Tampilkan postingan dengan label parenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label parenting. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 Oktober 2016

*Pendidikan Karakter dalam perspektif Pendidikan berbasis Fitrah*

*Pendidikan Karakter dalam perspektif Pendidikan berbasis Fitrah*

Oleh: Ustadz Harry Santosa

Sampai hari ini walau banyak sekolah dengan bangga menyebut sekolahnya sebagai tempat mendidik karakter, namun sebenarnya mereka masih bingung apa sebenarnya definisi karakter. Mereka umumnya sibuk pada How dan What, namun tidak pernah bergerak ke Why.

Ketika ditanyakan apakah karakter itu dilahirkan (nature) atau dibentuk (nurture)? Maka hampir semuanya merasa ragu dan tidak yakin menjawabnya. Misalnya jika ada anak yang sejak kecil suka bersih bersih atau suka mengatur, apakah itu karakter? Jika itu disebut karakter, berarti karakter dilahirkan, lalu mengapa ada istilah membentuk karakter?

Jika semua karakter bisa dibentuk mengapa riset riset memperlihatkan bayi sudah memiliki moralitas bahkan spiritualitas sejak usia 3 bulan. Mengapa 1000 orang ditraining kepemimpinan sampai advance, namun hanya yang sejak kecil berbakat pemimpin yang akan mampu memimpin jauh lebih baik? Mengapa 1000 orang ditraining Photoshop sampai mahir, lalu hanya segelintir saja yang mampu mendesain dengan kreatif?

Pertanyaan kemudian menjadi meluas, apakah bayi lahir sudah bermoral? Apakah mendidik anak menjadi shalih lebih mudah daripada mendidik anak menjadi jahat? Apakah ada karakter yang dilahirkan dan ada karakter yang dibentuk?

Mari kita lihat studi kasus di bawah ini, kemudian kita bisa mengambil kesimpulan mengapa dan bagaimana pendidikan karakter itu sejatinya.

Studi Kasus

Banyak sekolah atau banyak keluarga homeschooling menetapkan beberapa Value atau Nilai Nilai di dalam lembaganya. Beberapa Value ini misalnya  terkait keimanan, kecerdasan, kedisplinan atau kemandirian dll. Mereka kemudian membrekadown masing masing value atau nilai itu menjadi beberapa level derivasinya dan menetapkan indikatornya untuk setiap jenjang usia.

Umumnya, indikator yang dibuat adalah checklist "anak mampu...." dan checklist "anak paham bahwa..."

Kompetensi tanpa Kegiatan

Dalam ranah pendidikan seringkali kita dengar kata kata, "bagaimana menanamkan nilai nilai", bagaimana mengadabkan anak dll. Lalu sayangnya di tataran praktis, kata "bagaimana" ini kemudian berwujud pada kumpulan check list "anak mampu..." atau "anak paham...". Kita sering terjebak pada mengilmui tanpa mengalami.

Kata "mampu" dan "paham" seringkali bukan berwujud kegiatan atau bukan diperoleh sebagai hikmah dari suatu aktifitas, tetapi penjelasan semata.

Misalnya anak mampu menjelaskan bahwa naik gunung itu perlu ketabahan, tolong menolong, kepemimpinan dstnya. Misal lainnya adalah anak memahami bahwa pemimpin itu harus adil, empati, dsbnya. Misal lainnya, anak memahami bahwa adab menuntut ilmu adalah respek pada ulama, mengimplementasikan ilmu dsbnya.

Lalu semua itu hanya berupa pengetahuan yang disampaikan, lalu anak anak menghafalnya dan pandai menjawab ketika ujian tiba. Kemudian kita bangga melihat deretan nilai nilai.

Jadi walaupun kita paham ada panduan "Adab sebelum Ilmu", semua pada akhirnya dibawa ke ranah Ilmu atau pengetahuan. Padahal Adab itu diperoleh dengan hikmah dari sebuah kegiatan yang dirancang agar anak anak betul betul antusias menjalankannya, kemudian hikmah diperoleh dari kegiatan itu sebagai pengalaman berharga yang berkesan sepanjang hayat.

Bisa dibayangkan jika anak anak mampu menjelaskan atau mampu melakukan ulang, lalu anak anak memahami 100% namun tidak pernah merasakan dan mengalaminya langsung dalam keseharian, maka benar benar akan muncul manusia yang ilmunya banyak namun tak beradab karena tidak memiliki hikmah dimana hikmah hanya diperoleh dengan mensyukuri diri dan lingkungan melalui pengalaman.

Begitulah turunnya alQuran memberikan hikmah luarbiasa. AlQuran turun ayat demi ayat sesuai peristiwa yang dialami Nabi SAW dan para Sahabat, sehingga adab terbangun dari pensikapan mereka atas peristiwa yang terjadi, bukan sekedar Nabi SAW membacakan lalu para Sahabat menghafalnya.

Ketika para Sahabat ditanya mengapa hafalan mereka amat lambat bertambah, mereka pun mengatakan, "kami tidak menambah hafalan kami sampai kami mengamalkan apa yang telah kami hafalkan"

Sungguh anak anak kita memerlukan kegiatan hebat yang menginteraksikan fitrahnya dengan alam dan kehidupan nyata serta tadabur ayat Qouliyah agar mereka memperoleh hikmah hikmah yang mendalam sehingga menjadi Adab yang muncul dari dalam jiwa mereka (intrinsic motivation atau niat yang kuat)

Berkegiatan adalah fitrah manusia. Dan fitrah manusia memerlukan interaksi pengalaman dengan alam dan kehidupan agar tumbuh paripurna. Ingat bahwa antusia dan ghairah tidak bisa ditumbuhkan dengan pembiasaan dan stimulus.

Kompetensi tanpa Potensi ( "Mampu" tanpa "Mau")

Selain berkegiatan, hal yang penting untuk membangun karakter adalah menemukan "mau" atau potensi dari anak anak kita. Tentu saja "mau" atau "potensi" yang berangkat dari sifat produktif.  Menemukan "mau" anak kita adalah menyadari bahwa manusia bukan mesin yang bisa dipaksa bekerja serta bukan komputer yang bisa dijejalkan data.

Munculnya generasi yang hanya menjadi human thinking dan human doing bukan human being (insan kamil) adalah karena banyak sistem pendidikan hanya fokus pada bagaimana anak bisa dan mampu bukan apakah anak mau selaras potensi fitrahnya.

Karena tidak pernah berempati pada "mau" atau "potensi fitrah" anak seperti keunikan anak atau fitrah bakat maka umumnya kompetensi sering mengabaikan unsur fitrah.

Umumnya kompetensi didefinisikan sebagai A.S.K (Attitude, Skill, Knowledge) semata. Dalam profesi atau karir semestinya kompetensi itu meliputi T.A.S.K (Talent, Attitude, Skill, Knowledge), dalam skala yang lebih manusiawi harus meliputi semua aspek fitrah bukan hanya talent.

Jika abai terhadap fitrah, maka sudah bisa diduga bahwa metode yang digunakan adalah behaviorism seperti drilling, pembiasaan (conditioning), iming iming dan pemaksaan (reward n punishment), rangsangan (stimulus) dsbnya. Ujung ujungnya muncul menjadi check list bisa dan mampu yang pro cognitive semata.

Banyak sekolah atau keluarga karena juga masih akademik oriented bukan fitrah oriented, sehingga sangat sulit mengangkat "mau anak" atau "potensi fitrah anak" sebagai basis membangun moral karakter ( jujur, berani, mandiri, amanah dll).

Padahal kita tahu bahwa moral karakter akan menguat ketika anak anak dibantu untuk tumbuh sesuai potensi fitrahnya. Anak yang mengenal potensi dirinya dengan baik atau "kutahu yang kumau" lalu difasilitasi untuk dikembangkan potensinya itu sehingga menjadi performance character akan jauh lebih mudah untuk dibangun moral karakternya.

Di masa Nabi SAW, potensi para Sahabat dikenali dan dihargai dengan baik, kemudian penugasan penugasan senantiasa selaras dengan potensi unik mereka masing masing sehingga menjadi kinerja terbaik. Kita tidak pernah melihat Umar bin Khattab RA ditugaskan menjadi panglima perang, Abdurrahman bin Auf RA menjadi pencatat hadits, Abu Hurairah RA sebagai pencari dana, Abu Bakar RA sebagai duta atau delegator dsbnya.

Potensi unik inilah yang kita sebut dengan fitrah bakat atau karakter kinerja, dimana manusia akan hebat kinerjanya jika apa yang dilakukannya relevan dengan potensi unik dirinya atau potensi fitrahnya.

Performance Character vs Moral Character

Dalam Islam ada 2 tema pusat dalam mendidik yaitu Fitrah dan Adab. Pendidikan yang seimbang antara fitrah dan adab akan melahirkan generasi yang hebat perannya dan mulia adabnya.

Jika potensi fitrah ditumbuhkan maka kelak akan menjadi Peran terbaik dan produktif, inilah karakter kinerja (performance character). Karakter kinerja ini amat terkait dengan potensi bawaan manusia.

Jika adab dikuatkan dan direlevankan dengan potensi fitrah maka kelak peran peran terbaik tadi akan menjadi jauh lebih bermanfaat, bermartabat atau mulia yang kita namakan dengan Beradab, inilah karakter moral (moral character). Karakter moral ini amat terkait dengan value atau nilai nilai yang diyakini.

Jadi ada karakter yang dilahirkan terkait dengan potensi Fitrah, ini sejatinya hanya memerlukan aktifasi untuk ditumbuhkan dari dalam (inside out) dan ada karakter yang dibentuk terkait Adab, ini sejatinya terkait dengan nilai nilai yang diyakini atau Kitabullah. Keduanya harus berjalan seiring, fitrah yang tumbuh paripurna akan mudah diadabkan menjadi mulia.

Karenanya dalam pendidikan karakter perlu diperhatikan keseimbangan untuk tiap tahapan usia antara menumbuhkan potensi fitrah dan memperkuatnya dengan nilai nilai Adab. Potensi fitrah saja yang ditumbuhkan tanpa  penguatan Adab akan menjadi peran peran hebat namun tak beradab, sementara penguatan atau penanaman Adab tanpa memperhatikan potensi fitrah dan penumbuhannya akan menyebabkan peran yang tidak produktif, mekanistik dstnya.

Dahulu mengapa nilai nilai alQuran dan alhadits amat mudah diterima oleh para Sahabat, karena selain alQuran dan alHadits selaras dengan fitrah juga karena potensi fitrah para Sahabat telah ditumbuhkan secara paripurna melalui tarbiyah yang baik oleh Rasulullah SAW sehingga fitrah yang tumbuh hebat akan mudah disempurnakan oleh Adab yang mulia.

Salam Pendidikan Peradaban

#pendidikanberbasisfitrah dan akhlak
#fitrahbasededucation

Jumat, 10 Juni 2016

Rejeki Nomplok

Resume Kuliah Umum Rejeki Nomplok IIP Salatiga

������
Hari, tanggal : Sabtu, 7 Mei 2016
Jam : 09.00 – 11.00
Tempat : SALAM Learning Centre Cabean
Narasumber : Isti Khairani (Founder Bumi Inspirasi Learning Centre Bandung)

Yap. Jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi dan kami sepakat untuk komit dengan basic rule IIP: tepat waktu. Jadi, cek sound siap dikumandangkan.

Eits, ternyata seluruh peserta kemarin sama sekali belum ada yang pernah cek sound, termasuk mb Isti. Cek sound ini adalah yel-yel pemacu semangat a la IIP yang biasanya diperdengarkan di awal pertemuan IIP, baik itu kuliah offline, kuliah umum, ataupun acara2 offline IIP lain.

_Cek Sound_ ………………………*Huha!*
_What Your Problem?_ ………*No problem!*
_What Your Problem?_ ………*No problem!*
_What_……………………………….*Challenge!*
_What_……………………………….*Challenge!*
_ProtectYourself_ ………………*Cancel cancel go away !*
_Ibu Profesional_ ……………… *Huu…yess!*

Yel-yel ibu profesional sarat akan makna karena yel-yel tersebut selain membangkitkan semangat juga mengajarkan cara kita berkomunikasi dalam mendidik anak-anak, tiga hal yang perlu diperhatikan dalam berkomunikasi yaitu intonasi, bahasa tubuh dan verbal … ketiga hal ini masuk dalam yel-yel

*- Cek sound …. Huha*
Hal ini mengajarkan kita mengatur intonasi suara. Ketika dikatakan cek sound …maka teman-teman mengatakan huha dengan kencang, ada ruhnya (suara Huha dikeluarkan pakai suara perut, bukan menggunakan suara dari diafragma)
Jika ibu terbiasa menggunakan suara diaragma biasanya akan jarang didengar anak. Berbeda halnya jika menggunakan suara perut selain anak lebih cenderung perhatian terhadap apa yang kita ucapkan juga bisa membuat perut kita menjadi kemps.

*- What your problem….no problem*
*- What …Challenges*
Maka intonasi seorang harus tepat, dengan suara tegas. Tidak ada masalah di ibu professional yang ada adalah tantangan (agar kita berpikir positif terhadap satu situasi), baik ibu yang bekerja di ranah domestik dan ranah publik karena ketika kita mengatakan problem (masalah) maka raut wajahnya akan terlihat jelek, sebaiknya kita ganti masalah dengan tantangan (kedua ujung bibirnya tertarik semuanya dan tubuhnya jadi keren).

*- Cancel …cancel go away*
Adalah cara kita untuk meninggalkan gangguan dari luar, maka kita katakan pada diri kita sendiri, “lakukan sekarang, jangan ditunda-tunda” (dengan bahasa tubuh menolak untuk menunda suatu pekerjaan atau menumpuk tugas)…

*- Ibu professional….huuuu yes*
Ketika dikatakan ibu professional, maka kita menyambutnya dengan menggerakan tangan dari bawah ke atas sambil bersuara huuuuuuu yes dengan mantap.

��������

Mbak Isti mengawali sharingnya dengan flash back bagaimana beliau merintis Bumi Inspirasi Learning Centre (BILC). Beliau pertama kali mengenal Ibu Profesional, saat sedang di rumah mertua, dan tanpa sengaja membaca buku “Hei Ini Aku: Ibu Profesional!” kepunyaan Ibu Mertua ketika Bunda Septi bersilaturahmi ke rumah keluarga besar suami di Salatiga. Setelah membaca buku tersebut dan membaca kisah-kisah Ibu Profesional, motivasi untuk berhenti kerja dan lebih fokus pada buah hati di rumah semakin besar. Ketika itu mb Isti sudah bekerja di bank BUMN selama lebih dari 9 tahun sempat ada kegalauan, selepas resign mau ngerjain apa?

BILC lahir dengan muatan makna Hijrah, hasil perenungan tentang  makna syukur, dan makna hidup. Bumi Inspirasi Learning Center lahir dengan  impian agar “Rumah”  kami (dalam bahasa sunda, Bumi artinya adalah Rumah) bisa menjadi tempat untuk berbagi inspirasi kepada seluruh masyarakat, yaitu untuk berbagi ilmu dalam 3 pilar utama, yaitu Financial Literacy, Green and Clean Literacy (melalui Bank Sampah), serta Al Quran  Literacy (melalui Taman Pendidikan Al Qur’an). Tujuan besar dari Bumi Inspirasi terkait Financial Literacy adalah untuk mewujudkan masyarakat  Indonesia yang kuat, jujur, dan amanah.
Berawal dari passion, yaitu Financial planning dan parenting, dan passion untuk mengajar, mb Isti ingin mempunyai bisnis yang bisa bermanfaat untuk keluarga, masyarakat, dan ibadah. Event pertama beliau adalah Perencanaan Keuangan Keluarga Muslim di Institut Ibu Profesional (Learning Center), Alhamdulillah dihadiri 35 orang, dan sangat didukung oleh sahabat-sahabat di Institut Ibu Professional, baik dalam tempat, sarana, pembuatan flyer, dan promosi.  Alhamdulillah, perwakilan Bank Syariah Mandiri Bandung Ahmad Yani juga hadir dalam Workshop Financial Plan Keluarga Muslim di Institut Ibu Profesional Learning Center. Dan karena kesamaan visi dengan Bank Syariah Mandiri, untuk membangun peradaban mulia, silaturahmi, dan saling membantu sesama, BSM mengundang mb Isti untuk menjadi pembicara terkait perencanaan keuangan untuk 100 Fasilitator Proyek Nasional Pemberdayaan Masyarakat Kota Bandung.

Mb Isti berbagi banyaaaak sekali inspirasi tentang pengembangan pilar kedua BILC lewat gerakan Bank Sampahnya. Berbagai event kreatif seperti Mobile Daycare, Gerakan BBM (Belanja Hemat, Berbagi, dan Menabung), Cafe Bank Sampah, integrasi TPA (Taman Pendidikan Al Quran) dengan BSBI (Bank Sampah Bumi Inspirasi), kegiatan lomba bermuatan edukasi lingkungan, dan jurus-jurus sosialisasi edukasi pada awal-awal rintisannya. Dari nasabah yang Cuma beberapa, saat ini BSBI sudah memiliki lebih dari 150 nasabah lho. Dari yang saldo Cuma beberapa puluh ribu, nasabah BSBI ada lho yang bisa qurban dengan menggunakan saldo tabungannya. Belum lagi prestasi BSBI sebagai Bank Sampah terbaik di Bandung. Maasya Allah!

Lalu, di pilar ketiga (al Quran Literacy), mb Isti bertutur tentang siswa TPA Bumi Inspirasi yang disarankan untuk menjadi Nasabah Cilik Bank Sampah, sehingga bisa memiliki tabungan dari sampah. Anak diharapkan dapat menjadi lokomotif untuk mengajak keluarganya untuk menjadi keluarga cerdas financial dan ramah lingkungan. Perlahan tapi pasti, kesadaran anak-anak TPA untuk menabung di Bank Sampah meluas dan kegiatan TPA menjadi lebih mengasyikkan.

��������

Waktu berlari begitu cepat. Tiba-tiba saja sudah hampir jam 11 siang. Padahal masih buanyaaak yang ingin ditanyakan, didiskusikan, dan dijelaskan oleh mbak Isti dan seluruh peserta. Meski demikian, pertemuan singkat dengan Mbak Isti tempo hari benar-benar menjadi rejeki nomplok karena grojokan semangat dan ilmu dari beliau.

Sekali lagi, terima kasih banyak atas seluruh pendukung acara kemarin, baik langsung maupun tidak langsung. Semoga yang sedikit ini bermanfaat dan barokah hingga dapat menjadi tambahan timbangan kebaikan bagi semuanya.

Salatiga, 9 Mei 2016

��������

Referensi pelengkap:
http://www.bumiinspirasi.or.id/
http://www.ibuprofesional.com/profiles/blogs/yel-yel-ibu-profesional-yang-penuh-makna-1

Apa itu Home Education?

Apa itu Home Education?

Ass.wr.wb
Ayah bunda apa kabar, tetap semangat ya...

Ayah Bunda yg baik,

Home Education atau home based education atau pendidikan berbasis rumah adalah amanah dan kesejatian peran dari setiap orangtua yg tak tergantikan oleh siapapun dan tdk bisa didelegasikan kpd siapapun.

HE bukanlah memindahkan persekolahan ke rumah, bukan pula menjejalkan (outside in) berbagai hal kpd anak2 kita  namun membangkitkan dan menumbuhkan (inside out) potensi fitrah2 dalam diri kita dan anak2 kita agar mencapai peran sejati peradabannya dengan semulia2 akhlak.

Rumah2 kita adalah miniatur peradaban, bila potensi fitrah2 baik bisa ditumbuhsuburkan dan dimuliakan di dalam rumah2 kita maka secara kolektif menjadi baik dan mulialah peradaban.

Setiap anak kita setidaknya memiliki 4 potensi fitrah sejak dilahirkan:

1. Potensi fitrah keimanan, setiap bayi yg lahir pernah bersaksi bhw Allah sbg Robb. Maka setiap bayi yg lahir pd galibnya mengenal dan merindukan sosok Robb.
2. Potensi fitrah belajar, setiap bayi yg lahir adalah pembelajar tangguh sejati
3. Potensi fitrah bakat, setiap bayi yg lahir adalah unik, memiliki sifat bawaan yg kelak akan menjadi panggilan hidup dan peran spesifik nya di muka bumi
4. Potensi fitrah perkembangan, setiap bayi sampai aqilbaligh dan sesudahnya, memiliki tahap2 perkembangan yg harus diikuti. Tdk berlaku kaidah makin cepat makin baik.

Ke 4 potensi fitrah ini sebaiknya simultan, seimbang dan terpadu. Kurang salah satunya akan memberikan hasil yang tidak paripurna. Jika pendidikannya benar dan tepat, maka resultansi dari ke 4 fitrah ini adalah insan kamil yang memiliki peran peradaban.

Fitrah bakat tanpa fitrah keimanan akan melahirkan talented professional yang berakhlak buruk, begitupula sebaliknya fitrah keimanan tanpa fitrah bakat akan melahirkan orang2 beriman yg paham agama namun sedikit bermanfaat.

Lihatlah mereka yang berbakat menjadi pemimpin tanpa akhlak maka akan menjadi diktator. Begitupula mereka yang bertauhid tanpa bakat, akan sangat sedikit memberi manfaat.

Fitrah belajar tanpa fitrah keimanan akan melahirkan para sciencetist dan innovator yang berbuat kerusakan di muka bumi, begitupula sebaliknya fitrah keimanan tanpa fitrah belajar akan melahirkan generasi agamis namun mandul dan tidak kreatif.

Fitrah belajar tanpa fitrah bakat akan melahirkan pembelajar yang tidak relevan dengan jatidirinya, begitu pula sebaliknya, fitrah bakat tanpa fitrah belajar akan melahirkan orang berbakat yang tidak innovatif. Berapa banyak kita lihat orang yang bakatnya hanya berhenti sebagai hobby semata.

Semua fitrah personal itu jika tidak ditumbuhkan sesuai fitrah perkembangannya akan membuat generasi yang tidak matang dan tidak utuh menjadi dirinya.

Fitrah belajar dan fitrah bakat yang tumbuh bersamaan dengan fitrah keimanan melahirkan generasi yg inovatif, produktif dan berakhlak mulia. ✅

DUA IKATAN (Bonding) YANG MENGUATKAN Oleh: Masyhuri Az Zauji

#OrangtuaBerkemampuanKhusus

DUA IKATAN (Bonding) YANG MENGUATKAN
Oleh: Masyhuri Az Zauji

Berawal dari sebuah curhatan...

Tema diskusi kali ini, diantaranya dilatar belakangi sebuah 'alasan' yaitu ketika  saya menerima curhatan dari seorang sahabat tentang ‘masalah’ anaknya di sekolah. Bagi yang bersangkutan dan kita semua semoga ulasan sederhana ini mampu menjadi tambahan motivasi untuk menghadapi dan menyelesaikan segala permasalahan terutama yang dialami oleh anak-anak kita dengan cara yang benar dan jalan keluar semoga terbuka lebar. Aamiin...

Sahabat saya mengeluhkan tentang minimnya pembatasan dan pengawasan oleh pihak sekolah terhadap anak didik di sekolah dalam penggunaan gadget dan fasilitas internet. Di sekolah (SD) tersebut tersedia fasilitas WiFi yang bisa dengan bebas diakses oleh siapapun termasuk para siswa/i SD. Keleluasaan akses internet ini semakin ‘menghawatirkan’ karena pihak sekolah membebaskan anak didik untuk membawa gadget (smartphone) ke sekolah. Beberapa dampak buruk pada diri anak sudah mulai dirasakan/terlihat, akan tetapi sahabat saya ini kurang mendapat ‘dukungan’ baik dari wali murid lain maupun pihak sekolah. Pihak sekolah berdalih hal ini demi kelancaran proses pembelajaran dan sudah mengawasi saat anak berada di dalam kelas, tapi tentu tak bisa mengawasi saat anak sedang berada di luar kelas.

Saya menyarankan bahwa solusi terbaik adalah pindah sekolah. Tetapi pilihan untuk pindah ini sangat tidak memungkinkan sehingga tiada pilihan lain selain tetap ‘bertahan’. Kemudian saya menyarankan agar orangtua memaksimalkan upaya untuk “meminimalkan efek buruk agar tidak meluas dan merembet ke hal2 buruk lainnya”, yaitu dengan mengintensifkan komunikasi dan edukasi. Sering mengajak ngobrol, berbagi cerita sambil menguatkan pemahaman tentang aturan batasan yang telah ditetapkan dalam Islam.

Dua bonding; emotional and spiritual bonding...

Salah satu tugas pengasuhan adalah membuat ikatan emosi yang kuat antara ortu dan anak yang dikenal dengan istilah emotional bonding. Ikatan emosi atau batin ini berpengaruh bagi anak dalam menjalani masa-masa sulit semasa hidup sekalipun tak ada ortu di sisi. Tak selamanya ortu mendampingi hidup anak. Ia harus tumbuh mandiri dengan potensinya. Emotional bonding yang kuat terhadap ortu sebagai pengarah.

Setidaknya ada beberapa masa kehidupan dalam diri anak dimana ia alami krisis : pra sekolah, pra puber, pubertas, pra nikah dan nikah. Di masa-masa tersebutlah ia butuh bimbingan dan arahan. Maka meski tak ada ortu di sisi, nasehat-nasehat dan teladan ortu tetap dijaga selama masih ada ikatan batin. Hal ini lah yang dialami oleh Nabi Yusuf muda saat terpesona dengan kecantikan zulaikha dan diajak berbuat mesum. Ia punya hasrat, hasratnya hampir saja menjerumuskannya seandainya Allah tak berikan ‘pertanda’. Seperti yang terdapat dalam surat Yusuf : 24. Sila dibaca.

‘Pertanda’ yg dimaksud adalah nasehat ayahnya yang tiba-tiba muncul saat ia hampir saja terpedaya oleh nafsunya. Ini kata ibnu katsir. Bayangkan! Nabi yusuf yang terpisah jauh oleh ayahnya, terjaga diri dari bujukan setan. Tak jadi berbuat zina. Tersebab ikatan batin dengan ayahnya. Itu pula yang diharapkan dari anak kita. Jauh terpisah namun menjaga kehormatan keluarga karena nasehat indah ortu yang tertanam dalam jiwa.

Anak yg tak punya emotional bonding maka tak percaya dengan ortunya. Lebih dengar kata temannya sekalipun buruk, sehingga ia akan sangat mudah sekali terbawa arus pergaulan negatif yang menjerumuskan pada kerusakan.

Selain emotional bonding, yang lebih wajib dibangun oleh orangtua adalah Spiritual Bonding yakni keterikatan batin dengan Allah SWT. Ia bukan hanya ‘dikendalikan’ oleh nasihat kedua orangtuanya akan tetapi ia merasa sepenuhnya diawasi dan dikendalikan oleh kuasa Allah SWT. Kokohnya dua bonding ini menjadikan seorang anak matang kepribadiannya terjaga dalam kebaikan-kebaikan.

Dalam kasus yang dialami oleh sahabat saya ini sebagaimana diungkap diawal bahasan, penguatan emotional dan spiritual bonding ini menjadi hal yang sangat penting dalam membangun ‘imunitas’ dalam diri anak terhadap berbagai virus-virus lingkungan yang ‘mematikan’. Kebal 100% dari virus tentu juga tidak, akan tetapi dengan “Vaksin Bonding” ini anak akan lebih mudah ‘diakses’ dan dikendalikan.

Ada juga salah satu member OBK yang bertanya terkait maraknya pemberitaan di media massa tentang tindak kekerasan seksual yang terjadi di kalangan anak remaja belakangan ini (seolah ada 'settingan' terkait blow-Up issu ini di media). Sekali lagi, peran maksimal orangtua harus dimaksimalkan. Kualitas kehadiran ayah dan bunda harus betul-betul tidak lagi ASSAL !!!

Bagaimana menciptakan emotional dan spiritual bonding pada anak?
Dua bonding ini bisa dilakukan dalam beberapa langkah strategis, diantaranya sebagai berikut:

1# Pahami sumber utama emotional dan spiritual bonding. Emotional bonding bersumber dari kehangatan komunikasi sejak masa awal pertumbuhan, dan sumber utama spiritual bonding adalah aqidah tauhid pada Allah sang penggenggam alam semesta.

2# Evaluasi cara dan konten komunikasi. Cara berkomunikasi yang perlu dievaluasi adalah dalam hal ‘pelibatan’ emosi, apakah selama ini cenderung terkendali ataukah selalu ‘meledak’ saat masalah pada anak terjadi. Konten dalam komunikasi juga wajib kembali dicermati. Dalam setiap bahasa dan ungkapan yang digunakan apakah lebih banyak mengeksekusi (langsung melayani, gampang menyalahkan atau melemahkan, memberi solusi tanpa diskusi) ataukah lebih banyak bermuatan edukasi dan diskusi serta menguatkan pikiran dan hati (memberi kesempatan anak ‘mengekspresikan’ pemahaman dan pengalamannya sendiri, memberi pemahaman sesuai tahapan/usia perkembangan, menjaga harga diri anak, melatih kesabaran, menanamkan rasa tanggungjawab, mengokohkan rasa percaya diri, dll)

3# Waspadai bahaya ‘benalu-benalu’ tumbuh kembang.
- Jangan biarkan anak: ‘dinasihati’ si pembual dan berhati kejam yang bernama TeleVisi; bergaul dengan gadget dan video games hingga lupa ‘makan’ (makanan jasmani maupun ruhani); mengidolakan para pembangkang; berteman dengan para pecundang.
- Tancapkan doktrin (dengan cara yg baik) tentang kriteria: sarana hiburan yang diperbolehkan, tokoh idola yang mjd panutan, orang baik dalam pertemanan, bahkan sesuatu yang sebaiknya dimakan.
- 'Matikan' TV, perbanyak baca buku ngaji.

Paling tdk ada 10 ‘benalu’ tumbuh kembang yang harus 'diamankan':
1) Tiada  keharmonisan, 2) Lemahnya  keteladanan, 3) Tutur  kata  melemahkan/menyakitkan, 4) Pemanjaan  berlebihan, 5) Interaksi  gadget  tanpa  batasan, 6) dosa  dan  kelalaian  dibiarkan, 7) Pendidikan  agama  telat  diberikan, 8) Kebebasan  pertemanan, 9) Tiada  ngobrol &  meberi penghargaan, 10) Makanan  tidak  halalan thoyyiban.

Sepuluh benalu ini harus dirubah/diganti menjadi tanaman bunga yang menyejukkan pandangan...

4# Mengenalkan anak pada: Allah dan RasulNya, syurga dan neraka. Minimal sekali: anak tahu bahwa Allahlah yang menciptakan, menjaga dan menjamin segala kehidupan, memahami bahwa Rasulullah adalah manusia yang paling mulia dan yang paling mencintai ummatnya termasuk ananda, anak memahami diantara sekian kenikmatan syurga yang akan diterima oleh hamba Allah yang bertaqwa. Untuk anak usia dibawah 10 tahun "lebih banyak" kenalkan syurga dibanding neraka.

5# Mengenalkan kedisiplinan ibadah/ ketaatan pada syariat sejak usia dini. Beberapa kalimat yang kami tanamkan pada anak-anak (putri), diantaranya:
- “Nak, setiap muslimah itu wajib berhijab atau membiarkan tubuhnya digantung di neraka di hari kemudian...”
- “OK adek, karena sekarang usiamu masih 3 tahun, 3 kali sehari shalarnya gak papa. Sambil belajar ya, tapi nanti klo sudah besar seperti abi dan umi gak boleh lagi enggak shalat 5 kali sehari”
- “Kakak, usia kakak sekarang 4 tahun. 6 tahun lagi kan 10 tahun. Rasulullah memerintahkan untuk memukul anak jika 10 thn gak shalat. Tapi abi gak tega mukul kamu kak, jadi dari sekarang kita sama-sama membiasakan ya...”

6# Jangan ada dua raja dalam satu istana. Jalin kekompakan dan kuatkan keteladanan.

7# Harus langsung turun tangan, bukan hanya ‘turun kata’. BERHENTI untuk menyuruh tanpa terlebih dulu mencontohkan. STOP menginstruksi dg intonasi tinggi dari kejauhan, mengalahlah untuk mendekat dan menyentuh langsung pundak ananda, gandeng tangannya untuk meninggalkan keburukan menuju kebaikan dan perbaikan.

Uraian singkat dan sederhana sungguh amatlah tidak ‘layak’ untuk menjawab semua persoalan. Minimal dari sini kita bersama-sama saling menguatkan untuk terus berada di jalan kebenaran dan menyelesaikan permasalahan dengan cara-cara yang benar.

Hanya Allah tempat kembali dan pertanggungjawaban segala urusan...

Raising A Reader - Menumbuhkan Minat Baca Anak Sejak Dini

KULWAAP SOLO RAYA #2 - TAHUN 2016

✏ MATERI : Raising A Reader - Menumbuhkan Minat Baca Anak Sejak Dini

�� Selasa, 17 Mei 2016

⏲20.00 - 21.00

Narasumber : Thasya Sugito S.Pd, S.Kom
Moderator : Wahyu Mardhatillah
Notulen : Chika K Rachma

BIODATA
����������������
�� Narasumber : Thasya Sugito S.Pd, S.Kom

CV Singkat :
- Ketua Islamic Parenting Community
- Founder dan Owner Smart Talent Indonesia
- Parenting &Academic Advisor "Prime Smart Islamic Montessori School"

Thasya Sugito, adalah seorang Ibu dari empat orang anak. Anak pertamanya, Ai Nurmalativah (21thn), adalah anak yang diasuhnya sejak kelas satu smp hingga sekarang telah duduk di bangku semester 4 Jurusan Manajemen. Pengalaman mengasuh Ai ini menjadi pengalaman berharga untuknya mengasuh tiga anak kandungnya (M. Rayshan Fikri (11 thn); Ayesha Rayhana(5 thn); dan M.Razzan Abdurrahman(3 thn)).

Suaminya (Alek Kuswandi) adalah partner sejatinya yang sejak tahun 1996 hingga sekarang, mewakafkan diri untuk mengelola dan mengembangkan asset umat di bilangan gegerkalong, Bandung. (Pondok Daarut Tauhid)

Berlatar belakang pendidikan, ilmu komunikasi, dan psikologi, ia pernah menekuni berbagai profesi, mulai dari pedagang, pemandu wisata, humas di sebuah lembaga dakwah dan pendidikan, guru, dosen, hingga akhirnya menetapkan hati untuk menjalani keseharian sebagai IRT sekaligus konselor di Smart Talent –sebuah lembaga yang berfokus di bidang pengembangan diri, konsultansi pendidikan, dan juga evaluasi psikologis.

Hal ini didasari oleh cintanya pada dunia psikologi pendidikan. Disinilah, ia berkesempatan berbagi ilmu dan bertemu dengan banyak orangtua di Indonesia (di Jawa, Sumatra, Kalimantan). Berbagi dengan mereka adalah hal yang membahagiakan baginya.

Dari sini juga, ia semakin meyakini bahwa anak-anak adalah anugerah terbesar yang dimiliki setiap orangtua, dan betapa setiap anak adalah bintang di kehidupannya sendiri.

Cita-citanya adalah menjadi pribadi yang penuh manfaat untuk orang lain, serta dapat berkontribusi positif di dunia pendidikan dan parenting.

Pin BB: 53b40a88
WA : 0813 9454 1030
Email: sthasya@gmail.com
FB: Thasya Sugito
IG: @thasya_sugito   @ensiklotoko��

MATERI
������������������

�� Raising A Reader
������������������������
Membaca adalah kebiasaan orang2 sukses. Bagi seorang muslim, membaca juga adalah perintah pertama yang Allah turunkan. IQRA'. Membaca dalam perintah Allah SWT tersebut bukan hanya membaca kertas-buku...namun juga membaca lingkungan, alam sekitar, perilaku orang lain, dll.
������������������������

Untuk meyakinkan kita betapa pentingnya menumbuhkan kecintaan membaca sejak dini, mari kita lihat pointers berikut:

‼Mengapa Membaca Itu Penting‼
1. Membaca mengembangkan otak. Otak butuh 'latihan'. Memahami bahasa tulisan, adalah salah satu cara untuk melatih otak ��
2. Kita hidup di era 'banjir informasi', sehingga bila kita tidak memiliki keterampilan membaca yang baik, akan sulit untuk memilah informasi serta mengedukasi diri
3. Membaca meningkatkan imajinasi
4. Membaca dapat meningkatkan kemampuan fokus dan konsentrasi
5. Membaca membantu diri mengembangkan self image yang baik
6. Membaca meningkatkan kosakata, sehingga dapat membantu juga meningkatkan kemampuan verbal
7. Meningkatkan daya ingat
8. Membaca itu MENCERDASKAN!
����

Karenanya tentu yang menjadi pertanyaan berikutnya adalah: "HOW TO RAISE A READER?"

Ceritanya, anak pertama saya (12thn), memiliki hobi membaca ensiklopedi, siroh nabawiyah, dll. Buku2 teks setebal 700-900 halaman dapat diselesaikan dalam waktu 2 hari saja. Secara sadar saya sadari bahwa hobi ini tidak serta merta hadir begitu saja. Maka izinkan saya berbagi dengan sahabat2 disini.

Apa saja ikhtiar saya dalam mengasuh anak menjadi pencinta buku:
1⃣ Jadilah TELADAN! MEMBACALAH! ����
2⃣ Sisihkan waktu setiap hari untuk membacakan buku/membaca bersama anak2 meski hanya 10-15mnt/hari
3⃣ Penuhi lingkungan anak dengan bahan bacaan bergizi dan bervariasi
4⃣ Jadwalkan 'Family Reading Time'
5⃣ Jadikan membaca sebagai bagian integral aktivitas anak2 (misal: saat berjalan2, saat belanja, saat memasak, dll)
6⃣ Kembangkan kebiasaan 'cinta perpustakaan', bawa mereka mengunjungi perpustakaan lokal secara berkala. Ajarkan 'library skill' pada mereka ��
7⃣ Perhatikan perkembangan kemampuan membaca anak (pastikan buku yang dibacanya sesuai dengan perkembangan kemampuan membaca mereka)
8⃣ Pastikan anak tidak memiliki kesulitan/hambatan belajar membaca, bila ada, segera lakukan intervensi dini. Segera bantu ia mengatasi kesulitannya, agar membaca tidak menjadi momok baginya. ��
9⃣ Minta anak menceritakan bacaannya, dan bersikaplah antusias-positif saat anak menceritakan bacaannya.

Hasan al-Bashri berkata, “Sungguh saya telah berjumpa dengan beberapa orang, mereka lebih bersungguh-sungguh dalam menjaga waktu daripada kesungguhan kalian untuk mendapatkan dinar dan dirham.” (Syarhus Sunnah, juz: 14).

Hammam bin al-Haris berdoa, “Ya Allah, cukupkanlah diriku dengan sedikit tidur dan anugerahkan kepadaku bangun malam dalam ketaatan.” (Sifatus Shafwah, 3:22). Mungkin doa yang dipanjatkan Hammam ini tidak pernah terpikirkan di benak kita, bagaimana seseorang bisa terpikir berdoa kepada Allah agar dicukupi dengan sedikit tidur demi memanfaatkan waktunya untuk beribadah kepada Allah. Kita lebih sering meminta agar tidur kita pulas dan nyenyak dan tidak jarang tertinggal shalat subuh di masjid.

Ibnu Aqil al-Hanbali mengisahkan perjalanannya menuntut ilmu dan fokus terhadap apa yang ia cita-citakan sehingga ia menjadi seorang ulama yang terpandang. Beliau mengatakan, “Tidak halal bagiku untuk menyia-nyiakan sesaat saja dari umurku, tatkala lisanku telah membaca dan berdiskusi, mataku lelah membaca, maka aku menggunakan pikiranku dalam keadaan beristirahat dan berbaring. Sehingga aku berdiri dalam keadaan ide-ide yang banyak dalam benakku lalu, aku tuangkan ide tersebut dalam tulisan. Aku dapati kesungguhanku dalam belajar lebih kuat saat aku berusia 80 tahun dibanding waktu aku berumur 20 tahun.” (al-Muntadzim fi Tarikhil Umam, juz: 9).

��������������

Buibu...pasti pengen punya putra putri seperti ulama shalih terdahulu dong ya?
Rata-rata mereka menguasai banyak cabang ilmu dan unggul pada bbrp bidang sekaligus.

Kalau bahasa sundanya mah: kabita ��

Nah sepakat kan kl sumber ilmu itu salah satu nya buku?

Gimana sih bikin anak cinta ilmu, cinta buku?

Mari berbagi ^^

Konon, M.Hatta sang proklamator mulai mengoleksi buku sejak berusia 17thn, dan pada saat menikah, maharnya adalah 17 peti buku ������

Seorang Hasan Al Banna lain lagi.. Putra putrinya diberikan 3 jenis uang saku:

3 qirsy utk harian
10 ma'dain uang pekanan
50 qirsy utk bulanan

Yang paling banyak ini dialokasikan untuk apa?

Yaitu untuk beli buku dan mengisi perpustakaan pribadi anak2nya ����

Yg pertama dan paling efektif tentu saja adalah: KETELADANAN.
Dari siapa? Tentu dari kita, orangtuanya.
Kenapa? Karena bila anak terbiasa melihat, akan lebih mudah menumbuhkan ketertarikannya pada bahan bacaan ��

TANYA JAWAB✨✨

Wahyu: 1⃣ Ika Yogya

Bunda...metode apa yg digunakan untuk mengajari anak membaca? Anak saya Mirza *4th suka sekali dengan buku tapi blm bisa membaca. Adakah tips khusus?

1⃣ bunda Ika yang baik, anak usia 4 tahun belum wajib bisa membaca ��, cukup dengan sering mengajaknya membaca dengan metode:
- follow the line➡saat membaca bersama anak, gunakan jari kita untuk menunjuk baris2 yang kita baca.
- story telling/mendongeng. Gunakan intonasi menarik untuk memancing ketertarikan anak pada apa yg kita bacakan

Karena, yang terpenting untuk anak usia 4 tahun adalah membangun kecintaannya pada aktivitas membaca dulu.

Nanti di usia 6.8 atau 7 tahun, barulah kita boleh 'pusing' bila anak belum juga tertarik untuk belajar membaca ��

2⃣ Fera - Kartasura

��� tanya bunda, anak sy perempuan 4th dan laki2 2th. Utk teladan baca sy baca buku, suami baca koran. Tp ya blm tentu setiap hari sih. Anak2 sudah disediakan buku sendiri, tp ujung2nya lebih tertarik dg buku ortunya ��
Gmn ya bund, agar anak mjd lebih tertarik dg buku? Terutama anak sy yg 4th klo buka buku malah nyanyi2 yg tidak nyambung dg buku bacaannya? ��
Terima kasih.

2⃣ bunda Fera sholihah, agar anak lebih tertarik pada buku, caranya adalah lebih sering beraktivitas dengan buku, agendakan secara khusus setiap hari untuk membacakan buku. Bila belum bisa menyediakan waktu yg panjang, minimal sediakan 10menit setiap hari ��
Pastikan saat kita membaca bersama anak, hati-pikiran kita fokus kepada aktivitas tsb. Sehingga, kita akan mempersiapkan proses membaca bersama itu dengan sebaik mungkin, karena kita akan berusaha memikat klien utama kita (anak) ��

3⃣ Chika - Solo (Shaw 3th)

Buku apa yg menarik utk anak 3th cowok.. apakah ada waktu yg baik utk membaca? Misal pagi hari jam brp atau sblm tidur gt

3⃣ Bunda Chika...great questions! ��
Buku yang menarik utk anak usia 3thn adalah buku yang lebih dominan gambarnya, dan berisi kurang dari 100 kata. Sebisa mungkin, cari buku2 yg bergambar mendekati bentuk aslinya.
Waktu terbaik? Saat anak sedang bahagia dan nyaman...��
Selamat membaca bersama Shaw ya bund...

4⃣ Nares - Yogya

Ibu thasya yang baik,
Terkait raising a reader, anak saya (3tahun) lagi senang2nya pada buku. Sejak 6bln sy kenalkan soft book hingga sekarang hardbook yang semua halaman hardpaper. Tiap dikamar jelang tidur minta dibacakan.
Buku genre apa untuk anak balita?

4⃣bunda Nares tersayang, langkahnya sudah luar biasa ya...mulai dari buku bertekstur, hingga board book.
Saya pribadi meyakini, bahwa momen sebelum tidur sangat efektif untuk menanamkan nilai2 positif dan menguatkan karakternya melalui kisah. Maka saya memilih buku yang menguatkan hal tersebut. Biasanya buku yang saya pilih adalah buku2 yang berkisah tentang rasul dan para sahabatnya. Pilihan kembali pada bunda ��

5⃣ Rini - Solo ( anak 1 usia 3,5 thun)

anak sy saat ini lg seneng2 nya diceritaain abinya karena memang blm bisa membaca, saat ini saya amati dia lbh intens membaca huruf hijaiyah dan kurang tertarik dengan huruf latin kecuali membaca namanya sendiri.
Jadi klo ada huruf yg sama kyk namanya dia menganggapnya itu namanya.

Apakah memang demikian anak usia segitu?bgmana sebaiknya mengenalkan membaca di usia 3th dg huruf atau lgsg kosakata

5⃣ bunda Rini, untuk anak usia 3 thn, target itamanya bukan mengajarkan membaca huruf per huruf atau kata per kata, namun bagaimana memantik ketertarikannya pada aktivitas membaca. 'Cinta membaca', jauh lebih penting dari 'bisa membaca'.
Nanti, setelah ia 'membaca' pancing ia untuk menceritakan apa yang sudah dibacanya 'versi dirinya' ��

6⃣ Esti - Sukoharjo

#Prioritas mana antara mengenalkan membaca huruf hijayyah atau membaca latin ?

#bagaimana menyeimbangkan antara suka baca buku/komik/koran dll, dengan baca Quran ?

trimkasih

6⃣ Bunda Esti, untuk pertanyaan pertama, ada dua pendapat. Ada yg memilih mengajarkan huruf hijaiyah terlebih dahulu karena mengutamakan pahala mengajarkan membaca al qur'an. Ada yg memilih mengajarkan huruf latin dahulu karena di Indonesia, sebagian besar bacaan yang ada di sekitar kita berhuruf latin (kiri ke kanan). Mangga dipilih saja bun ��

Bagaimana menyeimbangkannya? Saya pribadi cenderung mengarahkan anak untuk membaca hanya yg bermanfaat. Dan Al Qur'an mendapat porsi utama. Sedikit sekali porsi untuk komik, karena kami hanya menemukan sedikit sekali komik yang bermanfaat dan meningkatkan kualitas iman anak2. Sehingga, saya pikir....pilihan bacaan akan sangat bergantung pada visi misi keluarga kita ��

7⃣ Lovi - Jaten

Library skill itu apa?
Mulai usia brp anak dikenalkan ensiklopedi? Baiknya ensiklopedi yg bergambar asli ato kartun?
Minta saran tema bacaan untuk anak balita bun.
Terima kasih

7⃣ library skill itu kemampuan 'menggunakan' perpustakaan bunda Lovi. Mulai dari menyiapkan tema yang akan kita cari, bagaimana cara mencari buku di perpustakaan untuk tema tersebut, hingga proses pengembaliannya.

Ensiklopedi visual (yg didominasi gambar, boleh2 saja dikenalkan sejak usia 3 tahun sekalipun. Saran saya, pilih yang gambarnya bukan kartun.
Tema bacaan untuk balita, baiknya yang mendekati kehidupan nyatanya, contoh: buku belajar menyikat gigi sendiri, tini membantu ibu, dll. ��

8⃣ Wiwik - Klaten
Anak sy udah hoby baca, pertanyaannya, bgmn ya crnya menambah kecepatan baca? dia emang masih kelas dua sd dan sudah keliat suka bc d tulis apapun yg diliatnya.

8⃣Bunda Wiwik shalihah, kecepatan membaca akan meningkat secara otomatis seiring 'jam terbangnya'. Nanti di usia 15 tahun'an, boleh saja bila ingin diajarkan sistem speed reading, tapi untuk sekarang, saran saya perbanyak saja jam terbangnya ��

9⃣ Tyas - Skh
Mbak kalau untuk buku bacaan anak, Apakah Kita harus membaca dulu baru mereka baca?

9⃣ Bunda Tyas, semua buku untuk anak, wajib kita baca terlebih dahulu untuk menghindari anak terpapar konten yang tidak sesuai untuk usianya. ��

�� Rahma - Solo

Bunda kaka
Saat ini banyak buku2 bagus utk anak yg harganya jutaan sampai ada arisan segala utk memperingan angsuran biayanya. Perlukah kita memilikinya? Ada rekomen bgs buku utk balita seperti apa

��Bunda Rahma...tentang perlu atau tidaknya, lagi2 harus dikembalikan pada visi misi keluarga. Bila kontennya dianggap mendukung proses pendidikan dalam keluarga, maka buku2 tersebut dapat menjadi pilihan. Namun bila sekiranya harganya malah memberatkan, tentu kembali ke prioritas keluarga. Jangan terpaku pada harga. Untuk urusan buku, saya termasuk yang sering berburu buku di pasar murah atau pasar buku bekas. Karena, ensiklopedi yang harganya jutaan itu, di pasar buku bekas rata2 dijual hanya 50-200ribu saja/paket ��. Selain itu, buku2 lainnya pun masih banyak yg tak kalah bagus dari buku2 yang harganya jutaan itu lho.. ��

Waspadalah, Pornografi Sudah Mengancam Anak-anak Kita oleh : Elly Risman

MENGAPA BERITA KEKERASAN SEKSUAL SEOLAH TERUS TERJADI DAN TERJADI LAGI DI NEGERI KITA

Mari lindungi anak kita agar tidak menjadi pelaku atau korbannya.

inilah pemaparan dari Bunda Elly Risman untuk dijadikan peringatan agar para orang tua dan guru lebih waspada !

Waspadalah, Pornografi Sudah Mengancam Anak-anak Kita
oleh : Elly Risman

Bahaya paling besar yg dihadapi negeri ini adalah bahwa tidak tahu bahwa kita dalam bahaya. Kita tidak sadar bahwa pornografi telah merusak anak2 kita.

Lihat Fakta :
- Orang Bandung, deden (28th), mengumpulkan 128rb video bokep untuk dijual. Harga 30rb-800rb. Yg 800rb adalah video2 seks dengan anak2!

- Kasus perkosaan-pornografi di Bandung pelajar SMP kota bandung jadi pelacur, cukup dibayar dgn pulsa.

- AA (35th) memperkosan anak wanitanya sendiri (11th), sebelum dinodai, si anak disuruh nonton tv, kemudian diganti dgn video porno.

- 7-9 th lalu sudah ada di sinetron adegan menelanjangi teman sekolah, bullying dan kejahatan2 (bukan kenakalan lg) remaja sudah diajari melakukan kejahatan ke sesama teman. Jahatnya sinetron
pelajar SMP melakukan seks dg teman sekolah atas dasar suka sama suka

- 28% pekerja seks remaja di Bandung adalah pelajar aktif atau masih bersekolah

- Kasus video mesum SMP 4 jakarta dilakukan atas dasar suka sama suka. Dilakukan pertama kali 10 hari setelah jadian. Lalu 15 hari setelahnya. 3x dalam 5 hari. Direkam oleh anak OSIS. Diperankan oleh anak berprestasi.

- Hasil pencarian di google “seks dgn pacar” dan “cara menggugurkan kandungan” meningkat terus (double) dari feb 2013 – jan 2014

- Video lain, 2 minggu lalu. Dilakukan di kelas, di balik pintu. Oleh pelajar SMP (yg putri berjilbab) mereka melakukan seks hanya 4:20 detik. Sebelumnya mereka sudah sexting (kirim2 mssge porno via hp). Janjian ketemu, langsung “melakukan”. Tanpa buka baju, tanpa kasur. Selesai. Singkat saja. Kenapa kita berfikir harus lama?

Penelitian terhadap siswa kelas 4 SD :
87% sudah menonton pornografi lewat hp, DVD, situs internet, games, komik, sinetron, dll

Dimana?

51% melihat di rumah sendiri/saudara!

Kemana orangtuanya? Ada. Tapi PINGSAN! (Sinisme)

Kekerasan seksual terjadi dimana saja. Oleh siapa saja. Bahkan supir pribadi. Jangan pernah membiarkan supir mengantar anak anda berdua saja. Kita tidak pernah tahu.

Naruto itu parah filmnya, komiknya, situsnya, gamesnya. Terselip2 pornografi di sepanjang adegan. Naruto bukan konsumsi anak-anak2!!

Saat seminar, ditunjukkin situs internet yg paraaaah..berupa gambar sequense mulai dari seks dgn benda, gambar seks, pegang2 PD, lesbi, seks dg binatang, seks berkelompok, dll. Ini semua ada di gambar situs..bukan … bukan situs porno. Itu situs NARUTO!!

Bukan hanya situs, celah pornografi juga masuk dari hal2 berikut :

1. Games :
GTA – games pencurian mobil, kalau sudah berhasil, dapet jackpot berupa ngeSex dengan pelacur jalanan
Parahnha, Ada GTA versi terbaru : versi Upin Ipin!! Ya salaam
Banyak games RAPEPLAY yg dapat didownload GRATIS di android, HP..
Games rapeplay : ada gambar animasi mirip banget asli, cara main, tinggal sentuh bagian yg diinginkan dan pakaiannya akan terbuka. Lalu ada adegan2 seks yg bisa diperankan dg jari anak. Ini semua bisa di download GRATIS saudara-saudara..GRATISSS TISS. tinggal sentuh dgn jarimu!

2. Film :
Banyak channel TV Holywood yg menampilkan adegan seks dg vulgar atau sebagian. Ada juga yg sangat halus seperti serial remaja Glee >> jelas mengekspos cara seks lesbian dan homoseks
Film bioskop indonesia yg sarat unsur porno: ML (mau lagi), cintaku, comic 8, daaan jutaan film lain yg berisi porn, softporn dan bullying. Dont mention Sinetron dan FTV karya R. Punjabi yg isinya sampah semua.

3. Music :
Lewat videoklip, porn disusupi. Misal video clip kim kardashian, dll >> video klipnya paraah. Dan ini lagu2 yg digandrungi anak2.

4. Komik
Banyak komik2 yg isinya tak lain adalah porn. Sampulnya apa, isinya apa. Ada adegan2 seks yg sama sekali bukan utk anak. Baca dulu komik2 anak sebelum mereka membaca!

5. DVD :
Anak ternyata menonton blue film dr DVD milik ortu sendiri yg lupa diambil dari playernya selain mereka dpt membelinya dg mudah n murah di kaki lima.

Selain pornografi, LGBT (lesbian gay bisex transgender) sedang dikampanyekan dunia global.

Gambar2 sex dibuat rancu tidak jelas mana laki2 mana perempuan, agar LGBT menjadi sesuatu yg lumrah.
Situs LGBT
Www.ok2bme.com
Www.aruspelangi.or.id

Melihat segituuu banyaknya paparan pornografi yg sangat mudah diakses oleh anak2 kita, sejak mereka masih sangat dini, bahkan dengan gratis, hanya dgn menggeser ujung jari .. tidak aneh bila bbrp tahun kemudian mereka jd pelaku seks seperti fakta yg diungkap di awal seminar. Mau jd apa anak2 itu..

Cara menscanning anak apakah sudah terpapar pornografi atau blm :
1. Jelaskan ttg apa itu perpustakaan porno. Analogikan dgn perpustakaan tambah-kali-bagi-kurang yg ada di kepala anak.
2. Tanya apakah anak punya perpus porno?
3. Bila ya, tanya kapan pertama kali dapat paparan pornografi tsb?
4. Tanya apa yg dirasakan?
5. Tnya apa yg dilakukan setelah melihat pornografi

Apa yg “mereka” (para penyebar pornografi dan LGBT) inginkan?
Hanya 3 :
1. Anak dan remaja memiliki Perpustakaan Porno
2. Kerusakan otak permanen
3. Pelanggan seumur hidup = future market.

Parameternya : 33x ejakulasi krn melihat pornografi pecandu pornografi.

Sasaran industri pornografi :
1. Laki2. Sasaran utama.
Krn otak kiri laki2 lebih berkembang dari perempuan. Sehingga laki2 lbh mudah Fokus.
Krn lbh banyak testosteron di tubuh laki2. Dan krn kemaluan laki2 ada di luar dan mudah dimainkan.
2. Belum baligh.
3. Anak yg BLAST
Boring – bosan
Lonely – kesepian
Angry, afraid – marah, takut
Stress
Tired – cape

Anak2 yg mulai disekolahkan terlalu dini, beban akademis berat, tuntutan tinggi dr orangtua. Merekalah sasaran pornografi.

Anak yg sudah memiliki banyak koleksi perpustakaan porno akan mempengaruhi cara berfikir, cara berbuat, cara bersikap. Melihat wanita berpakaian lengkap, bisa berfantasi kemana2 hingga masturbasi. Sulit fokus dll.

Ciri anak yg kecanduan pornografi :
1. Bila ditegur dan dibatasi dia marah, melawan, keji, mulai hilang kendali, ikut2an emosi
2. Mulai impulsif, berbohong, jorok, moody
3. Suka menyakiti adik
4. Menghindari kontak mata
5. Mudah haus & tenggorokan kering
6. Sering minum
7. Sering BAK
8. Sering berkhayal
9. Sering main PS/internet dalam waktu yg lama
10. Prestasi akademis menurun
11. Main dg teman/kelompok yg itu2 saja
12. Berperilaku aneh : kancing baju sampai atas, rambut gondrong, dll

Kemana orang tua? PINGSAN!

ADA tapi ga mau tau, ga peduli. Yg dipedulikan hanya akademis, prestasi si anak.

Orang tua tidak sadar anak2nya sudah dirusak oleh pornografi. Sangat mungkin anak tampak manis, penurut, ternyata dia sudah kecanduan pornografi. Anak kita kah??

Itulah anak2 yg di sasar utk memiliki perpustakaan porno. Perpus tsb dapat mereka akses sewaktu2, kapan pun, dimana pun.
Orang tua sibuk, tidak ada saat anak butuh curhat, ingin bertanya. Orang tua tidak menjadi sahabat anak sehingga mereka mencari org lain. Jgn salahkan siapa2.

Bagaimana kerusakan otak?

Kerusakan otak akibat pornografi, sama dg org yg rusak akibat kecelakaan.

Di bagian kanan atas alis (otak direktur)

Otak direktur = prefrontal cortex (pfc) adalah bagian otak yg membedakan otak manusia dg otak binatang

Fungsi PFC sebagai direktur otak :
- tempat moral dan nilai, bertanggungjawab utk :
- perencanaan masa depan
- pengaturan emosi
- membuat keputusan
- pengontrolan diri
- ekspresi kepribadian

Saat PFC tsb rusak, maka tak lain otaknya adalah seperti otak binatang

PFC baru matang diusia 21 tahun, Sehingga wajar bila anak2 belum bisa bijaksana dlm menyikapi paparan pornografi.
Bgmn bila anak perempuan terpapar pornografi >> memposting foto2 porno dirinya.

Kerusakan otak akibat kecanduan narkoba : ada 3 bagian
Kerusakan otak akibat kecanduan pornografi : ada 5 bagian
Pornografi amat jahat!

Dari mulai hanya melihat.. sampai melakukan
Pornografi membuat kecanduan. Dari mulai dosis kecil… nagih minta yg lebih besar lebih besar lebih besar.

Dari awalnya tidak sengaja melihat melalui situs, games, iklan tv, sekelibat adegan film..

semua itu menambah koleksi perpustakaan pornografi di otak anak.
Anak yg terpapar pertama kali (walaupun sebentar, otak akan mulai menagih untuk minta dan mencari lagi dan lagi.. lebih porno..lebih porno. Terus meningkat.

Inilah mengapa banyak terjadi incest! Bahkan belum lama terkuak pemuda tasikmalaya yg memperkosa anak kecil, 300 ayam dan beberapa kambing! Naudzubillahimindzalik

Bila tidak dapat memuaskan kecanduannya… ga punya duit utk ke PSK.. dilakukan ke teman dekat sendiri, teman sekolah. Tidak ada. Dilakukan ke adik dan saudara sendiri. Subhanallah

Saat ini kita mengasuh generasi YZ. Dimana mereka multitasking. High tech. Terkoneksi dg mudahnya ke samudra web yg tiada bertepi. Cara mengasuhnya tentu tidak bisa disamakan dgn bgmn dulu orgtua kita mengasuh kita.

Pertimbangkan :
1. Memberikan anak games, pornografi, pacaran
2. Selesaikan hal2 yg menyangkut emosi dan harga diri > yg membuat anak lari ke pornografi/games

Protektif > Bekali anak dg ilmu :
1. Bahwa dirinya dan tubuhnya sangat berharga. Tidak sembarang orang bisa menyentuhnya.
Ajari perbedaan sentuhan :
Sentuhan baik > atas bahu & bawah lutut
sentuhan membingungkan > bawah bahu sampai atas lutut
sentuhan buruk > sentuhan pada bagian2 yg ditutupi pakaian renang

Ajari anak bagaimana harus bersikap bila menerima sentuhan buruk dan membingungkan.

8 hal membantu anak :
1. Jangan fokus akademis semata
2. Aktif gunakan teknologi, jgn kalah (gaptek) sama anak
3. Komunikasi dan disiplin berbeda
4. Perkuat ALLAH dalam diri anak. Bicarakan ttg memelihara kesucian sampai menikah. Ajarkan ttg thoharoh sejak anak 8 th
5. Ajari anak berfikir kritis. Sering diskusi, lempar pertanyaan
6. Ajari anak konsep dan harga diri yg baik
7. Ajari utk mandiri dan bertanggungjawab
8. Berdoa

Waspada juga dengan serial princess2an, barbie dll.. karena di dalamnya sarat terkandung ttg pacaran, bullying, mengangkat ttg materism, konsumerism dll

Waspada dgn gadget dan games2. Selain “pesan2″ merusak yg perlu diwaspadai, pada games (termasuk games2 di tablet) anak belum bisa membedakan mana dunia virtual dan mana dunia nyata. Dia bisa “tertukar” melakoni dunia nyata seperti pada dunia games.. batasi games!

Bahaya media (TV, games, gadget) pada fisik anak :
1. Cidera lengan atas
2. Cidera punggung – posisi duduk yg tidak baik
3. Rusak lutein pada retina mata akibat paparan blue screen
4. Membuat mata hanya fokus pada 1 titik. Padahal untuk membaca saja mata kita perlu bergerak kanan-kiri.

Makanya pendidikan seks itu memang perlu diberikan sejak anak dini.. tentunya disesuaikan umur mereka. Agar mereka bertanggung jawab dan mampu menjaga kemaluannya. Krn kita ga bisa terus menerus mengawasi anak kita. Banyak celah porn masuk ke mereka. Anak kita baik, bgmn anak tetangga, bgmn sepupunya, bgmn teman sekolahnya?

Coba cermati film2 Disney. Putri salju pergi ke hutan dgn 7 lelaki asing
Cinderella pergi ke pesta dansa hingga tengah malam. Belum lagi bullying yg dicontohkan kakak2 tirinya. Barbie dan Kent pacaran. Barbie menetapkan standar wanita idaman, putih tinggi fashionable. Anak2 kita berharap bisa cantik seperti Barbie.

Cerita Princess2, selalu ada cerita ttg persaingan cantik-cantikan menjelang prom night. Dan mengajarkan bagaimana mereka harus menjadi yg paling cantik walaupun harus berbuat jahat pada temannya, bahkan saudaranya… dan semua pesan disampaikan dgn sangat haluuss. Tp mental itulah yg tertanam di otak anak2.

Karena di luar sana bisnis pornografi sangat agresif mencari mangsa yaitu para pecandu porn, kita harus pertimbangkan masak2 saat hendak memberi anak kita akses menuju hal tsb. Yaitu gadget, tv, internet, hp, dll. Karena sekali mereka terkoneksi, konten2 tsb akan sangat mudah mereka dapatkan tanpa bisa kita bendung. Tp kita juga ga cukup dg membatasi gadget, kita harus edukasi ke anak ttg seks, membangun awareness mereka ttg dirinya sendiri. dan yg paling penting bangun hubungan yg baik dgn anak, jalin komunikasi yg baik agar anak mau cerita dan terbuka.

Semoga Allah senantiasa memberi kita taufik dan kebijaksanaan dalam mendidik anak2 yg menjadi Amanah Allah pada kita.
Dan semoga Allah senantiasa menjaga anak2 kita dari hal2 yang merusak.

Sebarkanlah jika artikel ini dirasa bermanfaat bagi para orang tua dan guru

RESUME KULWAPP HEBAT COMMUNITY


HEbAT Semarang Community
Kulwap Materi Lanjutan dengan Tema  "Fatherhood" 

Bersama  
Narsum: ayah Firman Muhammad
Host : bunda Feby

�� Jumat, 03 Juni 2016
⏰ 19.30-21.00 WIB

Judul :  *Amanah Ayah Sang Pemimpin Keluarga*

Kita sama-sama bersyukur bahwa kesadaran akan pentingnya seorang ayah/suami berperan nyata di tengah keluarga semakin dirasakan oleh semua orang. Memang sudah merupakah fitrahnya, keluarga hanya akan sehat dan kuat jika ayah/suami sebagai pemimpin keluarga sungguh-sungguh menjalankan peran dan tanggung jawabnya.

Kini saat kesadaran itu semakin menyebar, tidak sedikit yang bertanya-tanya sebenarnya apa saja peran ayah di tengah keluarga dan bagaimana cara menjalankan peranan tersebut. Sudah cukup banyak referensi yang mengkaji tentang hal ini.

Untuk sekedar memberikan kerangka diskusi kita, di sini saya mencoba merangkum apa saja tugas seorang ayah sebagai pemimpin dan pendidik dalam keluarga.

A. Memimpin Keluarga Menuju Akhirat

Membawa keluarga ke dalam kebenaran. Membawa ilmu yang benar ke dalam keluarga, dan mencontohkan amal yang benar dan konsisten dalam keluarga. Mampu memilah dan memilih antara yang haq dan bathil. Menjaga keluarga dari segala keburukan. Mampu menjadi hakim yang adil di dalam keluarga, dan mampu memelihara jamaah keluarga.

B. Menaungi/Memelihara Keluarga dalam Kehidupan Dunia

Tugas ayah adalah mencari nafkah yang halal dan barokah. Kemudian ia pun harus menyediakan tempat tinggal dan lingkungan yang baik untuk kehidupan keluarganya. Ayah juga ada pemelihara hubungan kekeluargaan dengan keluarga besar baik dari pihak sang ayah atau dari pihak keluarga sang istri. Mengenalkan anak-anaknya pada keluarga besar dan asal usulnya, menjaga silaturahim dengan mertua, dan saudara baik yang dekat maupun yang jauh.

C. Mengenal Diri dan Mampu Mewujudkan Misi Hidupnya

Menjadi ayah adalah salah satu amanah hidupnya. Di samping itu, ia adalah seorang manusia, seorang muslim, seorang anak, seorang anggota masyarakat. Sebelum mampu menjadi seorang ayah yang paripurna maka ia pun harus mampu memimpin dirinya sendiri.
      Hanya seorang ayah yang mampu mengenal diri dan mewujudkan misi hidupnya yang bisa menjadi teladan bagi anak-anaknya.

D. Memimbing Istri dalam Menyempurnakan Misi Hidupnya

Seorang suami harus mengenal sifat dan potensi istrinya dan memahami apa sebenarnya peran dan misi hidup istrinya baik sebagai istri/ibu/wanita/manusia. Setelah itu, lakukanlah apapun yang bisa dilakukan untuk mendukung istri menyempurnakan peran dan misi hidupnya.

E.Memandu Anak menuju Masa Depannya

Seorang ayah juga adalah pendidik dan pelatih bagi anak-anaknya. Ia harus mengenali anak-anaknya dan mampu membantu anaknya tumbuh berkembang menjadi manusia dewasa yang siap menjalani hidupnya di masa depan sesuai jalan hidup yang Allah berikan bagi masing-masing anaknya.
      Ayah harus mampu menjadi teman bermain bagi anak-anaknya, namun juga mampu melatih anaknya memasuki masa aqil baligh dengan baik untuk akhirnya menjadi manusia dewasa yang matang dan mandiri.

Dengan memahami peran-peran yang ada di atas, maka secara sederhana dapat kita simpulkan bawah dalam Pendidikan Keluarga di Rumah (Home Education), peran ayah adalah :

1. Seorang ayah adalah ulama, murobbi, dan da’i di tengah keluarga, baik itu keluarga inti maupun keluarga besar. Ayah lah yang harus paling bersungguh-sungguh untuk memahami ilmu agama. Paling bersungguh-sungguh mengenal dan menaati Allah. Begitu juga dalam mengenal Rasulullah dan mencontoh sunnah-sunnahnya. Ayah adalah pendidik, pembina, dan juga role model/teladan dalam hal ini.

2. Seorang ayah adalah teladan. Dalam aktivitasnya mencari nafkah, seorang ayah akan mencontohkan ketekunan, kesungguhan, kerja keras, serta kejujuran. Ayah mencontohkan pada anak-anaknya bagaimana menjadi manusia dewasa yang produktif dan mandiri. Istri dan anak-anak pun akan melihat bagaimana cara hidup bermasyarakat dan menjadi bagian dari suatu lembaga yang lebih besar seperti komunitas, lembaga, perusahaan, dan lain sebagainya.

3. Dalam kaitannya dengan poin C, D, dan E, Ayah adalah mentor, coach, atau fasilitator dalam proses mengembangkan hidup istri untuk mewujudkan misi hidupnya, serta membimbing anak-anak menuju masa depan mereka masing-masing.

4. Sebagai pelengkap, seorang ayah adalah pemelihara, pendukung, dan pelayan keluarga. Proses pendidikan dalam keluarga tentu membutuhkan sistem pendukung yang bisa menyediakan sumber daya, situasi, media, alat atau apapun yang dibutuhkan untuk memastikan proses berjalan optimal. Dibutuhkan totalitas ayah untuk bisa menyediakan apapun yang dibutuhkan dalam proses pendidikan di rumah.

 

Mama Belajar Template by Ipietoon Cute Blog Design