Tampilkan postingan dengan label Hebat Community. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hebat Community. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 Oktober 2016

*Pendidikan Karakter dalam perspektif Pendidikan berbasis Fitrah*

*Pendidikan Karakter dalam perspektif Pendidikan berbasis Fitrah*

Oleh: Ustadz Harry Santosa

Sampai hari ini walau banyak sekolah dengan bangga menyebut sekolahnya sebagai tempat mendidik karakter, namun sebenarnya mereka masih bingung apa sebenarnya definisi karakter. Mereka umumnya sibuk pada How dan What, namun tidak pernah bergerak ke Why.

Ketika ditanyakan apakah karakter itu dilahirkan (nature) atau dibentuk (nurture)? Maka hampir semuanya merasa ragu dan tidak yakin menjawabnya. Misalnya jika ada anak yang sejak kecil suka bersih bersih atau suka mengatur, apakah itu karakter? Jika itu disebut karakter, berarti karakter dilahirkan, lalu mengapa ada istilah membentuk karakter?

Jika semua karakter bisa dibentuk mengapa riset riset memperlihatkan bayi sudah memiliki moralitas bahkan spiritualitas sejak usia 3 bulan. Mengapa 1000 orang ditraining kepemimpinan sampai advance, namun hanya yang sejak kecil berbakat pemimpin yang akan mampu memimpin jauh lebih baik? Mengapa 1000 orang ditraining Photoshop sampai mahir, lalu hanya segelintir saja yang mampu mendesain dengan kreatif?

Pertanyaan kemudian menjadi meluas, apakah bayi lahir sudah bermoral? Apakah mendidik anak menjadi shalih lebih mudah daripada mendidik anak menjadi jahat? Apakah ada karakter yang dilahirkan dan ada karakter yang dibentuk?

Mari kita lihat studi kasus di bawah ini, kemudian kita bisa mengambil kesimpulan mengapa dan bagaimana pendidikan karakter itu sejatinya.

Studi Kasus

Banyak sekolah atau banyak keluarga homeschooling menetapkan beberapa Value atau Nilai Nilai di dalam lembaganya. Beberapa Value ini misalnya  terkait keimanan, kecerdasan, kedisplinan atau kemandirian dll. Mereka kemudian membrekadown masing masing value atau nilai itu menjadi beberapa level derivasinya dan menetapkan indikatornya untuk setiap jenjang usia.

Umumnya, indikator yang dibuat adalah checklist "anak mampu...." dan checklist "anak paham bahwa..."

Kompetensi tanpa Kegiatan

Dalam ranah pendidikan seringkali kita dengar kata kata, "bagaimana menanamkan nilai nilai", bagaimana mengadabkan anak dll. Lalu sayangnya di tataran praktis, kata "bagaimana" ini kemudian berwujud pada kumpulan check list "anak mampu..." atau "anak paham...". Kita sering terjebak pada mengilmui tanpa mengalami.

Kata "mampu" dan "paham" seringkali bukan berwujud kegiatan atau bukan diperoleh sebagai hikmah dari suatu aktifitas, tetapi penjelasan semata.

Misalnya anak mampu menjelaskan bahwa naik gunung itu perlu ketabahan, tolong menolong, kepemimpinan dstnya. Misal lainnya adalah anak memahami bahwa pemimpin itu harus adil, empati, dsbnya. Misal lainnya, anak memahami bahwa adab menuntut ilmu adalah respek pada ulama, mengimplementasikan ilmu dsbnya.

Lalu semua itu hanya berupa pengetahuan yang disampaikan, lalu anak anak menghafalnya dan pandai menjawab ketika ujian tiba. Kemudian kita bangga melihat deretan nilai nilai.

Jadi walaupun kita paham ada panduan "Adab sebelum Ilmu", semua pada akhirnya dibawa ke ranah Ilmu atau pengetahuan. Padahal Adab itu diperoleh dengan hikmah dari sebuah kegiatan yang dirancang agar anak anak betul betul antusias menjalankannya, kemudian hikmah diperoleh dari kegiatan itu sebagai pengalaman berharga yang berkesan sepanjang hayat.

Bisa dibayangkan jika anak anak mampu menjelaskan atau mampu melakukan ulang, lalu anak anak memahami 100% namun tidak pernah merasakan dan mengalaminya langsung dalam keseharian, maka benar benar akan muncul manusia yang ilmunya banyak namun tak beradab karena tidak memiliki hikmah dimana hikmah hanya diperoleh dengan mensyukuri diri dan lingkungan melalui pengalaman.

Begitulah turunnya alQuran memberikan hikmah luarbiasa. AlQuran turun ayat demi ayat sesuai peristiwa yang dialami Nabi SAW dan para Sahabat, sehingga adab terbangun dari pensikapan mereka atas peristiwa yang terjadi, bukan sekedar Nabi SAW membacakan lalu para Sahabat menghafalnya.

Ketika para Sahabat ditanya mengapa hafalan mereka amat lambat bertambah, mereka pun mengatakan, "kami tidak menambah hafalan kami sampai kami mengamalkan apa yang telah kami hafalkan"

Sungguh anak anak kita memerlukan kegiatan hebat yang menginteraksikan fitrahnya dengan alam dan kehidupan nyata serta tadabur ayat Qouliyah agar mereka memperoleh hikmah hikmah yang mendalam sehingga menjadi Adab yang muncul dari dalam jiwa mereka (intrinsic motivation atau niat yang kuat)

Berkegiatan adalah fitrah manusia. Dan fitrah manusia memerlukan interaksi pengalaman dengan alam dan kehidupan agar tumbuh paripurna. Ingat bahwa antusia dan ghairah tidak bisa ditumbuhkan dengan pembiasaan dan stimulus.

Kompetensi tanpa Potensi ( "Mampu" tanpa "Mau")

Selain berkegiatan, hal yang penting untuk membangun karakter adalah menemukan "mau" atau potensi dari anak anak kita. Tentu saja "mau" atau "potensi" yang berangkat dari sifat produktif.  Menemukan "mau" anak kita adalah menyadari bahwa manusia bukan mesin yang bisa dipaksa bekerja serta bukan komputer yang bisa dijejalkan data.

Munculnya generasi yang hanya menjadi human thinking dan human doing bukan human being (insan kamil) adalah karena banyak sistem pendidikan hanya fokus pada bagaimana anak bisa dan mampu bukan apakah anak mau selaras potensi fitrahnya.

Karena tidak pernah berempati pada "mau" atau "potensi fitrah" anak seperti keunikan anak atau fitrah bakat maka umumnya kompetensi sering mengabaikan unsur fitrah.

Umumnya kompetensi didefinisikan sebagai A.S.K (Attitude, Skill, Knowledge) semata. Dalam profesi atau karir semestinya kompetensi itu meliputi T.A.S.K (Talent, Attitude, Skill, Knowledge), dalam skala yang lebih manusiawi harus meliputi semua aspek fitrah bukan hanya talent.

Jika abai terhadap fitrah, maka sudah bisa diduga bahwa metode yang digunakan adalah behaviorism seperti drilling, pembiasaan (conditioning), iming iming dan pemaksaan (reward n punishment), rangsangan (stimulus) dsbnya. Ujung ujungnya muncul menjadi check list bisa dan mampu yang pro cognitive semata.

Banyak sekolah atau keluarga karena juga masih akademik oriented bukan fitrah oriented, sehingga sangat sulit mengangkat "mau anak" atau "potensi fitrah anak" sebagai basis membangun moral karakter ( jujur, berani, mandiri, amanah dll).

Padahal kita tahu bahwa moral karakter akan menguat ketika anak anak dibantu untuk tumbuh sesuai potensi fitrahnya. Anak yang mengenal potensi dirinya dengan baik atau "kutahu yang kumau" lalu difasilitasi untuk dikembangkan potensinya itu sehingga menjadi performance character akan jauh lebih mudah untuk dibangun moral karakternya.

Di masa Nabi SAW, potensi para Sahabat dikenali dan dihargai dengan baik, kemudian penugasan penugasan senantiasa selaras dengan potensi unik mereka masing masing sehingga menjadi kinerja terbaik. Kita tidak pernah melihat Umar bin Khattab RA ditugaskan menjadi panglima perang, Abdurrahman bin Auf RA menjadi pencatat hadits, Abu Hurairah RA sebagai pencari dana, Abu Bakar RA sebagai duta atau delegator dsbnya.

Potensi unik inilah yang kita sebut dengan fitrah bakat atau karakter kinerja, dimana manusia akan hebat kinerjanya jika apa yang dilakukannya relevan dengan potensi unik dirinya atau potensi fitrahnya.

Performance Character vs Moral Character

Dalam Islam ada 2 tema pusat dalam mendidik yaitu Fitrah dan Adab. Pendidikan yang seimbang antara fitrah dan adab akan melahirkan generasi yang hebat perannya dan mulia adabnya.

Jika potensi fitrah ditumbuhkan maka kelak akan menjadi Peran terbaik dan produktif, inilah karakter kinerja (performance character). Karakter kinerja ini amat terkait dengan potensi bawaan manusia.

Jika adab dikuatkan dan direlevankan dengan potensi fitrah maka kelak peran peran terbaik tadi akan menjadi jauh lebih bermanfaat, bermartabat atau mulia yang kita namakan dengan Beradab, inilah karakter moral (moral character). Karakter moral ini amat terkait dengan value atau nilai nilai yang diyakini.

Jadi ada karakter yang dilahirkan terkait dengan potensi Fitrah, ini sejatinya hanya memerlukan aktifasi untuk ditumbuhkan dari dalam (inside out) dan ada karakter yang dibentuk terkait Adab, ini sejatinya terkait dengan nilai nilai yang diyakini atau Kitabullah. Keduanya harus berjalan seiring, fitrah yang tumbuh paripurna akan mudah diadabkan menjadi mulia.

Karenanya dalam pendidikan karakter perlu diperhatikan keseimbangan untuk tiap tahapan usia antara menumbuhkan potensi fitrah dan memperkuatnya dengan nilai nilai Adab. Potensi fitrah saja yang ditumbuhkan tanpa  penguatan Adab akan menjadi peran peran hebat namun tak beradab, sementara penguatan atau penanaman Adab tanpa memperhatikan potensi fitrah dan penumbuhannya akan menyebabkan peran yang tidak produktif, mekanistik dstnya.

Dahulu mengapa nilai nilai alQuran dan alhadits amat mudah diterima oleh para Sahabat, karena selain alQuran dan alHadits selaras dengan fitrah juga karena potensi fitrah para Sahabat telah ditumbuhkan secara paripurna melalui tarbiyah yang baik oleh Rasulullah SAW sehingga fitrah yang tumbuh hebat akan mudah disempurnakan oleh Adab yang mulia.

Salam Pendidikan Peradaban

#pendidikanberbasisfitrah dan akhlak
#fitrahbasededucation

Rabu, 20 Juli 2016

ANAK ANAK KORBAN LOMBA BY UST. ADRIANO RUSFI (psikolog)

Anak Anak Korban Lomba
By: Ust. Adriano Rusfi (Psikolog)

Bulan Ramadhan memang bulan lomba, karena kita diminta untuk berlomba-lomba dalam kebaikan : fastabiqul khairat. Maklumlah, pada bulan ini pahala akan dilipatgandakan hingga 700 kali lipat. Mungkin karena motivasi ini, maka televisipun berlomba-lomba mengadakan perlombaan bertema Ramadhan, khususnya untuk anak-anak. Ada lomba dakwah, ada lomba tilawah, ada lomba tahfidz dan sebagainya.

Tak perlulah kita meragukan niat baik mereka, baik televisinya maupun penggagasnya. Lagi pula, di acara-acara tersebut berkumpul orang-orang baik. Saya melihat sejumlah da’i, muballigh, hafidz, qari’, tokoh masyarakat, dan pesohor. Sekian banyak orang tua hadir dengan rasa haru. Anak-anak tampil dengan penuh semangan dan pesona. Dan para pemirsapun menyaksikannya sebagai sebuah sajian Ramadhan yang nyaman di hati.

Saat ini saya tak ingin membahas : telah patutkah anak usia 4 tahun dipesantrenkan untuk menjadi seorang hafidz belia ? Karena yang ingin saya bahas adalah : sudah patutkah mereka mengikuti sebuah perlombaan serius ? Pertanyaan ini kembali mengggugah saya, saat melihat kaki-kaki mungil itu tampak gemetar di atas pentas, saat melihat wajah lugu yang gelisah, saat menyaksikan air mata dan kekecewaan harus melekat di wajah tanpa dosa karena harus tereliminasi.

Saya harus menjawabnya dengan terlebih dahulu membedakan rentang usia para bocah. Ada bocah berusia di bawah 7 tahun, dan ada bocah berusia 7 sd 12 tahun. Untuk bocah berusia di bawah tujuh tahun, harus saya katakan bahwa TAK SATUPUN LOMBA PANTAS UNTUK MEREKA.

Ini bukan usia lomba, ini bukan usia berkompetisi, ini bukan usia menang-kalah. Ini adalah usia individual, di mana setiap orang adalah pemenang, tak ada yang kalah. Mereka tak siap kalah… mereka tak pantas kalah… dan mereka belum perlu merasakan kekalahan. Karena Si A adalah Si A, tak perlu dibandingkan dan ditandingkan dengan Si B.

Sedangkan usia 7 hingga 12 tahun, ini memang usia lomba. Mereka telah berubah dari periode playing kepada gaming. Mereka sudah mengenal dan perlu diperkenalkan dengan perbandingan dan perbedaan. Sudah saatnya mereka tahu ada yang cepat dan lebih cepat, sudah saatnya mereka paham ada yang lemah dan yang kuat, sudah saatnya mereka untuk menerima kemenangan dan kekalahan. Bahkan, ini adalah usia di mana hukum rimba berlaku : siapa kuat dia berkuasa.

Tapi, perlombaan dan pertandingan yang cocok untuk mereka adalah fun and happy competition : memperlombakan sebuah permainan dan kelincahan masa kecil. Ya, bukan sebuah perlombaan yang serius, bukan perlombaan kompetensi atau perlombaan kehebatan. Ini adalah masa forming, bukan performing.

Ayahbunda… usia mereka masih panjang dan hidup ini bagai sebuah lari marathon. Jadikanlah mereka menjadi pemenang di akhir usianya. Jangan bikin mereka bagai sebuah kesebelasan sepakbola yang digdaya di babak penyisihan, namun malah babak-belur di babak maut, karena kehabisan energi dan motivasi.

```TANTRUM DALAM PERSPEKTIF PRAKTISI HOME EDUCATION```

```TANTRUM DALAM PERSPEKTIF PRAKTISI HOME EDUCATION```

Kamis 14 Juli 2016
Grup Bdg1 HEbAT on CBE

Notulen: Rasi Yugafiati

���� Kalo anak usia kurang dari 2 tahun atau yg kemampuan komunikasinya belum lancar, yg pertama dilakukan anaknya dipeluk. Kalo ga mau dipeluk, ditemenin aja disampingnya sambil ttp diajak ngobrol sambil cari ide buat mengalihkan perhatian ke hal yg disukai. Nanti kalo udah tenang atau si anak udah teralihkan, bisa diajak cerita lagi ttg kejadian yg tadi bikin tantrum. Kalo anaknya sudah lancar bicara, udah bisa diajak ngobrol,. Kalo pas tantrum, ya tetep aja diajakin ngobrol, ditanya baik2, sedihnya kenapa.

���� Berusaha sebisa mungkin ga jadi ikutan emosi ya hehe ��. Kalo yg saya pahami, anak2 tantrum itu salah satunya karena ya memang itu cara yg mereka baru bisa untuk mengekspresikan kemarahan, kekecewaan. Jadi cara handlenya ya secara bertahap berusaha membantu anak melogiskan kejadian yg dialami, lewat dialog, jaga intonasi, jaga emosi. Anak itu sensitif banget trhdp perubahan intonasi, meskipun pesan yg disampaikan baik atau tidak memarahi. Anak kan mencontoh kita. Kalo kita merespon kemarahan dg emosional, ngebanting barang, ya anak juga makin mencontoh. Dan percayalah...ini mesti sabar, karena anak belajarnya ga instant. Oh iya jangan lupa apresiasi anak kalo ada perkembangan dlm menghandle emosinya. Misal sebelumnya nangis sambil guling2, yg berikutnya cuma nangis aja..nah ini kasih pujian ke anak. Punten itu aja yg bisa dishare...ini juga masih perlu banyak belajar. #bapak1anak.

���� Sedikit nambahin, mereka anak anak sebenarnya ingin mengungkapkan sesuatu,ingin berkomunikasi dg kita, tapi belum tahu atau tidak tahu caranya bagaimana, sehingga yg keluar ya spt itu, dan ortunya memang harus extra sabar dan mencoba mengerti maunya anak apa��. Pelukan, Usapan lembut ke kepala atau punggung, bisikan dg kata kata bujukan, adalah beberapa cara yg kami terapkan ketika si.bungsu tantrum. Dan biasanya diakhiri dg minum air putih.

Saya dulu pertama juga begitu, ketika anak menyapih anak bungsu, si anak klo nangis dah heboh, tetangga ampe dateng nanyain, bwlum kalo tengah malam sering banget bangun dan nangis. Pikir kena apa gitu ampe dibaca bacain, lha ora ngepek��. Akhirnya setelah tau ilmunya, pelan pelan mulai bisa "menguasai" keadaan ketika hal tsb terjadi. "Komunikasi Produktif", "Bahasa bunda/ibu?", "Ilmu memeluk anak", 3 buku yg bagus untuk dibaca��

���� tantrum adalah cara bagaimana balita mengekspresikan luapan emosinya.. Tugas kita mendampingi & membantunya malabeli & meluapkan emosinya dengan bijak..
Children see children do, bagaimana orangtua meluapkan emosinya, itulah yg akan anak tiru dalam meluapkan emosinya..

Anak saya Usia 3 th, menurut teori sedang masa threenager yg emosinya meledak2. Alhamdulillah sependek pengamatan,  anak Kami termasuk kategori minim tantrum. Sependek ini, saya & suami mempraktekan konsep dasar menangani tantrum dr pak Angga Setiawan.
Ada 2 jenis tantrum:
1. Emosi (karena sakit, kecewa, lapar, capek dll)
Jika tantrum karna emosi, maka bantu melabeli emosinya & kita terima lalu salurkan..
Jika tantrum karena stra
2. Strategi (karena menginginkan sesuatu)
Maka ortu sebaiknya abaikan agar anak faham bahwa itu bukan cara yang tepat untuk meminta & tidak jadi kebiasaan..
Sebagai ikhtiar meminimalisir tantrum, Kami mengedepankan negosiasi sebagaimana disarankan bu Elly Risman & bu Septi.. Karena anak Kami masih 3 tahun maka Kami membuat Deal Board..

Deal board berisi poin2 kesepakatan antara kami & Lulu. Diawali dengan dialog "why" kenapa hal2 tsb perlu disepakati.. Lalu dibuatkan gambar sebagai ilustrasi (karna belum bisa baca), lalu di cap jempol tanda sepakat.. Hehe.  Seru2an karena dunia anak adalah bermain..

Salah satu kesepakatannya, jika lulu berbicara dengan berteriak/menangis maka bunda/Ayah tidak merespon..

1. Setelah mandi & sarapan boleh main sepeda diluar
2. Berbicara sambil berteriak atau menangis maka bunda/Ayah tidak merespon
3. Uang jajan sehari 2.000
4. Muraja'ah sebelum dibacakan cerita

Poinnya disesuaikan dgn situasi & karakteristik keunikan anak kami..��

���� Anak sy sebulan kmrn (lg ramadhan) sering bangun tiap malam dan nangis kenceng awalnya kaget tp spt halnya pak muji elmu meluk, bahasa bunda & komunikasi produktif jd solusi,

Wl sesekali ttp ngamuk & di pagi harinya fatimah anteng watados kyk g ada kejadian apa2 mlmnya ��

���� Tantrum istilah yg baru sy kenal krg lebih 2-3 thn kebelakang, sdgkan anak yg sulung sdh 10thn jd sy tdk menggunakan kiat2 mengatasi tantrum scra khusus klau anak2 emosinya sdg tdk stabil.

Sy menggunakan pola asuh orangtua (terutana mama) yg bliau terapkan kpd 5 anaknya. Orangtua sy cenderung "Minim Aturan". Beliau banyak memberi kebebasan pd anak2nya utk bermain, bereksplorasi, berelasi, berekspresi. Supportnya luar biasa jika anak2nya mau dan berani menampilkan apa yg disukai.

Ingat betul masa kanak2 km dipenuhi bunga2 keceriaan. Mama srg menceritakan masa2 kecilnya di kampung, sering menyanyikan lagu2 melayu dan daerah, klau mlm rame2 kami mendengarkan sandiwara radio. Mama jg rajin menginspirasi kgtn di rumah; bikin boneka kain, menyulam, bikin bunga2 dr kertas krep, bikin kue kering, dsb.

Eksplorasi di luar apalagi. Main di kebun rambutan, main di dlm got, main di sekitar kuburan masjid, eksplorasi di pinggir sungai yg ada buayanya. Bermain dg anak supir bajaj, anak warung, anak pak lurah, anak pak polisi, dll. Kuncinya, ortu berpesan agar kami saling menjaga.

Oya, ingat jg. Masa 0-2 thn kami berlima alhamdulillah full ASI, bhkn ada yg lebih. Alhamdulillah km berlima tdk ada yg tantrum (istilah sekarang), jd bisa dikatakan masa individualitas km tuntas.

Nah pola asuh tsb teh yg km terapkan pd anak2 saat ini, dg penyesuaian2 tentunya.

Di mulai sebelum nikah, benih2 fitrah orangtua sdh mulai ditanam.

Sy cuplik dr buku Prophetic Parenting, hal 67-75:
*Karakter Pendidik Sukses*
1. Tenang dan Tidak terburu buru
2. Lembut dan tidak kasar
3. Hati yang penyayang
4. Memilih yang termudah selama bukan dosa
5. Toleransi
6. Menjauhkan diri dari marah
7. Seimbang dan proporsional
8. Selingan dalam memberi nasehat.

Happy sharing��

Jumat, 10 Juni 2016

Apa itu Home Education?

Apa itu Home Education?

Ass.wr.wb
Ayah bunda apa kabar, tetap semangat ya...

Ayah Bunda yg baik,

Home Education atau home based education atau pendidikan berbasis rumah adalah amanah dan kesejatian peran dari setiap orangtua yg tak tergantikan oleh siapapun dan tdk bisa didelegasikan kpd siapapun.

HE bukanlah memindahkan persekolahan ke rumah, bukan pula menjejalkan (outside in) berbagai hal kpd anak2 kita  namun membangkitkan dan menumbuhkan (inside out) potensi fitrah2 dalam diri kita dan anak2 kita agar mencapai peran sejati peradabannya dengan semulia2 akhlak.

Rumah2 kita adalah miniatur peradaban, bila potensi fitrah2 baik bisa ditumbuhsuburkan dan dimuliakan di dalam rumah2 kita maka secara kolektif menjadi baik dan mulialah peradaban.

Setiap anak kita setidaknya memiliki 4 potensi fitrah sejak dilahirkan:

1. Potensi fitrah keimanan, setiap bayi yg lahir pernah bersaksi bhw Allah sbg Robb. Maka setiap bayi yg lahir pd galibnya mengenal dan merindukan sosok Robb.
2. Potensi fitrah belajar, setiap bayi yg lahir adalah pembelajar tangguh sejati
3. Potensi fitrah bakat, setiap bayi yg lahir adalah unik, memiliki sifat bawaan yg kelak akan menjadi panggilan hidup dan peran spesifik nya di muka bumi
4. Potensi fitrah perkembangan, setiap bayi sampai aqilbaligh dan sesudahnya, memiliki tahap2 perkembangan yg harus diikuti. Tdk berlaku kaidah makin cepat makin baik.

Ke 4 potensi fitrah ini sebaiknya simultan, seimbang dan terpadu. Kurang salah satunya akan memberikan hasil yang tidak paripurna. Jika pendidikannya benar dan tepat, maka resultansi dari ke 4 fitrah ini adalah insan kamil yang memiliki peran peradaban.

Fitrah bakat tanpa fitrah keimanan akan melahirkan talented professional yang berakhlak buruk, begitupula sebaliknya fitrah keimanan tanpa fitrah bakat akan melahirkan orang2 beriman yg paham agama namun sedikit bermanfaat.

Lihatlah mereka yang berbakat menjadi pemimpin tanpa akhlak maka akan menjadi diktator. Begitupula mereka yang bertauhid tanpa bakat, akan sangat sedikit memberi manfaat.

Fitrah belajar tanpa fitrah keimanan akan melahirkan para sciencetist dan innovator yang berbuat kerusakan di muka bumi, begitupula sebaliknya fitrah keimanan tanpa fitrah belajar akan melahirkan generasi agamis namun mandul dan tidak kreatif.

Fitrah belajar tanpa fitrah bakat akan melahirkan pembelajar yang tidak relevan dengan jatidirinya, begitu pula sebaliknya, fitrah bakat tanpa fitrah belajar akan melahirkan orang berbakat yang tidak innovatif. Berapa banyak kita lihat orang yang bakatnya hanya berhenti sebagai hobby semata.

Semua fitrah personal itu jika tidak ditumbuhkan sesuai fitrah perkembangannya akan membuat generasi yang tidak matang dan tidak utuh menjadi dirinya.

Fitrah belajar dan fitrah bakat yang tumbuh bersamaan dengan fitrah keimanan melahirkan generasi yg inovatif, produktif dan berakhlak mulia. ✅

Q&A Kulwapp Hebat Community , "Fatherhood"

1⃣ bunda Dita, Semarang
assalamu'alaikum...
pada keluarga yg ayahnya lbh sering tidak di rumah karena pekerjaan (minimal 200hari di lapangan) shg tidak bs optimal menjalankan poin2 tsb, kira2 poin mana yg bisa digantikan oleh ibu anak2 dan mana poin yg tidak boleh sama sekali digantikan?
terima kasih....

Waalaikumsalaam Bunda Dita dan ayah bunda semua

Terkait peran ayah, pada prinsipnya peran-peran tersebut *Tidak Bisa Digantikan*

Hal ini adalah prinsip, dan untuk kita para ayah, kita harus betul-betul memahami ini dan menjadikan ini standar kita. Bahwa tanggung jawab dan peran kita di tengah keluarga itu Tidak Tergantikan.

Ini adalah prinsip. Ini adalah "Aqidah" seorang ayah yang total dengan tanggung jawabnya.

Adapun dalam pelaksanaannya, kita bisa meminta keterlibatan istri untuk menjadi pendukung dan pelanjut peranan kita saat kita sedang tidak di rumah.

Jadi untuk peran sebagai pemimpin keluarga, teladan, guru, pelatih, mentor, dll itu, kita HARUS selalu berperan.

Jika situasi menuntut kita secara berkala harus pergi jauh, pada saat itu, rencana kita, arahan kita, panduan kita untuk keluarga bisa dititipkan pada istri.

Namun sebelum itu, saat kita sedang bersama keluarga, sehari-hari bersama, kita harus memastikan semua peran dan tanggung jawab itu kita lakukan langsung.

Jadi kita harus mengatur bagaimana DEFAULT nya adalah kita bersama keluarga kita, hadir dan berperan di tengah-tengah mereka. Situasi di mana kita harus meninggalkan keluarga karena tugas untuk sementara waktu adalah kondisi sewaktu-waktu saja, bukan defaultnya begitu.

Demikian menurut saya. Monggo kalau ada tanggapan dari Bunda Dita atau dari ayah bunda yang lain ✅

2⃣ Ayah Eri - Bekasi
Bagaimana utk ayah menjalankan peran fatherhood-nya smntara pkerjaannya menuntut ia bekerja jauh dr keluarga (di luar kota/negeri) utk jngka waktu yg ckp panjang, smntra tdk terlalu memungkinkan utk pulang pergi secara intens?

Baik, saya akan langsung tanggapi ya.

Inti pertanyaan dari Ayah Eri ini "bagaimana", artinya ini bersifat teknis.

Sebelum masuk ke teknis, pastikan dulu bahwa standar kita tentang keharusan berperan memimpin dan memelihara keluarga sudah pada standar tertinggi.

Kalau standarnya sudah poll, saya yakin seorang laki-laki akan melakukan apapun untuk sesuatu yang sangat dipentingkannya.

Bahasa gampangnya, kalau sudah betul betul penting dan tidak ada kompromi, seorang laki-laki siap untuk nekat melakukan apapun demi tujuan dan kepentingannya tercapai.

3⃣ Bunda Fajri - Makassar.
Bagaimana menyikapi ayah yang tidak bisa membentuk visi misi hidup untuk keluarga, padahal telah sering didorong oleh istrinya, bagaimana tips mendorong ayah untuk bisa mempunyai semangat untuk menjadi coach/mentor untuk keluarganya, sehingga tidak hanya berlabel "suami" saja. Dan bagaimana seharusnya sikap suami terhadap seorang istri yang cenderung dominan dalam keputusan dalam keluarga, karena sikap dominannya terkadang karena sang ayah cenderung bersikap seolah cuek.  Terima kasih

Terima kasih Bunda Fajri untuk pertanyaannya. Ini memang pertanyaan mendasar untuk umumnya ayah di indonesia.

Perlu dipahami bahwa pada tiga atau dua generasi terakhir, laki-laki tumbuh dalam dunia yang menggambarkan mereka sebagai pekerja, bukan sebagai pemimpin keluarga, dan oleh karena itu umumnya kami para lelaki dewasa tidak memiliki konsep tentang keluarga dan tidak memiliki gambaran yang jelas tentang tanggung jawab dan peran kami di dalam keluarga.

Ini seperti bahwa di masyarakat kita ada fase di mana para muslimah berusaha untuk mengembalikan pemahaman bahwa berhijab itu wajib dan merupakan mandat hidup setiap muslimah. Dahulu memang standarnya yang penting wanita itu berpakaian dan berperilaku santun. Namun para muslimah berjuang bersama untuk melengkapi standar kesantunan itu dengan juga memenuhi kewajiban berhijab.

Saat ini dunia para ayah, memang punya PR sendiri. ya ini, kesadaran bahwa menjadi pemimpin keluarga, dan menunaikan kewajiban memelihara, memandu, dan memimpin keluarga adalah keharusan yang tidak bisa ditawar.

Karena itulah saya juga merasa berkewajiban untuk ikut terlibat dalam gerakan penyadaran bagi para ayah.

Jadi yang ingin saya tekankan di awal adalah : ini adalah kewajiban kaum laki-laki, kewajiban para ayah untuk saling mengingatkan.

Terlebih karena pada kenyataannya laki-laki itu cenderung lebih mudah mendengarkan dan mengikuti arahan dari sesama laki-laki, terutama dari mereka yang tampak lebih senior, lebih bijak, lebih berilmu, lebih punya otoritas, atau lebih dihormati.

Saya menyimpulkannya secara sederhana dalam kalimat ini "Tugas istri adalah mendengarkan suaminya, tugas suami adalah mendengarkan orang yang lebih berilmu dari kalangannya".

Maka ada 2 hal yang bisa dilakukan oleh seorang istri untuk membantu suaminya membangun kesadaran dan kesungguhan untuk menjadi ayah yang sejati.

1. Jadilah istri yang sebaik-baiknya. Berikan yang terbaik pada suami dan keluarga. Dengan ini saya yakin Allah akan menjadikan keluarga anda semakin menyenangkan, berkah, dan nyaman. Hal ini kemudian saya yakin akan dirasakan oleh sang suami. Ia merasakan bahwa yang paling mendengarkan, menghormati, dan menyenangkannya adalah istrinya. Tempat yang paling nyaman baginya adalah rumahnya.

Semua kebaikan yang dilakukan istri akan memberikan pengaruh positif pada sang suami, dan akan membangun persepsi yang semakin positif tentang rumah dan keluarga pada pikiran sang suami.

Jadikanlah sang suami sebagai tempat bertanya dan meminta saran dalam apapun. Tempatkan sang suami sebagai "raja" di rumah. Berikan apapun yang bisa diberikan. Pada akhirnya itu semua adalah ibadah, dan Allah pasti akan menghargai semua yang telah diikhtiarkan oleh sang istri.

Berikutnya yang kedua :

Bantu dan mudahkan suami untuk semakin baik dalam beribadah dan berjamaah. Mudahkan suami untuk bisa shalat berjamaah di masjid, berinteraksi dengan orang lain yang lebih berilmu, dan menjadi dekat dengan sumber-sumber ilmu.

Bukan dengan disuruh atau diceramahi "ayo tho Pah, sholat itu mbok ya di masjid. wajib lho!"

Bukan begitu.. senep nanti sang suami ������

Carilah cara yang halus dan menyenangkan ��

Misalnya : setiap mendekati waktu sholat, pastikan sudah tersedia baju koko, sarung, atau apapun yang suami butuhkan untuk bisa sholat di masjid.

Kalo weekend, bisa minta diantar ke kajian atau ceramah.

Kalau punya rejeki lebih, bicarakan dengan suami apakah bisa rejeki tersebut digunakan untuk membantu tetangga yang kekurangan, barangkali di lingkungan sekitar ada anak yatim atau keluarga miskin.

Ketika istri bisa menciptakan keseharian yang kondusif, penuh semangat ibadah dan muamalah, Insya Allah suami akan juga bersentuhan dengan sumber sumber ilmu dan kebaikan.

Adapun untuk situasi di mana istri dominan dan suami cuek..

Langkah 1 : sang istri harus bisa menahan diri. Kalau istri bersikap dominan, tentu ini justru menghambat suami untuk sepenuhnya berperan sebagai pemimpin keluarga.

Kalau di rumah banyak masalah yang perlu sentuhan dan arahan sang ayah namun kok kelihatannya sang ayah tidak juga bertindak, tanyakanlah baik-baik. minta saran dan arahan. tetap tenang dan tidak perlu panik.

kalau keburu panik, istri bisa jadi ngga sabaran kan? jadi nggrusa-nggrusu, gelisah, emosional.. ya kalau begitu umumnya para laki-laki memang bakal jadi jengah dan akhirnya jadi cuek..

Jadi, kalau disederhanakan : bantu dan mudahkan sang ayah untuk merasakan bahwa dialah bos dan pemimpin perusahaan ini ��

Kabar baiknya : umumnya laki-laki paling senang dipercaya dan diandalkan. mereka akan sangat bersemangat di tempat di mana mereka merasa paling dihargai dan dibutuhkan. so, simpel sebenarnya kan ? pastikan sang ayah merasa di rumah dia adalah CEO atau Direktur. Maka dia akan berperilaku sebagai CEO di rumah ��

Situasi di setiap keluarga tentu tidak sama persis. Namun secara garis besar menurut saya seperti itu ✅

. Pertanyaan bunda Fajri - Makassar,
hampir sama isinya dengan:
- bunda Nesri - Bogor
- bunda Diah - Bogor
>> Bagaimana jika ibu yang lebih concern masalah misi hidup?
*misi hidup dan turunannya, suami tinggal manut (ikut ��)= istri DOMINAN

Solusinya : Ilmu.

Laki-laki yang menjalani hidup sekedar secara praktis dan pragmatis, hidupnya fokus di kerja kerja kerja saja.. yang dia butuhkan adalah ilmu tentang hidup. ia membutuhkan pencerahan. dan jalan satu-satunya adalah dengan menjadi seorang muslim yang lebih baik.

Supaya suami tergerak mencari ilmu, pastikan istri tidak hanya menunjukkan kebutuhan didukung secara finansial dan praktis saja. istri perlu menempatkan suami sebagai tempat bertanya dan meminta panduan. hargai panduannya seperti apapun yang bisa seorang suami berikan saat ini. seiring waktu saya yakin sang suami merasa ia harus belajar dan mencari ilmu lebih banyak agar ia dapat memberikan arahan dan solusi yang lebih baik untuk pertanyaan pertanyaan istrinya.

Salah satu yang menurut saya akan sangat efektif membantu para ayah menjadi lebih baik adalah : jika para istri semakin membaikkan adab dan penghormatannya pada suami.

Coba kalau kita lihat bagaimana ibu atau nenek kita berkomunikasi dengan ayah atau kakek kita. Kita terlihat ada tata krama dan unggah ungguh yang betul betul dijaga, maka cobalah juga berkomunikasi seperti itu dengan suami anda. jadi tidak seperti obrolan antara teman kuliah, atau sekedar obrolan dua orang manusia yang sama sama dewasa.

4⃣ Pak Khaerudin - Bogor
Mau bertanya Bagaimana langkah  seorang ayah menjadi seorang konselor bagi keluarganya?

Agar Ayah bisa menjadi konselor bagi keluarganya, mulailah bergeser dari sekedar menjalani hidup ini di tengah pekerjaan dan kesibukan praktis pragmatis, mulailah memahami dan menjalani hidup ini secara utuh.

Renungkanlah tentang hidup. Tentang Allah dan apa tujuan Allah menghadirkan kita ke dunia, memberikan kita keluarga, dan menghadapkan kita dengan berbagai tantangan kehidupan.

Saat kita para lelaki yang sudah berkeluarga ini mau mulai lebih merenungkan hidup, kita akan mulai merasakan kebutuhan akan ilmu, akan kebijaksanaan dan nasehat dari orang orang yang lebih berilmu.

Jika itu sudah ada dalam diri kita, kita sudah mulai menjalani hidup ini secara utuh, saya yakin di saat yang sama kita semakin siap untuk memberikan arahan dan jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan yang hadir dari istri dan anak-anak kita.

Kita akan juga mulai peduli untuk memahami hidup istri dan anak-anak kita. Kita mau mencari tahu dan berusaha memahami apa sih yang dihadapi oleh istri dan anak-anak kita.

Insya Allah dengan begitu kita mampu berperan sebagai pemandu, pendengar, dan pendamping istri dan anak-anak kita dalam menjalani kehidupan meraka.

RESUME KULWAPP HEBAT COMMUNITY


HEbAT Semarang Community
Kulwap Materi Lanjutan dengan Tema  "Fatherhood" 

Bersama  
Narsum: ayah Firman Muhammad
Host : bunda Feby

�� Jumat, 03 Juni 2016
⏰ 19.30-21.00 WIB

Judul :  *Amanah Ayah Sang Pemimpin Keluarga*

Kita sama-sama bersyukur bahwa kesadaran akan pentingnya seorang ayah/suami berperan nyata di tengah keluarga semakin dirasakan oleh semua orang. Memang sudah merupakah fitrahnya, keluarga hanya akan sehat dan kuat jika ayah/suami sebagai pemimpin keluarga sungguh-sungguh menjalankan peran dan tanggung jawabnya.

Kini saat kesadaran itu semakin menyebar, tidak sedikit yang bertanya-tanya sebenarnya apa saja peran ayah di tengah keluarga dan bagaimana cara menjalankan peranan tersebut. Sudah cukup banyak referensi yang mengkaji tentang hal ini.

Untuk sekedar memberikan kerangka diskusi kita, di sini saya mencoba merangkum apa saja tugas seorang ayah sebagai pemimpin dan pendidik dalam keluarga.

A. Memimpin Keluarga Menuju Akhirat

Membawa keluarga ke dalam kebenaran. Membawa ilmu yang benar ke dalam keluarga, dan mencontohkan amal yang benar dan konsisten dalam keluarga. Mampu memilah dan memilih antara yang haq dan bathil. Menjaga keluarga dari segala keburukan. Mampu menjadi hakim yang adil di dalam keluarga, dan mampu memelihara jamaah keluarga.

B. Menaungi/Memelihara Keluarga dalam Kehidupan Dunia

Tugas ayah adalah mencari nafkah yang halal dan barokah. Kemudian ia pun harus menyediakan tempat tinggal dan lingkungan yang baik untuk kehidupan keluarganya. Ayah juga ada pemelihara hubungan kekeluargaan dengan keluarga besar baik dari pihak sang ayah atau dari pihak keluarga sang istri. Mengenalkan anak-anaknya pada keluarga besar dan asal usulnya, menjaga silaturahim dengan mertua, dan saudara baik yang dekat maupun yang jauh.

C. Mengenal Diri dan Mampu Mewujudkan Misi Hidupnya

Menjadi ayah adalah salah satu amanah hidupnya. Di samping itu, ia adalah seorang manusia, seorang muslim, seorang anak, seorang anggota masyarakat. Sebelum mampu menjadi seorang ayah yang paripurna maka ia pun harus mampu memimpin dirinya sendiri.
      Hanya seorang ayah yang mampu mengenal diri dan mewujudkan misi hidupnya yang bisa menjadi teladan bagi anak-anaknya.

D. Memimbing Istri dalam Menyempurnakan Misi Hidupnya

Seorang suami harus mengenal sifat dan potensi istrinya dan memahami apa sebenarnya peran dan misi hidup istrinya baik sebagai istri/ibu/wanita/manusia. Setelah itu, lakukanlah apapun yang bisa dilakukan untuk mendukung istri menyempurnakan peran dan misi hidupnya.

E.Memandu Anak menuju Masa Depannya

Seorang ayah juga adalah pendidik dan pelatih bagi anak-anaknya. Ia harus mengenali anak-anaknya dan mampu membantu anaknya tumbuh berkembang menjadi manusia dewasa yang siap menjalani hidupnya di masa depan sesuai jalan hidup yang Allah berikan bagi masing-masing anaknya.
      Ayah harus mampu menjadi teman bermain bagi anak-anaknya, namun juga mampu melatih anaknya memasuki masa aqil baligh dengan baik untuk akhirnya menjadi manusia dewasa yang matang dan mandiri.

Dengan memahami peran-peran yang ada di atas, maka secara sederhana dapat kita simpulkan bawah dalam Pendidikan Keluarga di Rumah (Home Education), peran ayah adalah :

1. Seorang ayah adalah ulama, murobbi, dan da’i di tengah keluarga, baik itu keluarga inti maupun keluarga besar. Ayah lah yang harus paling bersungguh-sungguh untuk memahami ilmu agama. Paling bersungguh-sungguh mengenal dan menaati Allah. Begitu juga dalam mengenal Rasulullah dan mencontoh sunnah-sunnahnya. Ayah adalah pendidik, pembina, dan juga role model/teladan dalam hal ini.

2. Seorang ayah adalah teladan. Dalam aktivitasnya mencari nafkah, seorang ayah akan mencontohkan ketekunan, kesungguhan, kerja keras, serta kejujuran. Ayah mencontohkan pada anak-anaknya bagaimana menjadi manusia dewasa yang produktif dan mandiri. Istri dan anak-anak pun akan melihat bagaimana cara hidup bermasyarakat dan menjadi bagian dari suatu lembaga yang lebih besar seperti komunitas, lembaga, perusahaan, dan lain sebagainya.

3. Dalam kaitannya dengan poin C, D, dan E, Ayah adalah mentor, coach, atau fasilitator dalam proses mengembangkan hidup istri untuk mewujudkan misi hidupnya, serta membimbing anak-anak menuju masa depan mereka masing-masing.

4. Sebagai pelengkap, seorang ayah adalah pemelihara, pendukung, dan pelayan keluarga. Proses pendidikan dalam keluarga tentu membutuhkan sistem pendukung yang bisa menyediakan sumber daya, situasi, media, alat atau apapun yang dibutuhkan untuk memastikan proses berjalan optimal. Dibutuhkan totalitas ayah untuk bisa menyediakan apapun yang dibutuhkan dalam proses pendidikan di rumah.

 

Mama Belajar Template by Ipietoon Cute Blog Design