sendiri dan anak kita, mengenal kecenderungan diri sendiri dan anak kita, mengenal pola pikir diri sendiri dan anak kita, mengenal kemampuan diri sendiri dan anak kita, mengenal tingkat dan jenis kecerdasan diri sendiri dan anak kita, mengenal gaya belajar diri sendiri dan anak kita, dan segala seluk beluk tentang diri kita sendiri dan anak kita.

Bagaimana caranya?

1. BACA BAHASA TUBUH DAN SAPA PERASAAN
Perhatikan baik-baik mimik wajah dan bahasa tubuhnya, terutama saat kita sedang bersamanya.

Dari mimik dan bahasa tubuh yang tertangkap, sapa perasaan anak kita.
“Wah, kayaknya lagi girang banget nih?”
“Duh mukanya kusut banget, BeTe di sekolah?”
“Bau acemmmm.. abis main bola ya? Capek banget dong”.

2. WAKTU YANG BERKUALITAS
Milikilah waktu bersama BERDUA SAJA dengan anak kita, minimal 2 jam setiap pekan. Dating time.

Manfaatkan kebersamaan itu untuk saling terbuka dan saling mendengarkan. Ngobrol.

Pastikan kita tidak berkomunikasi dengan siapapun melalui media apapun ketika sedang berdua saja dengan anak kita. Seperti buka whatsapp, buka facebook, buka sosmed lainnya, BIG NO!

Jangan disambil-sambil, bisa-bisa anak kita merasa tidak dihargai.

Kadang ada hal-hal yang kelu bagi anak kita untuk menceritakannya. Hadiahi ia buku diary yang hanya dia dan orangtua saja yang tau isinya.

Pada saat dating time, kita bisa membahas isi buku tersebut.

Apresiasi keterbukaannya pada kita. Beri semangat ketika ia membutuhkan. Terima ia ketika ia berbuat kesalahan. Dukung nilai perjuangan anak meski sepele apa yang dikerjakannya menurut kita.

3. FALSAFAH KI HAJAR DEWANTARA
Fasilitator yang baik adalah seperti yang dikatakan oleh Ki Hajar Dewantara : 

Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani.
Di depan memberi contoh/teladan, di tengah memberi motivasi, dan di belakang memberi dorongan/dukungan.

Fasilitator yang baik mengarahkan anak dengan teladan perbuatan, bukan perkataan. Elly Risman mengatakan 1 teladan bersuara lebih nyaring daripada berjuta kata-kata.

Allah swt pasti punya tujuan mengapa telinga kita diciptakan lebih banyak dari pada mulut kita. Dan ternyata menurut ahli komunikasi dunia, kata-kata hanya ditangkap 7% saja oleh yang mendengarkan!

4. MENDENGARKAN DENGAN HATI
Jika kita ingin anak kita patuh dan mendengarkan kata-kata kita, mulailah dengan mendengarkan perasaan dan kata-katanya.

Jika kita ingin anak kita melakukan sesuatu, mulailah dengan melakukannya terlebih dahulu. Anak kita bisa saja salah mengerti maksud kata-kata kita, tapi ia tidak pernah gagal meniru perilaku kita.

5. BERIKAN VALIDASI DAN APRESIASI
Fasilitator yang baik memotivasi anak dengan memberi validasi bahwa anak adalah BINTANG.

Setiap anak perlu diakui potensi dan kemampuannya yang unik, yang berbeda dengan anak lainnya maupun orangtuanya. Ia perlu diterima dan dihargai, bagaimanapun dan seberapapun kemampuannya.

Fasilitator yang baik juga selalu memberi dukungan berupa apresiasi dan kesempatan untuk mencoba atau melakukan sesuatu.

Beri dia kepercayaan untuk mengerjakan hal yang sesuai dengan kemampuannya. Misal, biarkan anak kita mengancingkan sendiri bajunya meski agak lama ia mengerjakan. Biarkan ia menalikan tali sepatunya meski panjang sebelah memitanya. Lalu, puji hasil kerjanya.

Jika rumah kita berantakan karena ia sedang asyik ‘mengerjakan proyek’ yang sedang menjadi minatnya, biarkan saja. Percayalah, saat ia beranjak remaja, kita akan merindukan masa-masa rumah yang superberantakan itu.

Validasi dan apresiasi tak selalu hadiah yang berupa materi, bisa juga pujian yang tulus dan pelukan yang hangat.

Pelukan tak hanya efektif membuat anak merasa diterima. Virginia Satir, seorang psikolog dan terapis keluarga mengatakan :
“4 pelukan dibutuhkan seseorang untuk bertahan hidup
8 pelukan dibutuhkan seseorang untuk memperbaiki diri dan hidupnya
12 pelukan dibutuhkan seseorang untuk tumbuh”

6. LIBATKAN DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Ketika akan membuat keputusan apapun tentang anak kita, libatkan dia dengan menanyakan pendapatnya.

Anak akan merasa sangat berharga ketika diminta pendapatnya meski keputusan akhir selalu di tangan orangtua.

Selain merasa dihargai, menanyakan pendapat anak dalam pengambilan keputusan dapat menstimulus kematangan otak bagian Pre Frontal Cortex (PFC), yaitu bagian otak yang membedakan manusia dengan binatang karena berfungsi membentuk kepribadian, menimbang benar-salah, baik-lebih baik, pengelolaan adab nilai dan moral, mengelola emosi, merencanakan masa depan, memperkirakan konsekuensi dari tindakan, serta pengambilan keputusan.

Dengan kata lain, melibatkan anak dalam pembuatan keputusan yang sesuai usia, misalnya dalam membuat menu selama seminggu, memilih pakaian yang akan dikenakan, memilih sepatu yang akan dibeli, dll, merupakan satu langkah memanusiakan kemanusiaannya. Tidak dijadikan robot yang siap menjalankan program.

Selamat menjadi fasilitator terbaik. Semoga Allah bangga dan memperkenankan kita memasuki surgaNya berkat susah payahnya kita menjaga amanahNya dengan baik :)

***
Di artikel selanjutnya, kita akan membahas tentang GUIDELINE apa saja yang dibutuhkan agar kita selamat dalam menunaikan amanah dari Allah ini. Guideline ini adalah pondasi yang menjadi landasan pengasuhan kita, bukan tips praktisnya.

Mulai 14/06/16, kami akan memposting serial artikel parenting setiap hari Selasa dalam folder foto “SERIAL PARENTING with Kakatu dan SEMAI2045”.

Silakan dibagikan kepada saudara, sahabat, dan orangtua dari teman anak-anak kita jika mendapat manfaat dari artikel kami. Because sharing is caring.

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1408664195827428&substory_index=0&id=221502844543575

Kamis, 16 Juni 2016

TIPS BUAT IBU YG LG GALAU KARNA ANAK GAK MAU MAKAN BY SARRA RISMAN

Qadarullah, anak kedua saya bule. Bukan karena rambutnya pirang atau matanya biru, tapi karena dia bukanlah pemakan nasi seperti manusia indonesia pada umumnya. Dari mulai awal MPASI, kalo di kasih nasi, dalam bentuk apapun (bubur, apalagi normal) langsung di lepeh atau dimuntahkan. Uniknya anak ini tau bangeett itu nasi, mau di umpetin kayak apa juga, gak ngaruh. Nah karena nggak makan nasi ini, asupan makanan lainnya jadi sgt berkurang jauh.

Seperti biasa.. kalau menemukan anak Indonesia yang tidak mau makan nasi, sekeluarga besar langsung panic gak karuan. What’s wrong???? Kok kakaknya pemakan segala (baca: nasi dengan semangkuk tumis kangkung aja hepi), adiknya kok bisa bule beginih? Apa karena kulitnya agak putihan dikit, lantas selera lidahnya menyesuaikan diri? Nggak mungkin kan. Secara emaknya aja putih.. tetep makan nasi kok.. (#eaaa)

Neneknya, karena nggak pernah punya cucu bule sebelumnya, dan punya hobi masak yang luar biasa, mulai memutar otaknya dan membuat makanan dari yang umum sampai yang sy nggak pernah dengar di telinga: bola-bola nasi abon goreng tabur mesis. Maklum, namanya juga orang panik. Cucunya? gak mau juga. boro2 abis dua, masuk segigit juga nggak..

Setelah neneknya kehilangan ide untuk memasak makanan yang mengandung nasi dengan harapan cucu bule ini akan finally makan nasi, mulai deh emaknya di dorong2 untuk ke dokter. Karena anaknya tidak ‘normal’ spt manusia Indonesia lainnya, maka dia di anggap ‘sakit’. Dan orang sakit, kudu ke dokter dong. Karena masalahnya di seputar makanan.. jadi kita ke dokter dengan subspesialisasi terdekat dengan makanan… pencernaan.

Saya menyambangi 2 dokter anak spesialis pencernaan paling terkemuka di 2 rumah sakit besar yang berbeda di Jakarta. Dokter 1 kasih some kind of puyer yang magical, walaupun nggak bisa membuat kaizan makan nasi, tapi ya lumayan, nambah selera makannya. Dokternya bilang kalau sudah habis, balik, di ksh puyer sesi 2. Dan puyer sesi 2 gagal. Kaizan balik ke nggak mau makan dan tetep nggak mau makan nasi. Memperpendek cerita, prosesi dokter 2 persis sama dengan dokter 1. Persis.. sis…sis. Mana kalau dokter se’kaliber’ itu nunggu antriannyaaa…. Udh kyk di padang mahsyar rasanya #soktau. Diagnosa akhirnya sama: “anak ibu bule. Kebetulan saja ibunya bukan. Tmn saya nggak makan nasi sampe sekarang, idup juga, jadi dokter juga. Jadi don’t worry”

Lantas apakah neneknya merasa itu jawaban yang cukup? Tentu tidak. Kita akhirnya menyepakati ke SATU dokter lg, untuk nyari THIRD opinion. Akhirnya saya ke dokter ‘favorit’ sy. Dokter ini sy temui kalau ‘all else fails’. Ketika saya bawa kaizan ke dokter ini, dia tanya.. mau imunisasi bu? Sy blg nggak. Dia cek lg medical recordnya, berat badannya mungkin relative kurus tapi nggak lah tinggal tulang, tinggi badan oke, suhu normal. "Jadi anak ibu kenapa", tanya nya?
Saya bilang, “dia nggak mau makan nasi dok. Sama skali. Dan kalau makan sedikit banget. Kenapa ya dok. Saya takut anak saya kurang gizi.”

Dokter itu melihat saya dengan pandangan “seriously??” (jika di translate ke bahasa alay jadi “Ciyus lo?”) .Setelah dia diam beberapa saat, dia mulai paragraph panjang yang sampai sekarang tidak akan saya lupakan (tentunya penjelasan di bawah nggak akan plek2 perkata, karena selain kejadiannya udah lama bgt, itu dokter lulusan luar kayaknya, jadi bahasanya setengah ng-inggris gitu, jadi kalau translationnya beda2 dikit, maklumi saja lah ya..):

“Bu., anak tidak mau makan disebabkan oleh DUA hal.
1. Dia emang bukan pemakan. Ada orang yang hidup untuk makan. Ada yang makan untuk hidup. Tipe pertama akan menghabiskan banyak waktu, uang dan tenaga untuk memanjakan lidah dan perut mereka. Karena mereka SUKA makan. Tipe kedua tau kalau mereka nggak makan, mereka mati. Jadi ya… terpaksa makan. Ibu umurnya berapa? Katakan 30. Emang semuaaaa orang yang usianya 30 seperti ibu? memiliki selera makan seperti ibu? Memiliki badan sebesar ibu? Nggak kan. Ada yang lbh kurus dan ada yang lbh gemuk. kenapa anak ibu harus sama dengan semua anak 2th lainnya? Mungkin he’s simply not an eater aja.
(dlm hati sy.. eh.. ini ayahnya kaizan banget. Kalau saya mah hidup untuk makan.. tapi ayahnya makan murni untuk hidup doang. Makanya kyknya badan kami kayaknya sesuai ukuran lambung masing2. Huks.)

Alasan ke:

2. Adalah karena IBUNYA MAKSAIN DIA MAKAN MULU!!!. Setiap jam di tawarin makan. Kadang setiap setengah jam, panik nggak karuan. Belum susunya seabrek2. Trus cemilan. dibikinin A nggak mau. Trs bikin B deh, tawarin lagi. Di sogok, di rayu, di paksa. Bayangin deh bu nggak enaknya. Coba ibu digituin, di tawarin untuk makaaaaaaaaaannn mulu. Kadang udah nggak 3x sehari lg.. hampir setiap waktu! Lagian sy nggak ngerti kenapa harus 3x sehari. Orang jam lapernya kan beda2. Saya laper sekarang masa saya paksa ibu untuk laper sekarang juga? gak masuk akal
(dalam hati saya.. eh.. ini mah guwe banget. Maksa2 ga karuan. maapin mama ya Kai)

“Ibu tau kenapa para ibu begitu ke anaknya?” lanjut dokternya

Karena mindset nya mindset kuno! mereka membesarkan anak mereka dengan cara mereka di besarkan: Harus 4 sehat 5 sempurna . padahal kita sudah nggak pake itu lagi. Dan alasan yang paling besar kenapa para ibu suka maksa anaknya makan adalah PARA IBU DI TEKAN OLEH SEKELILINGNYA, ya ibunya (nenek si anak itu), iparnya, tetangga, suami, untuk memastikan anaknya sehat, lucu dan gendut. Padahal gendut itu justru nggak sehat. Anaknya sedikit susah makan, neneknya mulai deh nyindir, belum tantenya yang endlessly ngebandingin sama anaknya yang seusia, ugghh..

Jadi anak ibu Sehat. Cukup. Ibu tau nggak anak segini kalau seharian cuma makan bbrp sendok alpukat saja itu gak papa. Ibu tau, di alpukat itu ada banyak sekali gizi yang memadai untuk energy anak sehari. So don’t be too worry lah.
(dalam hati saya… rasanya pengen punya buraq dan seketika bawa mama saya ke ruang dokter itu biar beliau dengar sendiri)

Hari itu saya pulang dengan amunisi dan penjelasan menyenangkan yang bisa di terima logika saya.. dan untuk sekitar saya pula yang.. suka sekali menawarkan anak saya untuk makan.. setiap waktu.

Anak di bawah 7 nggak akan mogok makan berhari-hari. Dia PASTI makan. Kalau dia bisa nggak makan SAMA SEKALI selama 12 jam, sudah bisa ikut puasa ramadhan dong. Jadi mereka pasti makan. Masalahnya terletak di DIA MAKAN HAL2 YANG IBU TIDAK ANGGAP ITU MAKANAN. karena emaknya org endonesah, jd kl anaknya blm makan nasi ama lauk di hitungnya belum makan mulu kalo cuma makan bolu, donat, roti, susu dan cuil2 tempe. Padahal di bolu itu sudah ada tepung (karbo), telur (protein). Betul, bentuknya tidak seperti nasi yang ibu konsumsi, tapi kalau ibu bukan bule, masa anaknya nggak blh jadi bule juga? Kalau anak kita idungnya nggak mirip kita. Atau matanya.. apa kita paksa? Nah, sama aja. Kalau selera makannya berbeda, kenapa juga kudu di paksa sama?

Jadi si bule saya sekarang saya biarkan jadi ‘bule’. Pagi makan pukis, sereal atau roti. Siang kadang jagung pake susu dan keju atau tahu bakso, tempe, ayam, jamur or whatever yang ada dikulkas dan di atas meja. Malam kentang goreng, keripik singkong, martabak keju, roti canai pake dan mentega. Karena agak susah masuk sayurnya, jadi dia ganti sama buah. Dia super frutarian. Semua buah dia lahap dengan cepat dan sukacita. 1 melon kadang gak sampe 2 hari bisa bertahan di rumah. Kebayang kan budget saya untuk buah2an sebulannya, untung neneknya sekarang, setelah memahami bahwa cucunya satu ini bule, hobi sedekah buah utk kita. Hahahaha..

Selama dia cerdas, tumbuh, dan berat badannya .. yaa.. cukuplah, untuk saya kebahagiaan yang dia rasa untuk makan apa yang dia suka dan tidak membahayakan dirinya lebih penting dari apa yang masuk setiap saatnya. Toh kalau dia lapar, dia akan cari makan. Kalau makanan yang dia makan krg bergizi, itu murni salah saya memfasilitasi. Karena kalau barangnya nggak ada, nggak mungkin kan dia bisa konsumsi.

So saya menularkan ilmu dokter tersebut ke semua ibu yang stress berat di tekan dari segala penjuru hanya karena anaknya kurang makan. Selama anak ibu sehat, ceria, aktif dan tumbuh sesuai porsinya, kurang2 dikit dari KMS, don’t worry too much lah. Kan kata hadistnya “Tidaklah anak cucu Adam mengisi wadah yang lebih buruk dari perutnya. Sebenarnya beberapa suap saja sudah cukup untuk menegakkan tulang rusuknya. Kalau toh dia harus mengisinya, maka sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga lagi untuk bernapas.” (H.R. Turmudzi, Ibnu Majah, dan Muslim). dan sunnatullah, gk pernah salah kan ya?

Jadi berhentilah. Berhenti menawarkan, merayu apalagi menyuapi. Berhenti membiarkan diri di tekan oleh orang2 yang bahkan tidak melahirkan anak ibu. Dan jika anda adalah suami, nenek, tante dari anak yang berbadan kurus.. berhenti juga. Berhenti menekan ibu anak itu untuk terus menyuapi anaknya. Kasian. Kasian ibunya.. apalagi anaknya. Tanpa anda tekan, ibu itu sudah cukup khawatir sama kekurusan dan selera makan anaknya. Tanpa anda tekan, dia sudah berjuang sepenuh jiwa raga agar anak itu tetap makan, sehat dan bahagia. Apa anda pikir ibu itu tidak berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan yang terbaik untuk anaknya? Tanpa anda tekan, ibu itu pasti kasih makan anaknya, dan anaknya pasti akan minta makan ketika lapar. Wong bayi baru lahir saja sudah tau harus menangis jika perut terasa harus diisi. Apalagi bayi2 yang sudah lebih gedean lagi. so don’t worry. Mereka akan makan…eventually.

Makan itu adalah aktifitas yang akan harus dia lakukan seumur hidupnya sampai dia mati. Jadi pengalaman yang berhubungan dengan makan harus menyenangkan hati. Kalau mereka makan  yang mnrt ibu bukan makanan untuk umumnya orang Indonesia, biarkan sajalah. Berarti mungkin ibu juga punya anak bule, seperti saya.

#sarrarisman

*jika dirasa manfaat, tidak perlu izin utk membagikan artikel ini

Jumat, 10 Juni 2016

Psycho Coffee Morning ☕ Oleh : Ani Ch, penulis buku & pemerhati pendidikan keluarga Badai Pernikahan

Psycho Coffee Morning ☕
Oleh : Ani Ch, penulis buku & pemerhati pendidikan keluarga
Badai Pernikahan (Bag 1)

⚡��⚡��⚡��⚡��⚡��

Pernikahan  ini sangat membahagiakan Kiki..krn..hanya bbrp bulan stelah menikah dia telah hamil..namun, baru saja kbahagiaan itu datang..duka lara telah menyapa biduk rumah tangganya..

"Ya udah, mbak.. Ini emang janin nya jelek, jd di'reject' oleh tubuh. Besok kuret ya" je deeeng...apa itu kuret? Kok dsog dg santai bilang..spt meresepkan obat saja..

Ternyata itu sebuah tindakan bedah, pengerukan dinding rahim..krn yg terjadi, aku telah kehilangan janinku..makanya rahimnya harus dibersihkan...rasanya kiki & suami sangat kehilangan.. apalagi ini hamil yg pertama

Setelah keguguran yg pertama, Kiki ekstra hati2..krn pernyataan dokter setelah tes macem2, Kiki terindikasi kena virus rubela meski tdk parah..

Kiki hamil lagi tak sampè setahun kmdn. Hamil yg ini sulit sekali, tdk bisa bangun krn mual hebat.

Setelah putri pertamanya lahir & berumur 1,5 tahun, Kiki hamil lagi...keguguran lagi, utk kali kedua. Dikuret lagi yg sakitnya luar biasa..9 bulan kemudian Kiki hamil lagi...dan itu terjadi lagi.. keguguran yg ketiga..dikuret lagi..Kiki sempet menyalahkan diri sendiri, mrasa kurang menjaga kesehatan ato bagaimana kok bs keguguran terus, tp suaminya bilang klo inilah jalan yg harus mereka lalui. Entah bagaimana, spt otomatis terjadi pengertian dr pasangan, "Memang blm waktunya saja kita pnya anak lagi" Kiki yg beraliran 'drama' & suka kepikiran macem2 jd tenang & bersyukur mendapati suaminya berpikir realistis, shg dia tdk bgtu tertekan atau sampai depresi dan mreka bisa ikhlaskan apa yg terjadi. Akhirnya mreka pasrahkan smua, gak ngoyo lagi utk punya anak. Eh Lha kok justru ketika gak mikirin lagi, saat itulah dikasih hamil oleh Allah..hamil yg lancar. Ternyata badai pernikahan berupa keguguran berkali2 itu membawa hikmah..baru terasa ketika sudah berlalu.Hikmahnya adalah Kiki merasa tambah deket dg suaminya, dan jg lebih dekat sama yg Di Atas..

⚡��⚡��⚡��⚡��⚡��

Badai Rubela juga mnyerang Aulia..dan yg menyedihkan baru dia tahu ketika putri pertamanya lahir..bayi mungilnya selalu sakit2an..berbagai macam alergi telah dideritanya..so, Aulia harus jadi pemilih makanan..salah makan sedkit, ASI yg jd asupan si bayi..langsung memicu alergi..duka lara menyapa lagi, ketika putrinya berumur 2 tahun terindikasi masalah penglihatan..maka anak umur 2 thn ini pun harus berkaca mata, menurun terus penglihatannya tiap bulan..kebutaan jd ancaman bagi putrinya..Aulia begitu tertekan..takut, makanya sejak umur 2 th itu dia nge drill anaknya baca tulis hitung..takut makin parah jika tambah usia..di tengah jibaku nya utk mengajari anaknya..dia hamil lagi..dan baru tahu bahwa masih ada virus rubela dlm dirinya..anak kedua ini bisa jadi punya masalah ketika lahir..tapi Aulia mempertahankannya..putra keduanya lahir..baik2 saja..lega rasanya aulia...

Tapi kembali keresahan datang, umur 2 tahun anaknya menunjukkan perbedaan dg anak seusianya..motoriknya tdk bagus, belum bisa bicara, dan tenaga media menyatakan ada bbrp tanda dr sindrom autisme yg ada pd putranya...

Dunia serasa runtuh, punya dua anak berkebutuhan khusus adalah suatu yg tdk pernah dibayangkannya.. dan pd satu titik begitu depresinya, dia tdk pergi kemana2, tdk menemui tenaga medis lagi, tdk mencarikan treatmen utk anak2nya..di rumah saja, dia rawat anaknya sehari2 spt merawat anak biasa..

Sampai suatu hr, suaminya yg karyawan swasta memutuskan utk keluar dr perusahaan..dan memulai wirausaha di rumah. Suaminya bilang, dia ingin punya lebih banyak waktu utk mengurus anak2nya..Aulia yg sudah begitu depresi dg kondisi kedua anaknya, tiba2 punya semangat lagi, dan mulai penjajakan tempat2 treatmen utk anak2 berkebutuhan khusus..kemana2 mreka datang lengkap ber-4, ayah ibu dan 2 anak..maka dimulailah terapi2 intensif bagi anak2 mereka..dunia yg seolah2 pernah runtuh itu seakan bersinar lagi..

⚡��⚡��⚡��⚡��⚡��

Teman...akan datang badai-badai dalam sebuah perjalanan pernikahan..dan cara menghadapi badai adalah dg kesolidan dua insan suami & istri..jika keduanya saling mengerti, saling memhami, saling bekerja sama..badai apapun akan teratasi..

Teman, anak2 yg awalnya jadi sumber anugerah ternyata menjadi sumber masalah dlm rumah tangga..bisa jadi bagian badai yg datang menyerang...tetapi bagaimana pun anak2 tetaplah anugerah..tetaplah amanah yg harus kita syukuri..dan kita usakan yg terbaik utk perawatan & pengasuhannya..

☕ Psycho Coffee Morning ☕

Oleh : Ani Ch, penulis buku & pemerhati pendidikan keluarga

Badai Pernikahan (Bag 2)

⚡��⚡��⚡��⚡��⚡��

Andi & Nana nekad menikah di usia muda, blm 20 tahun usia mereka. Mreka ingin buktikan cinta mereka tulus, bukan spt muda mudi yg suka pacaran.

Tdk hanya nekad menikah, mreka juga nekad menolak tinggal di rumah orangtua, baik ortu Andi maupun Nana. Andi anak kluarga kaya raya, ingin buktikan dirinya bisa hidup tanpa mengandalkan kemewahan dr kluarganya, tp bisa mhidupi istrinya dr usahanya sendiri.

Sikap nekad menolak bantuan mertua jg konsisten dilakukan, Andi percaya cinta & kebersamaan mreka akan menyelesaikan masalah. Ternyata tdk spt film2, badai ekonomi mulai menyerang mreka. Gaji Andi tdk cukup utk bayar kontrakan rumah sederhana mreka, inipun dg ancaman jk mreka tdk segra bayar dimuka utk satu tahun, mreka hrs pergi dr rumah itu, padahal mcari utk dpt rumah semurah itu, mrk sdh kliling kota, jk pergi akn sulit skali mcari lg. Dan ternyata, uang mrk jg tdk cukup utk belanja harian, mrk hnya mkan roti bbrp hari. Dan akhirnya Andi mulai marah2 ketika di rumah. Pertengkaran tdk terhindarkan, Nana merasa Andi krg berhemat, Andi merasa Nana tdk membantu. Kata2 cinta pengantin baru jd kata2 kasar mnyakitkan hati.

Dan suatu hari, mreka berdebat dijalanan..Nana lari di trotoar & akhirnya duduk tersedu2, menyalahkan dirinya sendiri, kenapa mreka menikah muda. Andi tersadar jk istrinya tertekan..dan mulai minta maaf.

Stelah bermaafan & saling berjanji akan mngatasi segalanya berdua..dan ternyata mmg smua baik2 saja, Nana mdpat pkerjaan, gaji mrk berdua ckup utk mbangun hidup baru.

⚡��⚡��⚡��⚡��⚡��

Pak Shodiq meminta istrinya yg bkerja utk berhenti, utk fokus mrawat kedua anaknya di rumah. Anak pertama ringan utk diasuh krn cerdas, penurut, tdk byk berulah...Anak yg kedua umek, susah belajar, main saja..Bu Shodiq mulai berhemat, krn skrg dia tdk punya phasilan, tdk ada baju baru..tdk ada jalan2, tdk ada urusan mempercantik diri.

Tdk brapa lama..Pak Shodiq mmutuskan kluar dr pabrik tempat dia bkerja, katanya ada yg tdk sreg..byk komisi2 tdk jelas..takut itu haram. Pak Shodiq memutuskn buka lapak, berdagang..kulak dijual..kulak dijual..Modal utang sana sini..belumlah usaha dagangnya mapan..Bu shodiq hamil..hamil yg tdk direncanakan..mrka sempat takut phasilan p shodiq tdk akan ckup. Skrg, tdk hanya kebutuhan sekunder, kebutuhn primer spt makan pun..mreka harus berhemat..ribut2 kecil mulai terjadi..sampai ribut2 besar..tekanan ekonomi seringkali memang jadi ujian cinta. Ketika bertengkar soal uang, sptnya rasa cinta hilang entah kemana.

Ketika anak ketiga lahir..barulah terasa kbersamaan..awal datangnya spt mbawa beban..ternyata ketika lahir mbawa keceriaan..Pak shodiq kembali semangat berdagang..dan bbrp tahun kemudian usahanya mapan..

⚡��⚡��⚡��⚡��⚡��

Teman, barangkali setiap keluarga perlu ngerasain 'turun', perlu 'jatuh' sesekali..
biar tahu sebelumnya banyak hal yang perlu disyukuri...biar bangkit ..Biar lebih 'nanjak' lagi stelah jatuh..

Teman, urusan finansial memang jadi jenis badai di bnyak keluarga..sangat mudah memicu pertengkaran...tapi haruskah urusan uang mengalahkan cinta? Tssaah..emang mau makan cinta..ya nggak lah..tapi cinta kan bisa jadi energi utk mencari makan..hehehe...

☕ Psycho Coffee Morning ☕

Weekend Edition for Family

Oleh : Ani Ch, penulis buku & pemerhati pendidikan keluarga

Badai Pernikahan
(Bagian 3)

��⚡��⚡��⚡��⚡��

Hipokalemia..adlah vonis medis untuk putra bungsu kluarga Subrata (bukan nama sebenarnya). Kadar kalium yang rendah dalam tubuhnya menjadi ancaman bagi keselematan. Dlm kondisi kelelahan, emosi labil, daya tahan tubuh menurun, maka resiko terbesar yg mungkin terjadi adalah kelainan kecepatan denyut jantung, aritmia jantung dan gagal pernafasan akut dari komplikasi kelumpuhan otot yang mengancam jiwa membutuhkan penanganan segera.

Maka, ketika putra bungsu mereka nampak lelah..langsung dibawa ke UGD, jika kadar kalium rendah, maka alamat opname. Dan mereka jalani selama bertahun2, hampir 2 bulan sekali anaknya opname. Rumah sakit telah jadi bagian dr kehidupan kluarga ini.

Bu Subrata jadi pencemas, sgala hal yg bikin anaknya capek dihindari..nggak boleh spt anak2 lain yg suka lari, nggak boleh spt anak lain yg bisa makan apa aja, nggak boleh spt anak lain bisa main apa aja...semuanya harus ikut aturan, tapi apapun boleh minta asalkan bukan suatu yg akan bikin capek...semuanya TERBATAS bagi anak...maka si anak jadi pencemas juga, tapi juga egois karena keinginannya sering dituruti dlm rangka menjaga 'emosinya bagus' agar kalium tdk drop.

Teman, seringkali saya amati banyak orangtua yg mdapat vonis medis bagi anaknya  menjelma menjadi bapak ibu yg pencemas, sensitif dan memanjakan. Cemas yg membuat waspada mungkin masih positif. Tapi vonis semacam gangguan dengar, kelainan jantung, kelainan hormon, kelainan mata, kelainan tulang, dsb seringkali membuat para ortu jd cemas berlebihan & tak terkendali..padahal dlm kondisi super cemas ini, proses pengambilan keputusan jadi emosional..dan sikap memanjakan jadi menimbulkan masalah2 baru.

��⚡��⚡��⚡��⚡��

Bu Suprata menjalani ujian berat ketika memasuki usia 10 tahun pernikahan mereka..Pak Suprata yg masih berusia kepala 3 terkena serangan stroke & lumpuh sebagian tubuhnya..maka Bu Suprata harus berjuang mendampinginya dlm masa pengobatan, dan ketangguhan serta kesabarannya telah menjadi kekuatan tersendiri. Sayangnya kekuatan ini digerogoti oleh Pak Suprata yg menjadi emosional..tentu saja menjadi penderita stroke tdk mudah, menerima dirinya yg sedang di puncak karir, menikmati anak2 yg mulai tumbuh besar dg kondisi kelumpuhan..tentu saja tdk mudah...bahkan untuk makan, berpakaian & ke kamar mandi pun dia harus dengan bantuan...belum lagi pengobatan rutin, serta proses terapi yg panjang.. tentu saja tdk mudah..

Teman, seringkali saya dapati pasangan yg salah satunya harus memberikan dukungan untuk menerima vonis medis, rata2 berusaha mengumpulkan ketangguhan diri juga harus menumpuk stok sabar yg luar biasa utk tetap mendampingi pasangan yg bisa jadi tdk mudah menerima sakitnya..

��⚡��⚡��⚡��⚡��

"Aku sakit hati betul...kenapa tdk diajak bicara waktu Putra sakit..aku memang bukan ibu kandungnya, tp aku yg membesarkan dia..seenaknya sbg istri dia mengambil keputusan sendiri, gak ngomong2 kluarga besar..awas ya..kalau terjadi apa2 sama Putra..dia bakal kutuntut" Inilah sebuah potongan dialog telepon penuh nada marah yg kudengar di dalam ruang lift, pd satu hari diantara hari2 aku mendampingi adikku di rumah sakit. Satu hal yg sangat menyedihkan ketika sebuah kluarga mhadapi pengobatan medis adalah adanya gangguan eksternal tak terduga..konflik kluarga..ttg cara penanganan, ttg komunikasi, dan lain2. Kondisi yg sangat tdk mendukung si sakit..

��⚡��⚡��⚡��⚡��

Teman..badai berupa hadirnya vonis media yg menimpa kluarga kita adalah badai yg bisa jadi terasa berat..

Lihatlah cerita2 di atas..sakitnya sendiri adlah smua masalah..tetapi sikap2 dari yg sakit maupun kluarga yg mendampingi ternyata juga berpotensi msalah..

Keyakinan bahwa segala penyakit ada obatnya, insya Allah, adalah yg utama perlu dibangun..setelah itu perlu pengelolaan emosi untuk menerima kondisi sakit..serta menumbuhkan semangat juang untuk berikhtiar dlm pengobatan. Ini berlaku bagi yg sakit maupun keluarganya..maka ketangguhan & kesabaran akan hadir setelah itu..

☕ Psycho Coffee Morning ☕

Weekend Edition for Family

Oleh : Ani Ch, penulis buku & pemerhati pendidikan keluarga

Badai Pernikahan
(Bagian 4)

��⚡��⚡��⚡��⚡��

"Kenapa mama sama papa pisah?" tanya seorang padaku dlm sebuah sesi konseling..
"Iya sayang...kalo mama papa satu rumah, mreka jadi bertengkar kan..mreka jadi marah2..mreka jadi sedih..tapi kalau mreka pisah rumah, kan jadi nggak marah2..nggak sedih"
"Iya..tapi aku yg sedih..kalo aku sama mama, jadi kangen papa. Kalo aku sama papa, jadi kangen mama"

Teman..perpisahan antara suami dan istri..adalah badai besar...dan beraaaat sekali dlm sebuah pernikahan..

Pasangan suami istri bisa bercerai krn salah satu atau keduanya sudah tdk tahan dg sikap/perilaku pasangannya, ada yg merasa sangat berbeda & tdk bisa bersatu lagi, ada yg merasa sudah dikhianti, dan berbagai alasan lain. Apapun alasannya, jika masih dalam proses akan berpisah..sebaiknya dipikir masak2 dulu..dan orang2 terdekat di sekitarnya, harap berfokus pada mediasi agar tidak jadi berpisah..krn terkadang komunikasi buntu antar sepasang suami istri, bisa ketemu jalan kluarnya jika dibantu oleh orang lain.

��⚡��⚡��⚡��⚡��

Jika sudah terlanjur berpisah...berikut ini bbrp masalah yg mungkin timbul setelahnya...
⚡Konflik dalam memperebutkan harta benda
⚡Konflik dalam memperebutkan hak asuh
⚡Konflik dlm pembiayaan kebutuhan anak stelah perpisahan
⚡Konflik diri anak yg berkepanjangan krn tidak siap ortunya berpisah.

3 konflik pertama sebanrnya 'relatif bisa didiskusikan' dalam kondisi  kepala dingin..krn jika sepakat perpisahan adalah solusi..harusnya 3 konflik diatas bisa dibicarakan...tapi konflik yg terakhir akan sulit dihindari krn anak2 bgtu dinamis..

Naaah..tuh kan..banyak banget dong masalahnya..makanya perpisahan pun harus dilakukan dg 'kepala dingin' agar tdk ada konflik lanjutan..krn seharusnya jika memang tdk ada jalan lain, perpisahan harusnya 'jadi solusi' agar kondisi lebih baik bukannya menciptakan kondisi yg lebih buruk.

Agar konflik keempat tdk begitu meledak, maka pengelolaan emosi & mental anak adalah yg paling krusial utk dilakukan stelah proses perpisahan orangtua..Anak perlu diyakinkan bahwa dia akan tetap punya 'ayah & ibu' walaupun keduanya tidak tinggal satu rumah lagi..Anak perlu diyakinkan bahwa kasih sayang kedua orangtuanya tidak akan berubah. Bagaimana caranya...huuuuft..panjang cerita..krn pengalaman saya mndampingi perpisahan banyak kluarga sangatlah berat...selalu berliku..kapan2 kita bahas lagi..

Krn saya sebenarnya menulis ini...sungguh tdk dalam rangka mendukung perpisahan sbg 'solusi' dr badai dlm pernikahan...tetapi malah dg terang2an saya sampaikan ini adlh 'usaha utk menakuti' para pasangan yg masih bersama utk waspada..badai apapun dlm pernikahan harusnya bisa diselesaikan bersama..dg mengingat komitmen ketika awal menikah..dg mengingat segala kebahagiaan yg pernah dirasakan..seharusnya badai apapun dlm rumah tangga bisa diatasi tetap dlm kebersamaan..

⏩⏩⏩⏩⏩⏩⏩⏩⏩
For web version, please visit this,
www.psychocoffeemorning.com

----Tanya Jawab----
#Tanya 1:  Sayidah IIP SBY-2
Assalamu'alaikum Bu Ani.
3th lalu anak pertama kami lahir dg keadaan bocor jantung besar (Giant PDA), biasanya terjadi karena ibu terkena virus rubella pada waktu hamil, tp berdasarkan hasil tes, saya tidak. Memang saat seperti ini terjadi konflik emosi yg berat pd kami selain penyakit itu sendiri. Yaitu tentang biaya perawatan dan saling menyalahkan. Saya sangat sakit hati karena suami sempat menyalahkan kegemaran saya makan lalapan (sayur mentah), padahal saya bahkan gak tega meng-iya-kan saat dia bertanya2 apakah ini dampak dari kebiasaannya merokok. Sejak sebelum menikah saya sudah memintanya berhenti tapi diajukannya kondisi2ttt sebagai syarat, yg selanjutnya meskipun syarat itu sudah terpenuhi tetap tdk berusaha berhenti merokok. Sudah berkali-kali kami berdiskusi ttg masalah ini tapi tak pernah ada titik temu karena menurutnya rokok berbahaya hanya bagi orang yang menyakini demikian. Syukurlah anak kami bisa sembuh total dalam waktu singkat tanpa operasi (rasanya bagaikan mukjizat, menurut ilmu kedokteran hal ini tidak mungkin). Saat ini keluarga kami stabil, tapi tersimpan dlm benak saya keinginan untuk tidak lagi memiliki anak sebelum suami berhenti merokok. Tapi pikiran ini tidak pernah saya sampaikan secara terang2an. Menurut ibu, apakah ada langkah yang lebih tepat yang dapat saya lakukan? Karena selain hal ini tidak ada masalah lain dalam rumah tangga kami.
Terima kasih.
Jawaban 1 :
Waalaikumsalam ibu...
Dalam menghadapi badai pernikahan, aka konflik antar suami istri...ada rumus umum yang disarankan untuk ditempuh ketika komunikasi suami dan istri sudah kurang efektif..artinya istri mencoba menasehati suami ini itu, sepertinya tidak mempan. Maka di saat inilah kita butuh pihak ketiga..suami hanya akan bisa dinasehati oleh orang lain.
Banyak kasus suami istri belum punya anak mengalami kasus yg sama..suami menyalhkan kebiasaan istri yg suka makan pedas dan istri menanggap kebiasaan merokok yg bikin mreka gak punya anak.
Siapa pihak ketiga yang harus dipilih : al amin...yg dapat dipercaya.
Jika orangtua salah satu, dr pihak laki2 ato perempuan adalah pihak yg bijaksana, minta tolonglah pada mereka utk menasehati. Jika tdk ya cari yg lain. Jangan berusaha terus menerus mencari cara menasehati suami sendiri.
Hal lain yang akan membantu...jadilah istri yang baik...yg melayani suami tanpa mengeluh...selalu bereskan urusan rumah tangga..istri2 baik seringkali malah membuat 'hati suami bergerak'

#Tanya 2: Shanty IIP Sby 1
Sebaik2nya curhat adlh pada Allah. Kapan kita tau kita perlu mediasi/pihak ke-3 untuk membantu?
Jawaban 2 : Waah...itu ukurannya ada di sanubari masing2...tapi kalau ingin yakin..istikharah dulu aja..jadi tanya sama Allah..nggak sama bu ani...hehehe...

Shalat..lalu berdoa...Ya Alah apakah sdh saatnya cari mediasi..insyaAllah nanti ada jawaban

#Tanya 3. Ibupembelajar. IIP Sby 1
Bu ani, bagaimana cara kita mengurangi rasa ketakutan yg berlebih terhadap sebuah perpisahan ? Karena misalkan, latar belakang keluarga kita pernah mengalami seperti itu. Kedua, bagaimana juga mengatasi perasaan kepada orang tua karena dianggap blm memberikan contoh berumah tangga yg baik kepada anaknya, terutama ayah yang tidak memberikan peran secara penuh dalam mendidik anaknya. Lalu ketika anaknya berumah tangga, si anak (perempuan) merasa dihantui ketakutan suatu saat anak2nya akan mengalami hal yg sama
Jawaban 3: Ya perasaan itu saja yang harus dihilangkan...mari berpikir positif...
Bagaimana agar berpikir positif? Selalu ingat Allah...lalu selalu berbuat kebaikan..dan yakin kebaikan kita akan dibalas dengan kebaikan...
Masih susah ya???
Untuk yg td dulu...saya pikir tdk usah terlalu mikir masa lalu juga ttg orangtua kita atau kondisi mertua kita..
Kita fokus pada hubungan dg suami. Asalkan kita punya 'jalur komuniksi harian' yg lancar..insyaAllah itu sdh alat manjur menyelesaikan macem2 persoalan

#Tanya 4: April/ IIP 3
Assalamu'alaykum wrb...semangat pagi bu Ani.
1. Alhamdulillah, blum ada badai di keluarga kami. Kalaupun ada, masih terhitung kecil dan bisa kami selesaikan (atau sebenarnya belum selesai ya krn dianggap selesai ��). Hanya saja utk antisipasi bu, agar terhindar dari badai besar/ kita siap menghadapiny jikalau Allah menetapkan demikian. Adakah  Tipsnya bu?
2. Biasanya usia pernikahan tahun ke berapakah, rumah tangga mulai ada tanda2 di terpa badai? Syukron
Jawaban 4: Tip terhindar dr badai besar, kuatkan komunikasi harian
Ada yg bilang thn kritis pernikahan adlh th ke 5, 10 15....jangan percaya angka...
Pernikaha akan jatuh dalam badai saat : komunikasi renggang...ya bisa di th 1 ke 3 atau kapan. Saja...
Pernikahan akan jatuh dlam badai saat : iman kita turun...saat iman turun, setan masuk...lalu kita berpikiran negatif..lalu curiga...lalu benci dst...lalu kita keputusan gak logis
Maka jaga keimanan agar tetp stabil

#Tanya 5: Arisa. IIP Sby
bu ani, ketika kami memutuskan pindah ke pulau jawa untuk dekat dengan orang tua yg terjadi adalah konflik berlarut2 yg kebanyakan dsebabkan perbedaan pola asuh. adakalanya ketika kami menyampaikan maksud dri tindakan kami tnyt orang tua tidak bisa menerima. adakah solusi bu cara komunikasi bagaimana yg harus dilakukan? sepertinya orang tua merasa kami nasehati padahal maksud kami komunikasi dua arah. saat ini kami sedang proses membeli hunian krn mungkin pindah adalah salah satu solusi
Jawaban 5 : Ya itu solusi...lanjutkan...
Tapi...harus dipersiapkn juga..."komunikasi" apa dg ortu agar mreka "tdk merasa ditinggal"
Misalnya...kapan2 ortu diajak jalan2 ato silaturahmi kerumah "orangtua yang tinggal beda rumah sama anak"...contoh nyata biasany lebih mginspirasi

#Tanya 6 :Hepi. IIP Sby 1
Bu, teman saya beberapa hari lalu curhat kepada saya, ia seorang ibu dari satu putri. Memiliki pendidikan yang baik. Ibunya, karena sesuatu hal, selalu mengarahkan cemderung memaksa teman saya itu untuk menjalankan semua hal yg ibunya rencanakan. Termasuk dalam urusan rumah tangga teman saya tersebut. Sedari kecil si teman ini menurut apa kata ibunya, semua ia iyakan karena tdk mau mengecewakan ibunya. Sampai dewasa, si ibu ttp memperlakukan teman saya itu sama seperti sebelum ia menikah. Teman saya di sarankan dengan sangat bekerja sesuai apa yg ibunya mau karena hal ituyg dianggap baik oleh ibunya, padahal dalam hati, teman saya tidak setuju dengan keinginan itu. Dia sudah memiliki usaha kecil2an dan suaminya dianggap mampu mencukupi kehidupan mereka. Tp bagi ibunya, itu blm cukup. Ketika suatu saat teman saya mengeluh anaknya tidak terurus spt sblm ia bekerja, ibunya kembali menyalahkan teman saya itu. Akhirnya teman saya sempat depresi, barangkali tekanan bertahun2. Teman saya ingin keluar dr zona ibunya tp blm memiliki keberanian bu. Apa yg sebaiknya teman saya lakukan?
Jawaban 6 : Dalam situasi itu..sebaiknya yg bicara dg si ibu adalah suami temen ibu...
"Maa...maaf ya...saya yg suruh Rika utk berhenti bekerja. Tolong ma..saya ingin dihargai sbg kepala keluarga. Saya ingin Rika di rumah ngurus anak"
Omongan singkat dr menantu biasanya manjur...
Jadi teman ibu...hrs memhon suaminya maju ke depan utk bicara dg ibunya...
Waktu bicara gak usa ada temen ibu di situ...berdua saja..menantu dan mertua

"Lha suami temen saya penakut bu...."
������
Ya uwissss dadaaaa aja...
Suami kok penakut
#maaaph becanda

#Tanya 7: Dyah, IIP Sby1
Bu ani, yg dimaksud jalur komunikasi harian bagaimana?
Bukan hanya bicara kan bu? Seperti sudah makan?
����
Jawaban 7: Kayak org pacaran aja bu...
"Papa mau aku layani di tempat tidur malam ini?"
Hahahaha...pernah kepikir tanya begini sama suami?
Ibu-ibu ini lucu-lucu..
Sorry...ayuk serius
Komunikasi harian adalah...
Komunikasi yang kita lekukan antar suami istri setiap hari..paling tdk suami tahu istrinya sdg apa..istri tahu suami sdg apa dimana..masing2 mengabarkan perubahan jika ada yg berbeda dr info umum...tentu ini hanya bisa terjadi kalo keduanya saling bertanya, saling memberi info, juga saling meminta ijin ketika akan kemanapun

Lalu, komunikasi ttg perasaan..suami tahu bagiman perasaan istri hr ini, jg sebaliknya..ini juga hnya bisa terjadi ketika masing2 bisa detil membaca bahasa tubuh, raut muka, intonasi suara, dan bertanya 'hari ini ada masalah apa"
Komunikasi harian bearti juga ada "sesi berbagi masalah" sehingga ketika berkt tidur tdk ada yg menyimpan "sesuatu yang blm dikatakan" yg akan jadi beban. Bahkan jika bisa..bbrp keputusan hrs diambil, disepakati..jangan ditunda..kalopun suami terlalu lelah krn plg larut, setdknya sdh dibicarakan pagi hr sblm suami ergi jkluar rumah...
#hihihi ditungguin..jempolnya mulai keriting

#Tanya 8: Hepi. IIP Sby 1
Uhm..saya bahkan juga tdk pernah berpikir suami yg “pemberani” bs menjadikan istri juga berani mengambil keputusan, begitu bu?
Tambahan beda topik (hehe maaf bu, mumpung ada kesempatan tanya)
Bagaimana kita tau badai ada di pernikahan kita? Contoh badai kecil yg bs jadi besar misalnya apa bu? Kadang kita cuek cenderung abai dengan hal2 itu, dalam hati hanya bilang, ah biasa urusan rumah tangga, nnt juga reda.
Jawaban 8: Suami hrs pemberani...krn dia pengambil keputusan..pemimpin rumah tangga...mmg istri tdk otomatis ikut berani...ya gakpapa..maksud saya..sdh istrinya tdk berani suami penakut juga..akan jd pasangan yg lemah.
Spt saya sampaikan...awalan badai ada di komunikasi, kalo ada masalah komunikasi itu artinya sdh ada badai kecil
Misal...
Istri tdk bisa lg terbuka cerita sama suami..
Suami istri saling memendam masalah, mrasa saling tdk enak kalo bicara hal2 tertentu, saling menghindari konflik
Istri merasa tdk dipahami suami. Suami merasa istri tdk taat..dan semaunya sendiri
Suami istri kurang banyak momen sentuhan, hubungan seks hambar...
��������
Tanda tanda badai

#Tanya 9: Ida nayu,  IIP surabaya
Saya merasa belum menemukan "klik" saat komunikasi dengan suami.
Dulu saya memilih diam.  Tapi ternyata itu bukan solusi.
Lalu saya pilih cara "menyampaikan", saya menyampaikan apa yang saya inginkan.  Walaupun gak terwujud,  ataupun gak didengar,  tapi ada rasa lega.
Tapi sekarang,  saya sedang merasa capek.  Seolah cuman saya yang membangun jalinan komunikasi.  Gak ada yang bantuin.
Mohon tispnya bu Ani...

Jawaban 9: Cara penyampain yg mungkin perlu dimodifikasi...
Ketika suami datang...pastikan rumah sdh rapi...tdk ada yg berantakan..makanan enak sdh tersaji...dan dandaaan yg cantik..jangan pakai pakaian kusut
Tanyakan kebutuhannya..mau air panas..kopi..teh apalah segala macam....
Tahan dulu mo ngomong apa...tanya dulu kisah suami hr itu..bete gak dia..pokoknya jd pendengar yg baik....tanya dulu..capek apa enggap...kalo capek dipijitin dulu..kalo dielus2...minta tambah..tambah sekalian daaaah...
Intinya "berikan pelayanan memuaskan" baru komunikasikan apa yg diinginkan.
Lhaaa...abis dilayani tidur pulas bu ani....hehe..ya uda bu..tisur aja sekalian..ngomong pengen apanya besok pagi aja...
Para istri yang melayani suami dg baik..akan selalu didengar apapun permintaanya oleh suami..itu prinsip

Closingnya nie...
Tugas utama istri salah satunya ialah memberikan rasa tentram pada suami..para suami menikahi perempuan utk mendapat rasa tentram
Ini tafsiran Ar Rum 21 yang selalu dipasang diundangan penikahan..
Naaah...masalahnya...kita para perempuan ini lebih banyak menjadi beban buat suami atau bisa jadi penyenang buat suami???
Padahal kalo kita menentramkan hati suami..suami baru bisa menjalankan tugas sebagai pemimpin rumah tangga dengan baik.
#marikitarenungkan

Komunikasi Produktif oleh : Dodik Mariyanto

Tema : Komunikasi Produktif
oleh : Dodik Mariyanto

“Suami saya tidak pernah berkomunikasi, Pak. Kalau j di rumah dia cuma diaaam saja.”

Pernah mendengar kalimat di atas?
Mari kita luruskan dulu, barangkali yang dimaksud adalah sang suami sedikit berbicara dengan sang istri (dan mungkin juga dengan anak-anaknya). Dalam konteks hubungan antar manusia, tidak mungkin orang tidak berkomunikasi. Bahkan ketiadaan pesan adalah juga sebuah pesan.

“Biasanya Mas seminggu sekali pasti telepon. Ini sudah 3 minggu kok tidak ada kabar beritanya?”

Anda menangkap pesannya?

Pesan dapat diwujudkan dalam kata-kata, ekspresi wajah, sorot mata, gerak tangan, gerak tubuh dan juga bahkan dalam diam. Setiap elemen memiliki daya. Ada kalanya suatu pesan powerful saat disampaikan dengan kata-kata, adakalanya cukup dengan ekspresi wajah, atau bahkan diam lebih berdampak besar.

Setiap orang juga bisa punya gaya sendiri, yang sesuai dengan dirinya. Tokoh berikut mungkin dapat member gambaran: Soekarno kuat dengan kata-katanya, tulisan dan juga aspek visualnya. Sementara Soeharto banyak mengirimkan pesan dengan diam dan senyumnya.

Anda bisa membayangkan film Mr. Bean dipenuhi dengan kata-kata?
Lalu bagaimana kita bisa mengetahui gaya komunikasi yang cocok untuk kita? Bagaimana kita tahu pola komunikasi yang paling efektif untuk kita?

Cara sederhana adalah ikuti aturan ‘Look for the response ~ I’m responsible for my communication results.’

Lihatlah respon dari kawan bicara kita. Apakah ia mengerti dengan baik? Apakah ia menerima pesan kita dengan baik? Apakah ada penolakan? Apakah ada ketidaksukaan? Dll.
Lalu kita belajar bahwa apapun respon dari kawan komunikasi kita itu SEPENUHNYA adalah tanggung jawab kita sebagai pengirim pesan (komunikator).

Mari belajar untuk tidak menyalahkan kawan bicara kita atas ketidakmengertiannya, kesalahpahamannya, hasil yang keliru, dsb.
Latihan dasar, coba perhatikan apakah kehadiran kita ketika anak-anak dan suami/istri sedang kumpul menambah kegembiraan? Atau justru menghadirkan persoalan?
Perhatikan perubahan itu terjadi sejak awal kita bergabung? Di tengah? Atau di akhirnya? Pada saat kita mengucapkan kata apa? Atau saat kita bertingkah seperti apa?
Cermati apakah hal itu berulang terjadi?
Apakah Anda ingin mengubahnya? Menghilangkannya? Atau mempersering kemunculannya?

Gaya komunikasi kita bukanlah sesuatu yang ujuk-ujuk terjadi, bukan warisan dari leluhur. Gaya komunikasi kita adalah kristalisasi dari latihan berulangkali dan bertahun-tahun, baik latihan itu kita sadari dan kita rencanakan, ataupun kita tidak sadar telah melatihnya setiap hari, setiap jam dan setiap menit dengan mengulang-ulang memakainya di setiap kesempatan.

Gaya komunikasi kita akan banyak memberi warna kepada anak-anak kita. Anak-anak adalah pencontoh yang baik. Adakah kita sudah menjadi contoh yang baik? Apakah kita memiliki gaya komunikasi yang unggul?

Mari berlatih.

"Deteksi Dini Difabel/disabilitas/ABK pada Anak"

Resume Kulwaap IIP Solo Raya & Yogya

"Deteksi Dini Difabel/disabilitas/ABK pada Anak"

Narasumber : Risris Rissyanah Kartaatmadja

CV Nara Sumber
TTL : Jakarta, 13 September 1976
Alamat : Tanggerang, Banten
Pendidikan : Informatik und Multimedia Fachhochschuele Karlsruhe Germany
Pekerjaan :
-Dosen
-Manajer Cabang Rumah Autis Tanggerang
-Direktur Naura Family EduCenter
-Divisi Litbang PT Nuansa Daya Persada
-Pengajar ketrampilan menjahit kelas tuna rungu Skh Salsabila

Materi :
1. Identifikasi Anak Autis : #Diagnosa autis dpt terdeteksi jika jumlah gejala dari masing2 aspek minimal 6.
#Aspek Interaksi sosial : kontak mata kurang,ekspresi datar,gerak kurang fokus,menolak dipeluk,cuek,nangis/
tertawa tanpa sebab,tdk tertarik mainan,bermain dgn benda yg bukan mainan,tdk bisa bermain dgn sebaya,tdk simpati.

#Aspek Bahasa : lambat bicara,sulit komunikasi,memakai bahasa aneh & berulang,bermain monoton,kurang imajinatif,kurang bisa meniru.

#Aspek Perilaku,Minat : mempertahankan satu minat/lebih dgn cara sangat khas/berlebihan,terpaku pd rutinitas yg tdk berguna,gerakan aneh & berulang,sering terpukau pd bagian benda.

2. Identifikasi Tunanetra : tdk mampu melihat,tdk mampu mengenali orang pd jarak 6 meter,kerusakan bola mata,sering meraba/tersandung,sulit mengambil benda kecil didekatnya,bola mata yg hitam berwarna keruh/bersisik/kering,peradangan hebat pd bola mata,mata terus bergoyang.

3. Identifikasi Tunarungu : tdk mampu mendengar,terlambat perkembangan bahasa,sering komunikasi dgn isyarat,kurang tanggap jika diajak bicara,ucapan tdk jelas,suara aneh/monoton,berusaha mendengar dgn memiringkan kepala,perhatian pd getaran,telinga keluar nanah.

4. Identifikasi Tunadaksa : anggota gerak kaku/lemah/lumpuh,sulit bergerak,bagian tubuh tdk sempurna,cacat pd alat gerak,jari tangan tdk dpt menggenggam/kaku,hiperaktif.

5. Identifikasi Tunagrahita : penampilan fisik tdk seimbang,tdk dpt mengurus diri sendiri sesuai usia,lambat bicara,kurang peka lingkungan,gerak tdk terkendali,sering keluar liur.

6. Identifikasi Lamban Belajar : prestasi rendah,lambat menyelesaikan tugas akademik,daya tangkap rendah,pernah tdk naik kelas.

7. Identifikasi Disleksia : sulit mengingat data,sulit mengenal arah,sulit memahami waktu,sulit mengeja,tidak lengkap dlmmenggambar,sulit memahami peta/grafik,sulit memahami bacaan.

8. Identifikasi Anak Diskalkulasi : kesulitan belajar berhitung.

9. Identifikasi Tunalaras : membangkang,mudah marah/emosi,agresif,melanggar aturan.

10. Identifikasi Anak Berbakat (memiliki kemampuan & kecerdasan luar biasa) : cepat membaca pd usia muda,kemampuan verbal tinggi,Minat yg luas terhadap urusan orang dewasa,mandiri,inisiatif,tanggap,banyak ide,cerdas,empati,analisis tajam,kritis,intuisi,senang eksperimen,imajinatif,daya ingat & kosentrasi tinggi,prestasi,sintesis,punya daya abstraksi

Pengertian Anak Berkebutuhan Khusus : sebutan bagi anak2 yg dalam tumbuh kembangnya memiliki kebutuhan khusus berbeda pd anak pd umumnya baik dalam hal perkembangan mental,kognitif,kemampuan sensorik,komunikasi,tingkah laku maupun kondisi fisiknya.

#Klasifikasi ABK berdasarkan Life Function :
1. High function : anak dgn kemampuan & kapasitas fungsi hidup diatas rata2 seperti anak jenius,anak berbakat,anak indigo.

2. Low function : anak dgn kapasitas & kualitas hidupnya dibawah rata2 tumbuh kembang anak pd umumnya,kadang jg mengalami kendala fisik & butuh bantuan dalam kemandirian pribadi,gerak maupun kemandirian sosial.

# Klasifikasi ABK berdasarkan kendala tumbuh kembang :
*kendala fisik : tuna rungu,tuna netra,tuna daksa
*kendala perkembangan : retardasi mental, autisma, cerebral palsy, down sindrom, ADHD/ADD, Diskalkulia, disgrafia, disleksia, gangguan emosi.

Pertanyaan :
1⃣ Bunda Richie - Sukoharjo
Apa saja kemungkinan pendidikan buat mereka ( Anak Autis ) ??

➡ Kalau ditanya kemungkinan pendidikan buat anak dengan autistik maka kemungkinannya akan luas sekali. Sama seperti anak lain maka anak dengan spektrum autisma punya peluang pendidikan sesuai dengan kemampuannya. Jadi yg perlu dilakukan adalah ibu memetakan dulu kemampuan Anak dengan Autisma. Apa kekurangan yg perlu ditangani dan dimana kelebihan yg bisa ditingkatkan.
2⃣ Bunda Pipie
Pertanyaan: Anak kedua saya  yang kelas satu, berusia 7 tahun. Belum lancar membaca, belum dapat memahami kalimat, tapi sudah dapat menulis. Setiap diajak belajar selalu cemberut dan tidak suka. Ada perasaan tidak senang terlebih dahulu. Lalu bagaimana agar anak saya suka membaca dan belajar ya?

➡ Jawaban:
Mengajari anak membaca kalau menurut berbagai teori pengasuan adalah dimulai dengan conto dari keluarga terutama ibu untuk suka membaca. Kalau dari sisi praktisi anak maka pertanyaan mendasar saya adala apakah anak sudah melalui fase tumbuh kembangnya? Sebab kesiapan akademis berada pada hierarki teratas perkembangan sensori. Apakah anak suda memiliki control dua sisi tubuhnya? Apakah anak sudah memiliki persepsi visual yang baik?
Jika ananda tipikal pembelajar kinestetik dengan konsentrasi rendah yang susah focus diam belajar menghadap buku, maka dalam proses belajar yang rumit (menulis artinya anak melihat symbol, kemudian menerjemahkannya di otak, lalu otak memerintahkan system otot dan sendi bahu lengan atas pergelangan tangan dan jari untuk meniru symbol yang ia lihat) kalau perkembangan persepsi visual serta system otot dan sendinya tidak siap maka menulis akan menjadi proses yang menyiksa buat anak, karenanya anak menghindari menulis.

3⃣ Nissa: Apa saja kendala abk dalam dunia kerja? Seberapa siap abk terjun ke dunia kerja (abk: rungu, wicara, daksa, netra.)?

➡ Jawaban : Kalau ABK dengan tuna rungu, netra, dan daksa sebenarnya peluang berkarya mandiri banyak sekali. Karena kognitif teman teman rungu, netra, dan daksa itu sama seperti mereka yang umum. Jadi apapun yang teman – teman “normal” lakukan dapat dilakukan oleh mereka dengan beberapa bantuan tertentu. Bisa jadi pelukis hingga politisi. ( di daerah ciputat tangerang sini, ada caffe yang seluruh pekerjanya itu ATR. Sementara di LP3I Pondok Gede Bekasi salah satu pengajarnya Tuna Netra. Untuk deteksi ABK sejak dini bisa dilakukan sbelum anak usia 2 tahun, nanti saya lampirkan table diagnosa abk dari perkembangan secara umum.

4⃣ Bunda Ervina: Pelatihan dasar apa  yang harus orangtua berikan kepada ABK untuk membantu mereka mandiri ? Terutama mandiri dalam urusan pribadi diri mereka?

➡Jawaban : Intervensi dasar kemandirian itu dimulai dari kebutuhan terapi anak, baik okupasi, sensori Integrasi maupun perilaku. Pada beberapa anak perlu juga  fisio terapi. Anak tidak bisa serta merta dilatih makan sendiri atau toileting bila masalah motoric kasar maupun halusnya masih bermasalah. Perlu juga dilihat apakah anak punya masalah penginderaan / sensori.
5⃣ Untuk pertanyaan lain yang tidak tercantum, tersebab dilanjutkan via jalur pribadi.

Terima kasih atas semua pertisipasi bunda sekalian.

Jika ada ada kata atau tulisan yang kurang berkenan saya mohon maaf, sekian dari saya.

Semoga senantiasa dimudahkan berkumpul dimajelis ilmu pemberat amal ibadah di yaumul hizab.

Terima kasih bunda ^^ Salam Semangat Menebar Manfaat.
Wassalamualaykum.Wr.wb

Psycho Coffee Morning ☕ Oleh : Ani Ch, penulis buku & praktisi pendidikan keluarga Kemandirian (bagian 3)

☕ Psycho Coffee Morning ☕

Oleh : Ani Ch, penulis buku & praktisi pendidikan keluarga

Kemandirian (bagian 3)

��������������������

Beberapa tahun yg lalu, yayasan tempat saya bekerja membuka lowongan untuk posisi guru baru. Biasanya, aplikasi lamaran dikirim via pos atau kurir, namun beberapa pelamar juga ada yg datang sendiri menyerahkan dokumen aplikasi. Secara umum, para pelamar yg datang ini dinilai lebih serius dalam proses pengajuan aplikasi. Namun, ada 1 orang yg kedatangannya dinilai sangat mengherankan, sebab dia datang ditemani oleh ibunya. Bahkan yg berbicara utk menyampaikan maksud pd resepsionis adalah ibunya, si pelamar ybs berdiri manis di belakang ibunya.

Seluruh penghuni kantor hampir pada menoleh ketika si ibu bilang, "Permisi, anak saya mau mengajukan surat lamaran kerja". Alaaaamaaakkk, mosok yo calon guru bisu, sampe ibu e sing ngomong...nggak mungkin kan kalo bisu

Ketika si ibu & anak pergi, semua orang pada menggerutu, "anak tidak mandiri kok ngelamar jadi guru, ngurus dirinya sendiri gak bisa, sampe ngasi lamaran dibantu ibunya. Mana bisa dia ngelola murid2?"

��������������������

Teman, si anak pelamar kerja ini sangat mungkin adalah anak yg pemalu..atau pendiam, atau tipe yg tdk mudah percaya diri..whatever lah..tapi dia memang jelas termasuk kategori tidak mandiri. Di usia nya yang sudah kepala 2, sudah lulus kuliah sajana pula, melamar kerja ditemani ibu jelas termasuk indikasi ketidakmandirian.

Anak ini sangat mungkin tuntas kemandirian fisik, bisa makan minum mandi dan tidur sendiri. Mungkin juga dia sudah tuntas kemandirian psikis, bisa mengelola waktu & aktivitas. Tapi jelaaaaasss, si anak belum tuntas kemandirian level 3, kemandirian sosial.

��������������������

Teman, kemandirian sosial adalah kemandirian dalam aktvitas sosial, ketika berhubungan dengan orang lain dapat bersosialisasi tanpa tergantung keberadaan orang lain. Kemandirian ini perlu dilatih sejak dini, dan semakin tambah usia makin kompleks bentuknya.

Beberapa jenis latihan kemandirian sosial di usia dini,
��bermain dengan teman sebaya tanpa ditemani orangtua
��menceritakan keinginan pada orang lain.
��pergi kerumah tetangga tanpa diantar
��dapat ditinggal bersama saudara yang dikenal

Latihan kemandirian sosial ketika usia sekolah,
��dapat ditinggal di sekolah bersama guru
��mematuhi peraturan di sekolah
��pergi belanja di toko dekat rumah
��bermain bersama teman sebaya di sekitar rumah
��menceritakan pengalaman pada orang lain.
��menyampaikan pesan dari 1 orang ke orang yg lain

Ketika diatas usia 10 tahun, diharapkan makin meningkat kemampuannya, antara lain,
��dapat pergi ke sekolah tanpa di antar
��dapat berbelanja di luar komplek rumah
��dapat mematuhi aturan & etika di jalan raya
��dapat menerima tamu ketika tidak ada orang dewasa di rumah
��dapat menginap di rumah saudara/untuk acara sekolah
��mengikuti sebuah klub/punya komunitas persahabatan untuk pengembangan hobi

Ketika sudah di atas 15 tahun, latihan kemandirian bisa ditingkatkan terus, dengan beberapa kesempatan antara lain,
��dapat bepergian di kota nya sendirian
��dapat melakukan perjalanan keluar kota bersama teman sebaya
��mampu bicara dengan orang yg tidak dikenal
��dapat bergabung dalam suatu aktivitas organisasi
��dapat mematuhi aturan masyarakat secara umum.

��������������������

Berbagai macam latihan di atas bertujuan untuk melatih anak dalam mengendalikan diri ketika berada dalam berbagai konteks sosial, diharapkan terbentuk 3 keterampilan, yaitu :
��adaptasi, anak dapat masuk dalam lingkungan sosial dan menyesuaikan diri, dapat menyampaikan pikiran & perasaannya, juga bisa menerima pikiran & perasaan orang lain tanpa didampingi oleh orang dewasa.
��penerimaan otoritas, anak dpat memahami aturan & orang yg menegakkan aturan tanpa bimbingan org dewasa, serta dapat membuat dirinya mengikuti aturan tsb dg menahan keinginan2 pribadi yg tdk sejalan dg aturan
��resolusi konflik, adalah kemampuan untuk menyelesaikan masalah2 sosial yg terjadi ketika sdg membangun hubungan seperti perbedaan atau perselisihan.

��������������������

Teman, kemandirian sosial adalah level mandiri yang tidak mudah utk dicapai. Tetapi ketika sejak usia dini anak2 diberi kesempatan sosial yg cukup, keterampilan akan terbangun secara bertahap. Intinya, mereka hanya butuh KESEMPATAN agar BISA & TERBIASA dalam bersosialisasi. Terlalu melindungi anak2 krn takut dunia luar 'mencemari' anak kita bisa jadi penghalang terbentuknya kemandirian sosial.

Apakah artinya org2 pemalu, pendiam, hamya punya teman sedikit tidak akan punya kemandirian sosial? Tentu saja tidak...menjadi pendiam pemalu bisa jadi adalah pilihan sikap nyaman bagi pribadi tertentu, dan org2 spt ini jika masih bisa adaptasi, bisa menaati aturan, dan mampu menyelesaikan konflik, itu artinya dia masih punya kemandirian sosial.

Psycho Coffee Morning ☕ Oleh : Ani Ch, penulis buku & praktisi pendidikan keluarga Kemandirian (Bagian 2)

☕ Psycho Coffee Morning ☕

Oleh : Ani Ch, penulis buku & praktisi pendidikan keluarga

Kemandirian (Bagian 2)

��������������������

Awal jadi guru BK, aku dapati satu muridku yg agak konyol..Bayangkan dia sudah kelas 1 SMA, tetapi tiap malam dia telpon walikelasnya utk tanya jadwal pelajaran besok. Ketika di sekolah, seringkali dia menelfon org rumahnya utk mengirimkan perlengkapan sekolahnya yg tertinggal...alaaamakk, parahnya ini anak.

Jelas...anak ini tidak mandiri bukan? Meskipun dia bisa makan sendiri, mandi sendiri, pakai baju sendiri, pakai sepatu sendiri...dia mungkin masih bisa melakukan aktivitas kemandirian fisik, tapi belum tuntas kemandirian level 2, kemandirian psikis.

��������������������

Ada anak bisa makan sendiri, tetapi nunggu dipanggil. Ada anak baru berangkat sholat ketika disuruh. Ada anak bisa belajar sendiri, tetapi harus diingatkan dulu. Inilah contoh2 lain dari tidak tuntasnya kemandirian psikis.

Bayangkan betapa bahayanya di masa depan, jika karakter semacam ini dibawa hingga dewasa. Pernah kulihat seorang karyawan selalu datang terlambat dikantor tiap pagi. Pernah kudapati anak buah yg selalu harus diingatkan utk membuat laporan tugasnya selesai, padahal dia tahu jobdes rutin itu. Pernah kulihat ada seorang ibu yg mengirim bekal anaknya yg sekolah TK setiap hari (mosok yoo lali ben dino, jek). Yg begini ini, bisa kurang  latihan kemandirian psikis waktu kecil.

��������������������

Teman, kemandirian level 2, kemandirian psikis, adlah kemampuan untuk mandiri dalam melakukan aktivitas tanpa inisiatif orang lain..Contoh aktivitas sehari-hari yg perlu dilakukan
��menata keperluan pribadi
��memiliki jadwal kegiatan
��memilih barang & pakaian yg dibutuhkan
��mengelola uang saku
��melakukan aktivitas sesuai waktunya
��melakukan aktivitas tanpa diingatkan
��melakukan proses memilih ketika beraktivitas

Harapannya, anak2 usia SD sudah memasuki pelatihan kemandirian level ini, sehingga ketika masuk usia SMP atau SMA tinggal proses pematangannya saja.

Tujuan umumnya agar anak memiliki manajemen diri, khususnya manajemen waktu & manajemen aktivitas, juga terjadinya proses pengambilan keputusan serta pengendalian diri.

��������������������

Prinsip BISA & TERBIASA berlaku juga disini. Seorang anak yg bisa membuat jadwal kegiatan tetapi tidak terbiasa menjalankannya, maka tidak akan tuntas kemandirian ini.

Kendala utama proses pelatihan kemandirian ini adalah sikap tidak tega orangtua sehingga membantu, sikap tidak sabar orangtua yg membuatnya turut campur aktivitas anak, dan sikap tidak yakin orangtua pada anaknya untuk mampu melakukan semua itu sehingga anaknya sering ragu & tdk percaya diri dlm beraktivitas krn takut salah. Jadi, mari kita hindari 3 sikap ini.

Psycho Coffee Morning ☕ Oleh : Ani Ch, penulis buku & praktisi pendidikan keluarga Kemandirian (bagian 1)

Psycho Coffee Morning ☕

Oleh : Ani Ch, penulis buku & praktisi pendidikan keluarga

Kemandirian (bagian 1)

Dalam sebuah sesi training parenting, seorang ibu bertanya, "Apa sih gunanya mengajari anak makan tanpa disuapi? Anak jadi susah makan banyak, kotor krn makanan berceceran, lama juga akhirnya makannya, kan jadi ribet. Katanya untuk latihan kemandirian. Anak saya itu bisa makan sendiri, kan sudah cukup. Masak ya harus tiap hari dia makan sendiri, dia kan masih kecil. Saya ini, masih disuapi ibu saya sampai besar, ternyata bisa juga mandiri ketika besar, waktu sudah jadi ibu rumah tangga, saya akhirnya bisa juga masak, bersih2, ngurus rumah semuanya sendiri"

Ahhhh ibu...tapi Anda jadi orang yang agak mudah mengeluh, kurang sabar, & kurang telaten dalam menghadapi kesulitan..Lha anaknya makan lama & berceceran, kok ya ngersulo tho...

��������������������

Jawaban diplomatis kucoba dahulukan..aku nggak mungkin menghakimi sikap ibu yg mudah mengeluh ini....jadi kusampaikan bahwa untuk saat ini makan tanpa disuapi adalah media pematangan motorik kasar & motorik halus..kenapa di jaman dulu nggak penting, krn anak2 main fisik setiap hari, gobak sodor, petak umpet, lompat tali, bekel, dakon, dsb..dan ini cukup utk mematangkan motorik. Lha anak jaman sekarang waktu luangnya untuk televisi & gadget..kurang media pematangan motorik. Makannya aktivitas makan, yg menggerakkan bahu, siku, & pergelangan tangan bisa dianggap latihan motorik.

Sebenarnya memang semua aktivitas kemandirian fisik selain makan berkontribusi utk media 'latihan pematangan sistem motorik', dimana jika motorik matang maka akan mudah terbentuk atensi-konsentrasi, modal dasar belajar.

��������������������

Teman, makan tanpa disuapi adalah bagian dari keterampilan yg harus dikuasai anak agar memiliki kemandirian level 1 : kemandirian fisik, artinya kemandirian yg melebih banyak melibatkan aktivitas fisik. Apa saja selain makan...masih banyak
��Cuci tangan sendiri
��Makan minum sendiri
��Memakai & melepas baju
��Memakai & melepas atribut
��BAK & BAB sendiri
��Mandi & menyikat gigi
��Memberskan barang pribadi

��������������������

Teman, bukan cukup dengan membuat anak BISA melakukan itu semua. Meskipun setidaknya jika anak2 BISA, maka itu akan jadi bekal hidupnya di masa mendatang agar bisa 'melayani dirinya sendiri', sehingga tidak butuh banyak bantuan orang lain.

Yang tak kalah penting adalah bahwa anak2 juga TERBIASA melakukannya...dr kebiasaan dan rutinitas kemandirian fisik inilah yg akan melahirkan 'outcome' luar biasa.

Sebagaimana aktivitas renang bisa membuat jantung & paru2 lebih sehat, hanya jika RUTIN dilakukan, maka aktivitas kemandirian fisik ini juga bisa menghasilkan hal2 berikut jika bisa menjadi kebiasaan,
��tumbuhnya tanggung jawab pribadi
��munculnya daya juang & sikap tidak mudah mengeluh
��munculnya kemampuan mengendalikan diri.

Kok bisa? Bagi anak2 aktivits kemandirian fisik adalah "sesuatu yg tdk mudah dilakukan", nah jika yg "tidak mudah" ini sering dilakukan maka terjadilah banyak "pengalaman melakukan hal2 yg tidak mudah", sehingga dg pengalaman itu, terbentuklah karakter tsb diatas.

Sekali lagi TERBIASA, kebiasaan memunculkan pengulangan perilaku, pengulangan perilaku membentuk karakter, karakter tumbuh menjadi bagian kepribadian.

��������������������

Suami Saya Lebih Sabar Pada Anak. Mengapa? Oleh: Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari

Tulisan : Suami Saya Lebih Sabar Pada Anak. Mengapa?

Oleh: Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari
Penggagas Program 1821 Kumpul Keluarga | www.auladi.net

Saya sering mendengar dan membaca sebagian ibu di luar sana mengatakan kalimat semacam ini:

"Abah Ihsan, suami saya melarang saya ikutan belajar parenting karena katanya 'teori doang' bukti nyata gak ada. Suami saya juga berkata dia tak ikutan parenting sana sini, buktinya dia lebih sabar menghadapi anak. Sedangkan saya masih saja tak sabaran".

Atau "Abah Ihsan, saya malu sebenarnya sama suami saya, tapi merasa beruntung juga. Suami saya tuh sabar banget menghadapi anak dan lebih sabar menghadapi anak daripada saya. Saya yang sudah ikutan belajar parenting lebih sering ke sana kemari malah masih sering kurang sabar dengan anak".

Boleh tidak setuju dengan saya. Para ayah normalnya memang secara alamiah: lebih sabar berlipat dari istri! Meski tidak pernah belajar parenting ke sana kemari sekalipun. Ini normalnya lho! Bahkan setidaknya 3x lipat lebih sabar daripada ibu. Kenapa?

Ada banyak faktor. Faktor utama adalah tentang durasi pertemuan ayah bertemu dengan anak jauh lebih sedikit dibandingkan si ibu. Kekurangan waktu ini kemudian dibayar dengan kesabaran dan rasa kasih yang memang belum disalurkan sejak berpisah dari pagi dengan anak.

Ini sekadar ilustrasi kasar. Jangan fokus ke ke akurasi angkanya, ini sekadar sample ilustasi saja. Tiap keluarga bisa memiliki kondisi berbeda, ini hanya keumuman.

Anggap di akhir pekan libur, Sabtu - Minggu, suami istri sama-sama punya skor yang sama berperan di keluarga. Lalu Pada hari kerja Senin - Jumat, katakanlah istri berperan sebagai ibu penuh waktu "mom stay at home". Selama bangun dari subuh pukul 04.30 sampe anak tidur 21.00, jam dengan anak (asumi anak belum sekolah), maka jam pertemuan ibu dengan anak: 16,5 jam.

Ayah? Setiap Senin - Jumat katakanlah ayah ini menjadi ayah yang punya peran selain pencari nafkah, juga melibatkan diri berkontribusi dalam urusan keluarga. Setiap pagi, mulai bangun subuh, ngajak ke masjid, dan quality time activity lainnya di pagi hari 04.30-07.00, berarti jam pertemuan fg anak 2,5 jam di pagi hari.

Lalu di sore dan malam hari, pulang kerja sampai rumah pukul 18.00. Sejak pukul 18.00 asumsikan doi yang merasa bertanggung jawab ini, mengambil peran lagi, melaksanakan program 1821, ngajak anak ke masjid, menemani anak belajar,  story time, mengantarkan anak ke tempat tidur sampai jam 21.00 berarti 3 jam.

Total jendral pertemuan ayah dengan anak Senin-Jumat: 5,5 jam. Ibu? 16,5 jam. Kira-kira perbandinganya 1:3.

Jika mau hitung-hitungan, ayah memiliki jam pertemuan dengan anak 3x lebih sedikit daripada ibu. Jadi normalnya ayah 3x lipat lebih sabar daripada ibu.

Karena itu, saya sering mengatakan pada para ayah yang mengaku lebih sabar dari istri:

Coba ayah urus anak selama 7 hari berturut-turut, tanpa istri tanpa pembantu. Sendirian! Ingat ya sendirian. Cukup dari 07.00-18.00.

Apakah setelah itu anda merasa lebih sabar dari istri?

Apa yang akan terjadi jika anda lakukan selama 365 hari?

Apakah setelah itu anda merasa lebih sabar dari istri?

Cobalah gantikan peran istri Anda di rumah, urus rumah dan anak tiap hari dari pagi. Selain rutinitas yang sama tiap hari menghadapi pemandangan yang sama: dapur, kasur, ketemu tukang sayur.

Apakah setelah itu Anda merasa lebih sabar dari istri?

Saya tidak tahu jawaban Anda. Tapi yang saya tahu ketika saya tanyakan ini pada ribuan ayah yang ikuti kelas-kelas pelatihan saya, mereka menjawab "oh tidak!" Bahkan ada yang berkata "jangankan 7 hari Abah, 1 hari aja pusing!"

Saya tidak tahu jawaban Anda. Tapi yang saya tahu ketika puluhan ayah di Korea Selatan ditantang ngurus anak hanya sekira 2x24 jam tanpa istri, dalam sebuah acara reality show tv korea, hampir semua ayah ini kerepotan luar biasa yang membuat sebagian besar ayah ini wajib merasa berterima kasih kepada istrinya.

Tak sedikit bahkan, setelah tantangan selesai sebagian ayah hampir sujud-sujud dan minta maaf sama istrinya. Karena mereka sudah merasakan, tidak mudahnya menjadi seorang ibu.

Karena itu, ini pesan saya buat para Ayah demi menjaga kekuatan energi istri Anda setidaknya 3 hal:

Pertama, jika Anda melihat istri mulai marah-marah tidak jelas, emosian tidak jelas: bantu istri Anda. "Sini anak-anak sama Ayah." Atau "Ada yang bisa Ayah bantu Bunda sayang?"

Kalimat sederhana itu akan membuat semangat mereka terjaga. Itulah suami yang bertanggung jawab. Bukan malah "kamu nih gak bener mendidik anak. Yang sabar dong!"

Gampang jika hanya menyalahkan! Tapi jika pun salah sebagai "imam" sesalah apapun istri kita, itu juga kontribusi kita di dalamnya yang tidak sensitif terhadap situasi istri.

Jika situasi berulang terlalu sering, saatnya istri Anda di upgrade suasana hatinya dan upgradw kompetensinya. Upgrade suasana hati dengan memberikan istri untuk melihat "pemandangan" berbeda. Jalan-jalan sepekan sekali, "couple time" tanpa anak dengan kita setidaknya sebulan sekali, keluar kota setahun 2x.

Upgrade kompetensi istri dengan berikan kesempatan istri belajar. Bantu ia untuk menghadiri majlis-majlis ilmu: seminar parenting, beli buku, halaqoh, dauroh, gabung komunitas yang baik-baik dll. insya Allah ini semua akan membantu.

Kedua, hentikan meremehkan perkara-perkara yang mungkin menurut kita sepele tapi tidak menurut mereka. Jangan biasakan ngomong pada istri "lebay deh". Karena kita tidak merasakan situasi seperti mereka. Ingat ya yang lebay menurut kita bisa jadi serius menurut orang lain.

Ketiga, untuk merasakan energi empati, sesekali sediakan waktu setidaknya 1x sepekan urus anak sendiri dari pagi sore, tanla istri. Saya sering melakukannya, dengan 5 anak saya (eh 6 deng baru nambah), saat istri ngaji ada acara dll. "Boleh bawa anak abah?" Saya katakan "Tidak! Itu acara ummi, bukan acara anak-anak."

Saat saya menjaga semua anak saya jalan ke mall atau jadi "dad stay at home!" Beuh! Berasa... Berasa sekali bray betapa hebatnya istri kitah!

Lalu untuk para ibu, jangan pernah menyerah dan jadi inferior "saya masih emosi gak sabar" dll. Normal moms shalihah.. Normal!

Quote salah satu member komunitas yang saya kelola: Yuk-Jadi Orangtua Shalih Community Jakarta Chapter Mom Liani mungkin bisa jadi referensi: "untung saya ikut parenting sana sini termasuk abahihsan, kalau saya gak ikut parenting sana sini bisa jadi anak saya sudah rusak lagi!"

Republished by
® Persaudaraan Muslim & Muslimah Indonesia ����
�� www.persaudaraanmuslimah.blogspot.com
�� Fp : Persaudaraan Muslim & Muslimah Indonesia

WE TRAIN OUR CHILDREN FOR THE JOBS THAT DON'T EXIST YET NOW

Tulisan dari Pak Pambudi (VP HR Citibank) cukup baik dan inspiratif:

WE TRAIN OUR CHILDREN FOR THE JOBS THAT DON'T EXIST YET NOW
-BUILDING LEARNING AGILITY FOR OUR NEXT GENERATION

(Kita mendidik anak-anak kita untuk pekerjaan yang sekarang belum ada).

Kadang-kadang saya cemburu dengan kakak-kakak saya. Mereka semua menjadi dokter. Dan saya masih ingat betapa mudahnya mereka menjelaskan pekerjaan mereka ke nenek saya di Magetan.
Saya memulai karier saya sebagai "artifical intelligence programmer".
Dan bayangkan bagaimana saya harus menjelaskan apa yang saya lakukan kepada nenek saya atau orang tua saya ketika mereka bertanya,"Gaweyanmu ke apa?" (What do you do for living?).

But perhaps this is life. Hidup berganti begitu cepat, bisnis is changing also so fast. Dan species yang paling sukses bukanlah yang paling kuat atau paling cerdas, tapi yang mampu beadaptasi dengan perubahan.
A lot of jobs we do now, did not even exist some years ago.
Banyak pekerjaan yang kita lakukan sekarang, memang belum ada pada jaman dulu.

Saya yakin pekerjaan seperti digital advertising, social media recruiter, actuaria, underwritter, big data analyst belum ada pada jaman orang tua kita (atau bahkan pada saat kakak-kakak kita belanja di Aldiron Plaza).
Dan kesimpulan yang sama bisa kita tarik bahwa job yang akan dilakukan anak anak kita nanti belum ada pada hari ini.
We dont even know the job that they will do in the future after they graduate fron their university.

Padahal mereka harus kita didik, kita latih, kita educate sekarang. 
Jadi bagaimana dong?
Ada 3 hal yang bisa

PERTAMA, Watch, read, observe and learn:
Pelajari apa trend yang akan terjadi di masa depan: 
1.a) Globalisasi
Think Global Act Global. 
Dunia sudah semakin kecil dan semakin sempit.
People will be connected with anyone, anywhere at any time.
People want to actively contribute in global initiative.

1.b) Urbanisasi
Kita tidak bisa menghindar dari kenyataan bahwa people will move to big cities (unfortunately), and modern lifestyle will continue to dominate the world.

1.c) Digitalisasi.
Everything will go digital: sales, marketing, e-commerce, banking, e-government.
They will be everywhere.
You have only 2 choices. D or D. Digitalize your self or Die.

1.d) Weconomy.
(Dari kata we dan econom)
Dengan terbukanya pasar global, global funding dan crowd funding akan mendominasi bisnis di masa depan.

1.e) Betterness
Di masa depan bisnis akan jauh lebih memikirkan bukan hanya pada short term profit (ehm..ehm... quarterly earning).
Semua bisnis akan memikirkn aspek sosial responsibility, environmental friendly, apa yang bisa mereka lakukan untuk berbuat baik kepada masyarakat dan bagaimana mereka berkontribusi untuk mewariskan bumi yang lebih hijau dan lebih baik ke generasi penerus kita

KEDUA,  Passion and Hardwork. 
Motivasi, dorong dan beri semangat ke mereka untuk belajarkeras dan bekerja keras. Agar mereka berprestasi semaksimal mungkin.
They still have to be the best in what they do.
The competition will be more difficult.
There is no choice, they have to:
- have passion, enjoy what they do
- work smarter and harder
- be open mind and continuously learn

KETIGA, Building Learning Agility.

Membentuk minat dan kemampuan untuk mempelajari hal hal yang baru.
Apapun yang mereka pelajari di sekolah dan universitas hanya mempersiapkank mereka untuk menyerap knowledge dan memecahkan masalah. Tetapi contentnya sendiri akan terus berubah.
Itulah mengapa saya merecruit Management Associates di perusahaan saya sekarang. Dan ternyata mereka berprestasi dengan sangat baik meskipun mereka bukan lulusan ekonomin atau akunting. Mereka ada yang lulusan teknik mesin, micro biology ...dll. Yang penting adalah bagaimana mereka mempunyai learning agility.
Kemampuan ini bisa dibentuk dengan cara:
- Expose to different things.
Daripada liburan ke Bali atau Singapore (atau ke US) tiap tahun, kenapa tidak ke Ujung Kulon, ke Badui, ke Vietnam, Mongolia, Mumbai, Manila.
It may not be fun. But you will expose them to different culture, language and places.
- Encourage them to learn at least 3 languages. Language skills will be important.
- Encourage them to learn a new hobby... music, aikido, pencak silat, polo air, rugby ....
- Encouge them to learn to take risk 
- Teach them to be open mind and accept different view/perspective on anything
- Continously ask them to get out of the comfort zone
- test their ability to handle difficult challenge/situation in their life.

TERAKHIR, train them to enjoy life.
Ajak mereka menikmati hidup.
Life is fun. Dari kecil ajak mereka melakukan hal hal yang mereka suka.
Mereka harus tahu.
Life is not a sprint. Life is a marathon.
Hidup adalah perjalanan panjang. Jaga stamina. Istirahat. Minum air. And enjoy your journey .....

Kita coba yuk?
Semoga dengan melakukan ini kita bisa mendidik generasi berikut yang lebih baik,  untuk masa depan Indonesia yang lebih cemerlang.

By the way, the title is about our children. 
But I am sure you understand that the NJconcepts that we share could also be applicable to our team, and ourselves.

 

Mama Belajar Template by Ipietoon Cute Blog Design