Tampilkan postingan dengan label physicocoffemorning. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label physicocoffemorning. Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 Juli 2016

Edisi Ringkasan Buku Menyambut Buah Hati terbitan Ummul Quro (1)

Psycho Coffee Morning

Oleh : Ani Ch, pemerhati pendidikan anak dan keluarga, bermukim di Sidoarjo

☕▫☕▫☕▫☕▫☕

Edisi Ringkasan Buku
Menyambut Buah Hati terbitan Ummul Quro (1)

Jumat, 22 Juli 2016

Judul asli : Tuhfatul Maudud bi Ahkami Al Maulud karya Ibnu Al Qayyim Al Jauziyyah

☕▫☕▫☕▫☕▫☕

Kewajiban mendidik, mengajari dan berperilaku adil kepada anak

QS At Tahrim ayat 6 yang artinya : Hai orang orang yang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarya adalah manusia dan batu.

Ali berkata, tafsir ayat ini adalah ajarilah anak da didiklah dengan budi pekerti (dalam Ath Thabari 23/491)

Hasan Al Bashri berkata bahwa perintahkanlah anak untuk taat pada Allah dan ajarilah mereka tentang kebaikan (dalam Ath Thabari 23/492)

Rasulullah bersabda ajarilah anak kalian untuk mengerjakan sholat saat berusia 7 tahun, pukullah mereka jika sudah berusia 10 tahun mereka tidak mengerjakannya, dan pisahka tempat tidur mereka (dalam Musnad Imam Ahmad 2/180)

Abdullah bin Umar berkata didiklah anakmu karena sesungguhnya engkau akan ditanya tentangnya, apa yang telah engkau ajarkan kepada anakmu. Sebaliknya, anakmu juga akan ditanya tentang baktinya dan ketaatannya kepadamu. (Dalam Al Baihaqi 15/157)

Diantara hak anak anak adalah diperlakukan secara adil dengan saudara saudaranya dalam pemberian.

Rasulullah bersabda berbuat adillah kepada anak anak kalian, berbuat adillah kepada anak anak kalian, berbuat adillah kepada anak anak kalian. (Dalam Abu Daud 11/273)

Sabda Rasulullah : Janganlah kalian memintaku menjadi saksi terhadap kezaliman. Sesungguhnya anakmu mempunyai hak untuk kau perlakukan secara adil dengan saudara saudaranya (dalam Imam Ahmad 4/269)

Rasulullah bersabda bertaqwalah kalian kepada Allah dan berbuat adillah terhadap anak anak kalian (oleh Muslim dalam Al Hibat 3/1244, 1623)

Hadits ini bersifat perintah dalam bentuk ancaman, dan menunjukkan kewajiban bagi orangtua. Orang yang melanggarnya diangga berbuat kezaliman. Dan perintah adil pada anak ini sampai diulang 3 kali, sebagai penegasan.

Sebagian ulama mengatakan bahwa pada hari kiamat,  Allah akan menanyakan tanggung jawab orangtua kepada anak sebelum menanyakan tanggungjawab anak terhadap orangtua.

Barangsiapa mengabaikan pendidikan anak dan menelantarkan mereka, maka dia melakukan tindakan buruk. Mayoritas anak rusak gara gara orangtua. Sejak kecil mereka ditelantarkan dan tidak mendapat bimbingan dari orangtua sehingga ketika dewasa mereka tidak membaktikan diri kepada orangtua mereka.

☕▫☕▫☕▫☕▫☕

Teman, ternyata memang seram jika kita sampai tidak adil terhadap anak anak, kita telah masuk dalam kezaliman.

Sebuah perenungan juga bagi kita bahwa jika ada anak sulit taat dan berbakti, maka bisa jadi kita yang salah mendidik.

☕▫☕▫☕▫☕▫☕

For feedback please email to psychocoffeemorning@gmail.com

Jumat, 10 Juni 2016

Psycho Coffee Morning ☕ Oleh : Ani Ch, penulis buku & praktisi pendidikan keluarga Kemandirian (bagian 1)

Psycho Coffee Morning ☕

Oleh : Ani Ch, penulis buku & praktisi pendidikan keluarga

Kemandirian (bagian 1)

Dalam sebuah sesi training parenting, seorang ibu bertanya, "Apa sih gunanya mengajari anak makan tanpa disuapi? Anak jadi susah makan banyak, kotor krn makanan berceceran, lama juga akhirnya makannya, kan jadi ribet. Katanya untuk latihan kemandirian. Anak saya itu bisa makan sendiri, kan sudah cukup. Masak ya harus tiap hari dia makan sendiri, dia kan masih kecil. Saya ini, masih disuapi ibu saya sampai besar, ternyata bisa juga mandiri ketika besar, waktu sudah jadi ibu rumah tangga, saya akhirnya bisa juga masak, bersih2, ngurus rumah semuanya sendiri"

Ahhhh ibu...tapi Anda jadi orang yang agak mudah mengeluh, kurang sabar, & kurang telaten dalam menghadapi kesulitan..Lha anaknya makan lama & berceceran, kok ya ngersulo tho...

��������������������

Jawaban diplomatis kucoba dahulukan..aku nggak mungkin menghakimi sikap ibu yg mudah mengeluh ini....jadi kusampaikan bahwa untuk saat ini makan tanpa disuapi adalah media pematangan motorik kasar & motorik halus..kenapa di jaman dulu nggak penting, krn anak2 main fisik setiap hari, gobak sodor, petak umpet, lompat tali, bekel, dakon, dsb..dan ini cukup utk mematangkan motorik. Lha anak jaman sekarang waktu luangnya untuk televisi & gadget..kurang media pematangan motorik. Makannya aktivitas makan, yg menggerakkan bahu, siku, & pergelangan tangan bisa dianggap latihan motorik.

Sebenarnya memang semua aktivitas kemandirian fisik selain makan berkontribusi utk media 'latihan pematangan sistem motorik', dimana jika motorik matang maka akan mudah terbentuk atensi-konsentrasi, modal dasar belajar.

��������������������

Teman, makan tanpa disuapi adalah bagian dari keterampilan yg harus dikuasai anak agar memiliki kemandirian level 1 : kemandirian fisik, artinya kemandirian yg melebih banyak melibatkan aktivitas fisik. Apa saja selain makan...masih banyak
��Cuci tangan sendiri
��Makan minum sendiri
��Memakai & melepas baju
��Memakai & melepas atribut
��BAK & BAB sendiri
��Mandi & menyikat gigi
��Memberskan barang pribadi

��������������������

Teman, bukan cukup dengan membuat anak BISA melakukan itu semua. Meskipun setidaknya jika anak2 BISA, maka itu akan jadi bekal hidupnya di masa mendatang agar bisa 'melayani dirinya sendiri', sehingga tidak butuh banyak bantuan orang lain.

Yang tak kalah penting adalah bahwa anak2 juga TERBIASA melakukannya...dr kebiasaan dan rutinitas kemandirian fisik inilah yg akan melahirkan 'outcome' luar biasa.

Sebagaimana aktivitas renang bisa membuat jantung & paru2 lebih sehat, hanya jika RUTIN dilakukan, maka aktivitas kemandirian fisik ini juga bisa menghasilkan hal2 berikut jika bisa menjadi kebiasaan,
��tumbuhnya tanggung jawab pribadi
��munculnya daya juang & sikap tidak mudah mengeluh
��munculnya kemampuan mengendalikan diri.

Kok bisa? Bagi anak2 aktivits kemandirian fisik adalah "sesuatu yg tdk mudah dilakukan", nah jika yg "tidak mudah" ini sering dilakukan maka terjadilah banyak "pengalaman melakukan hal2 yg tidak mudah", sehingga dg pengalaman itu, terbentuklah karakter tsb diatas.

Sekali lagi TERBIASA, kebiasaan memunculkan pengulangan perilaku, pengulangan perilaku membentuk karakter, karakter tumbuh menjadi bagian kepribadian.

��������������������

 

Mama Belajar Template by Ipietoon Cute Blog Design