Tampilkan postingan dengan label kulwapp. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kulwapp. Tampilkan semua postingan

Selasa, 09 Agustus 2016

LONDON MOTHERHOOD

Assalamu'alaykum warahmatullaahi wa barakatuh..
Bismillahirrahmaanirrahiim..

Perkenalkan, Bunda..nama saya Afi..
Saat ini saya tinggal di London s.d September 2016. Insya Allah hari ini, saya mau sharing beberapa hal terkait dengan keluarga dan anak yang saya alami selama tinggal di London
Apa yang saya sampaikan bukan teori "tok" ya Bunda..saya hanya berbagi pengalaman dan kesan yang saya dapatkan ��. Semoga bermanfaat.

1. Pertama kali datang ke London, yang paling berkesan untuk saya adalah betapa semua orang memiliki kedudukan yg sama di sini.. kita bener2 ga bisa menghakimi orang, apakah mereka miskin, kaya, jahat dll (emang seharusnya kan ga boleh demikian ya bunda2..tp di Indonesia sy merasa hal ini msh banyak terjadi). Saya takjub melihat semua pekerjaan itu equal dan sama2 profesionalnya.. petugas kebersihan, sopir bus, petugas potong rumput taman, petugas kereta komuter, semuanya berpakaian rapi, lengkap dengan jas dan rompi khusus..ga ada ceritanya petugas sapu taman lusuh atau petugas angkut sampah bau. semua dressed up professionally. Ini sangat jadi contoh buat anak2 bahwa semua profesi itu spesial dan semua orang itu harus dihargai.. sy pernah aga shock ngeliat petugas pengasuh di salah satu children's center (semacam PAUD) pakaiannya compang camping, ditindik, dan bertato.. tapi ternyata beliau luar biasa ramah, sangat sopan dan baiiik kepada anak2..anak2 semua seneng sekali bermain dgn beliau.. di sini, profesi petugas angkut sampah, polisi, firefighter, ambulance, (bahkan) plumber atau tukang sedot wc yg mampet pun dianggap HERO oleh anak2. kehadirannya dinanti, dan mereka seneng menirukan (role play) pekerjaan2 mereka ��. Rasa toleransi, saling menghargai yg ditanamkan sangat dipraktekkan oleh anak2 krn mereka melihat sendiri betapa pekerjaan2 itu, apapun pekerjaannya, terlihat hebat dan profesional.

2. Sebagai seorang ibu, pertama kali saya datang ke London, yang juga membuat takjub adalah tentang para ibu di sini. Saya jadi merasa bahwa saya selama ini di Indonesia terlalu manja (hehe). Rata-rata di sini, keluarga tidak memakai ART dan pengasuh. Kenapa? karena harganya selangit..untuk sewa rumah aja di London itu sudah sangat mencekik belum harga2 serba mahal, jadi orang udh mikir 1000x untuk make ART atau nanny. Daycare full day pun luar biasa mahalnya. Jadi rata-rata para ibu di sini melakukan semuanya sendirian dan saya takjub melihat mereka yang tiap keluar rumah terlihat sangat mandiri dan "happy" (ga terlihat rempong, kucel dll kaya saya kadang2 haha). Anak rewel di kereta atau di bus mereka sangaaat tenang menyikapinya.. di sini sudah ga asing kalau melihat ibu dengan 3 anak jalan2 : 1 anak naik scooter, 1 anak di stroller penuh gantungan belanjaan, 1 anak digendong pake baby carrier dan ibunya terlihat sangat happy (entah kalau di rumahnya gimana hehe) tapi ini jadi motivasi buat saya untuk lebih mandiri, tetap tenang, dan happy..menikmati setiap kerempongan dan segala tantangan dalam mengurus anak.

3. Karakter para ibu di sini sangat suportif dan kondusif. Setiap saya ke library, health visitor (semacam posyandu), GP (klinik), ataupun children's center, sapaan, ajakan obrolan, dan pertanyaan yg saya dapat selalu bernada positif dan membangun baik untu saya ataupun Praba (anaknya). Mereka tidak pernah mengeluarkan statement negatif atau yang berbau menghakimi atas kekurangan anak yang tampak, tapi selalu hal yg positif. Pernah di posyandu Praba lari2 dan akhirnya nabrak tumpukan barang sampe pada jatuh. Saya tidak mendengar "Jangan nakal ya..atau hati-hati ya larinya" dari mereka..yang saya dengar justru "Wow, you are a good runner, little boy! you could be the next David Beckham, sweetie..tapi akan lebih baik kalau kamu hati-hati ya..sayang sekali ķalau kaki seorang atlet masa depan sakit dan cedera karena jatuh di rumah sakit haha" dan itu diucapkan dgn sangat riang, antusias, dan penuh senyum. Pernah juga saya curhat semua kegalauan sy ttg praba yg GTM dan badannya yg kecil dan mereka sangat "mengangkat" rasa percaya diri saya, suportif dan solutif tanpa terkesan menggurui.. sering bgt mereka bilang ke saya "You are the best carer for your son. You are the best mother for her. don't worry too much about everything.Tenang aja.. anakmu itu manusia, kalau lapar dia pasti makan. Yang penting, pastikan proses makan selalu seru dan membahagiakan. Anakmu sehat dan aktif, itu sudah sangat baik. Jangan merasa gagal, you are the best mom for him.".
Children's center sangat bisa ditanyai dan dimintai bantuan untuk hal apapun: MPASI, speech & language, toilet training, sleeping problem, berat badan, dll.
Ibu2 di sini pun jarang bergosip. Di children's center atau library, kalau kita saling ngobrol dan menyapa, semua pasti isinya positif "hei, your son is so cute." atau "you are so smart, little girl..". dan perbincangan pun pasti seru ngomongin kelebihan2 anak dan apresiasi terhadap anak2 lainnya.. tidak pernah saya mendengar pembicaraan yg diawali dgn hal2 sensitif seperti soal berat badan, ukuran badan, atau hal2 negatif apapun..

4. London bagi saya adalah surga dunianya anak-anak. Pemerintah sangat support dan "memanjakan" ibu dan anak-anak. Mulai dari fasilitas local library dengan koleksi buku anak berkualitas dan tempat yang ramah anak ; children's center GRATIS di setiap locality (semacam kecamatan) yg punya kegiatan harian beragam untuk anak2 ;
toilet ganti popok dan nursing room ada dimana2 (bersih dan nyaman) ;
museum yang banyak sekali dan pasti di dalamnya ada ruangan khusus beemain anak2 yang sesuai dgn tema museum itu, misalnya d museum transport, anak2 bsa main role play jadi supir bus, kondektur, masinis, dll. di museum science, anak2 bisa role play jadi ilmuwan cilik lengkap dgn segala kostum dan peralatannya. semacam kidzania (kalau di indo) tp bedanya ini gratis. Museum jadi tempat yang menyenangkan bagi anak, jauh dr kesan suram dan membosankan ;
ibu hamil, ibu bawa anak, dan anak2 itu dimanja di fasilitas publik, selalu diprioritaskan tidak hanya oleh petugasnya, tp jg oleh masyarakatnya ;
taman-taman dengan fasilitas playground ataupun kolam lengkap dengan hewan2nya sangat banyak --> banyak akses publik yang bisa jadi tempat main yg aman bagi anak ; tidak lupa *perlindungan anak* di sini juga sangat ketat, di tempat yang banyak anak2nya kita ga boleh sembarangan ambil foto, kalau boleh pun hanya boleh ambil foto anak kita. Di children's center ortu ga boleh pegang hp sama sekali krn tkut anak merasa diabaikan ��

5. Di London, semua harus serba appointment atau harus buat janji. mereka sangat menghargai waktu. telat semenit pun diskip. bahkan misal anak sakit pun, ketemu dokter harus buat janji dlu, paling cepat 2 hari kemudian baru bisa periksa. Ortu dididik atau lebih tepatnya dipaksa untuk tenang dan rasional dalam menangani sakitnya anak. Kalau cuma panas, pilek, batuk, bahkan diare sekalipun, dokter cuma meriksa dan ngasih saran, ga ada obat yang diresepin apalagi antibiotik kecuali memang perlu. Anak teman saya batuk2 parah sudah 2 minggu, dan dokter hanya bilang minum air putih yang banyak, kurangi minyak2 dan yang terlalu panas atau dingin. ketika diminta resep, dokter menolak dan bilang batuk akan hilang ketika penyebab radangnya hilang, dia ga akan kasih resep karena ini bukan batuk krn bakteri (kalau penyebabnya virus kaya pilek pun ga akan dikasih apa2). di satu sisi bagus dan benar karena kita dan anak tubuhnya tidak banyak terpapar obat, di satu sisi jg was2 awalnya takut makin parah..ternyata memang benar lama2 anak membaik. di sini obat tidak mudah diberikan, apalagi antibiotik. anak teman saya pernah demam lalu kejang. ortunya panik dan tlp ambulans..petugas call centernya semua jg tenaga medik (dokter umum atau suster), via telepon, ortunya ditenangkan dulu, terus dibimbing step by step pertolongan pertamanya, disuruh cek ini itu (anaknya biru ga? keluar busa ga? dll), setelah semua info didapat, petugasnya ini bilang "anak bapak baik2 saja, masa kejangnya sudah lewat dengan baik. dia akan membaik. tapi dia tetap harus dibawa ke dokter. ambulans kami menuju kesana untuk menjemput." . waktu praba alergi dan bentol2 sekujur tubuh + rewel pun mereka tetap dgn prosedur yang sama, dan setelah diikuti, praba memang membaik walau paginya tetap dibawa ke dokter yang bisa terima pasien tanpa appointment. keluarga dididik untuk tetap tenang dan tanpa sadar jadi "terpaksa" menguasai semua bentuk "first aid" karena mereka tahu karakter pelayanan kesehatannya seperti itu. kalau sakit sedikit pun mereka memutuskan untuk menyesuaikan perilaku mereka untuk mengurangi potensi sakit makin parah karena tau dokter tidak akan memberi obat atau tindakan apa2. Di sini semua serba gratis untuk kesehatan kecuali dokter gigi (jika ada tindakan).

7. Anak-anak sangat dididik untuk memiliki rasa malu (dalam hal perilaku, bukan penampakan baju krn mereka ga paham konsep aurat seperti dalam Islam).Anak ditanamkan perasaan malu kalau telat, kalau buang sampah sembarangan, kalau ga antri, kalau nyebrang sembarangan, kalau ngomong kasar, dll. Selain itu, EMPATI juga hal yang sangat ditanamkan ke anak, empati terhadap anak lain, hewan, tumbuhan, orang dewasa. mereka dididik untuk ekstra hati-hati ketika melakukan sesuatu supaya tidak menyakiti orang lain. misalnya, ketika di stasiun, kalau berhenti minggir dlu supaya ga ngalangin jalan, kalau di kereta diingatkan duduk manis biar ga membahayakan anak lain, di bus diingatkan diam agar yang lain ga keberisikan, ketika bermain di playground diingatkan untuk hati-hati agar tidak melukai anak lain. semua serba "perhatikan kepentingan dan keselamatan bersama terlebih dahulu".

8. Support pemerintah untuk keluarga baru dan para ayah sangat besar. ini yang saya rasa sangat kurang di indonesia, terutama dari pemerintahnya. Di sini, keluarga baru (yang baru menikah atau baru punya anak) akan didata dan diberikan info2 pelatihan atau info small talk group sesama orang tua. Misalnya pelatihan first aid di rumah, workshop menangani kecelakaan kecil di rumah, workshop parenting, sesi curhat ibu dan ayah, workshop menangani perilaku anak bagi para ayah, sampai ada Father's Friday dimana GOR di setiap kecamatan ngadain fasilitas olahraga bagi anak2 GRATIS  dan wajib ditemani Ayahnya. Workshop untuk orang tua baru juga terjadwal dan terinfokan dengan baik melalui app android atau email dari kecamatannya masing-masing. Pemerintah di sini sadar bahwa keluarga baru sangat butuh dibina, ditemani dan difasilitasi karena tidak ada sekolah formal yang mengajari hal untuk menjadi orang tua.

10. Minat baca anak-anak sangat dipupuk sejak dini. Terutama difasilitasi oleh library di masing2 kecamatan. Setiap bayi baru lahir akan disarankan untuk didaftarkan ke perpus dan children's center lalu bayi akan mendapatkan 2 board book gratis lengkap dgn panduan bagi orang tua untuk membuat minat baca anak terasah. buku2 di library sangat bagus dan lengkap (untuk anak2), bisa dipinjam gratis sampai 12 buku, waktu pinjam yang lama (3 minggu), tempat yang children-friendly, ruang ibadah dan nursing room tersedia, dan seminggu 3x ada program story-telling dan menyanyi bersama bagi anak2 0-5 tahun, setiap library pasti punya galeri khusus untuk anak yang bisa dimainkan oleh anak. Semua membuat anak cinta buku, suka membaca dan tidak asing dengan perpustakaan. di sini buku2 board book untuk anak dijual seharga 2-6 pound dan itu tergolong sangat murah kalau di sini. saya merasa indonesia masih minim penggunaan board booknya dan jarang bsa ditemukan di toko buku dengan hsrga yang terjangkau. semoga ke depannya makin banyak penerbit yg memproduksi boardbook terjangkau krn sangat membantu bagi anak2 agar terbiasa melihat buku tanpa khawatir bukunya sobek atau rusak ��.

Sekian sharing hal yang paling berkesan dan menginspirasi saya selama tinggal di London.. setiap merasakan kemudahan dan kenikmatan fasilitas di sini, saya tidak pernah berhenti berdoa agar pemerintah Indonesia bisa terus melakukan "baby step"-nya menuju seperti di sini, dan semoga saya juga bisa menerapkan hal2 ini untuk memberikan manfaat bagi anak-anak lain di Indonesia ��. Saya merasa sangat bersalah ketika di sini merasakan berbagai kenikmatan fasilitas,,saya juga ingin membawa dan menerapkannya di Indonesia. aamiin.

Rangkuman sharing pengalaman dr mba afi pada kulwap iip sumut dgn tema " London Motherhood :
Fb : Ahliana afifati Sani (mba afi )

Jumat, 10 Juni 2016

Rejeki Nomplok

Resume Kuliah Umum Rejeki Nomplok IIP Salatiga

������
Hari, tanggal : Sabtu, 7 Mei 2016
Jam : 09.00 – 11.00
Tempat : SALAM Learning Centre Cabean
Narasumber : Isti Khairani (Founder Bumi Inspirasi Learning Centre Bandung)

Yap. Jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi dan kami sepakat untuk komit dengan basic rule IIP: tepat waktu. Jadi, cek sound siap dikumandangkan.

Eits, ternyata seluruh peserta kemarin sama sekali belum ada yang pernah cek sound, termasuk mb Isti. Cek sound ini adalah yel-yel pemacu semangat a la IIP yang biasanya diperdengarkan di awal pertemuan IIP, baik itu kuliah offline, kuliah umum, ataupun acara2 offline IIP lain.

_Cek Sound_ ………………………*Huha!*
_What Your Problem?_ ………*No problem!*
_What Your Problem?_ ………*No problem!*
_What_……………………………….*Challenge!*
_What_……………………………….*Challenge!*
_ProtectYourself_ ………………*Cancel cancel go away !*
_Ibu Profesional_ ……………… *Huu…yess!*

Yel-yel ibu profesional sarat akan makna karena yel-yel tersebut selain membangkitkan semangat juga mengajarkan cara kita berkomunikasi dalam mendidik anak-anak, tiga hal yang perlu diperhatikan dalam berkomunikasi yaitu intonasi, bahasa tubuh dan verbal … ketiga hal ini masuk dalam yel-yel

*- Cek sound …. Huha*
Hal ini mengajarkan kita mengatur intonasi suara. Ketika dikatakan cek sound …maka teman-teman mengatakan huha dengan kencang, ada ruhnya (suara Huha dikeluarkan pakai suara perut, bukan menggunakan suara dari diafragma)
Jika ibu terbiasa menggunakan suara diaragma biasanya akan jarang didengar anak. Berbeda halnya jika menggunakan suara perut selain anak lebih cenderung perhatian terhadap apa yang kita ucapkan juga bisa membuat perut kita menjadi kemps.

*- What your problem….no problem*
*- What …Challenges*
Maka intonasi seorang harus tepat, dengan suara tegas. Tidak ada masalah di ibu professional yang ada adalah tantangan (agar kita berpikir positif terhadap satu situasi), baik ibu yang bekerja di ranah domestik dan ranah publik karena ketika kita mengatakan problem (masalah) maka raut wajahnya akan terlihat jelek, sebaiknya kita ganti masalah dengan tantangan (kedua ujung bibirnya tertarik semuanya dan tubuhnya jadi keren).

*- Cancel …cancel go away*
Adalah cara kita untuk meninggalkan gangguan dari luar, maka kita katakan pada diri kita sendiri, “lakukan sekarang, jangan ditunda-tunda” (dengan bahasa tubuh menolak untuk menunda suatu pekerjaan atau menumpuk tugas)…

*- Ibu professional….huuuu yes*
Ketika dikatakan ibu professional, maka kita menyambutnya dengan menggerakan tangan dari bawah ke atas sambil bersuara huuuuuuu yes dengan mantap.

��������

Mbak Isti mengawali sharingnya dengan flash back bagaimana beliau merintis Bumi Inspirasi Learning Centre (BILC). Beliau pertama kali mengenal Ibu Profesional, saat sedang di rumah mertua, dan tanpa sengaja membaca buku “Hei Ini Aku: Ibu Profesional!” kepunyaan Ibu Mertua ketika Bunda Septi bersilaturahmi ke rumah keluarga besar suami di Salatiga. Setelah membaca buku tersebut dan membaca kisah-kisah Ibu Profesional, motivasi untuk berhenti kerja dan lebih fokus pada buah hati di rumah semakin besar. Ketika itu mb Isti sudah bekerja di bank BUMN selama lebih dari 9 tahun sempat ada kegalauan, selepas resign mau ngerjain apa?

BILC lahir dengan muatan makna Hijrah, hasil perenungan tentang  makna syukur, dan makna hidup. Bumi Inspirasi Learning Center lahir dengan  impian agar “Rumah”  kami (dalam bahasa sunda, Bumi artinya adalah Rumah) bisa menjadi tempat untuk berbagi inspirasi kepada seluruh masyarakat, yaitu untuk berbagi ilmu dalam 3 pilar utama, yaitu Financial Literacy, Green and Clean Literacy (melalui Bank Sampah), serta Al Quran  Literacy (melalui Taman Pendidikan Al Qur’an). Tujuan besar dari Bumi Inspirasi terkait Financial Literacy adalah untuk mewujudkan masyarakat  Indonesia yang kuat, jujur, dan amanah.
Berawal dari passion, yaitu Financial planning dan parenting, dan passion untuk mengajar, mb Isti ingin mempunyai bisnis yang bisa bermanfaat untuk keluarga, masyarakat, dan ibadah. Event pertama beliau adalah Perencanaan Keuangan Keluarga Muslim di Institut Ibu Profesional (Learning Center), Alhamdulillah dihadiri 35 orang, dan sangat didukung oleh sahabat-sahabat di Institut Ibu Professional, baik dalam tempat, sarana, pembuatan flyer, dan promosi.  Alhamdulillah, perwakilan Bank Syariah Mandiri Bandung Ahmad Yani juga hadir dalam Workshop Financial Plan Keluarga Muslim di Institut Ibu Profesional Learning Center. Dan karena kesamaan visi dengan Bank Syariah Mandiri, untuk membangun peradaban mulia, silaturahmi, dan saling membantu sesama, BSM mengundang mb Isti untuk menjadi pembicara terkait perencanaan keuangan untuk 100 Fasilitator Proyek Nasional Pemberdayaan Masyarakat Kota Bandung.

Mb Isti berbagi banyaaaak sekali inspirasi tentang pengembangan pilar kedua BILC lewat gerakan Bank Sampahnya. Berbagai event kreatif seperti Mobile Daycare, Gerakan BBM (Belanja Hemat, Berbagi, dan Menabung), Cafe Bank Sampah, integrasi TPA (Taman Pendidikan Al Quran) dengan BSBI (Bank Sampah Bumi Inspirasi), kegiatan lomba bermuatan edukasi lingkungan, dan jurus-jurus sosialisasi edukasi pada awal-awal rintisannya. Dari nasabah yang Cuma beberapa, saat ini BSBI sudah memiliki lebih dari 150 nasabah lho. Dari yang saldo Cuma beberapa puluh ribu, nasabah BSBI ada lho yang bisa qurban dengan menggunakan saldo tabungannya. Belum lagi prestasi BSBI sebagai Bank Sampah terbaik di Bandung. Maasya Allah!

Lalu, di pilar ketiga (al Quran Literacy), mb Isti bertutur tentang siswa TPA Bumi Inspirasi yang disarankan untuk menjadi Nasabah Cilik Bank Sampah, sehingga bisa memiliki tabungan dari sampah. Anak diharapkan dapat menjadi lokomotif untuk mengajak keluarganya untuk menjadi keluarga cerdas financial dan ramah lingkungan. Perlahan tapi pasti, kesadaran anak-anak TPA untuk menabung di Bank Sampah meluas dan kegiatan TPA menjadi lebih mengasyikkan.

��������

Waktu berlari begitu cepat. Tiba-tiba saja sudah hampir jam 11 siang. Padahal masih buanyaaak yang ingin ditanyakan, didiskusikan, dan dijelaskan oleh mbak Isti dan seluruh peserta. Meski demikian, pertemuan singkat dengan Mbak Isti tempo hari benar-benar menjadi rejeki nomplok karena grojokan semangat dan ilmu dari beliau.

Sekali lagi, terima kasih banyak atas seluruh pendukung acara kemarin, baik langsung maupun tidak langsung. Semoga yang sedikit ini bermanfaat dan barokah hingga dapat menjadi tambahan timbangan kebaikan bagi semuanya.

Salatiga, 9 Mei 2016

��������

Referensi pelengkap:
http://www.bumiinspirasi.or.id/
http://www.ibuprofesional.com/profiles/blogs/yel-yel-ibu-profesional-yang-penuh-makna-1

Apa itu Home Education?

Apa itu Home Education?

Ass.wr.wb
Ayah bunda apa kabar, tetap semangat ya...

Ayah Bunda yg baik,

Home Education atau home based education atau pendidikan berbasis rumah adalah amanah dan kesejatian peran dari setiap orangtua yg tak tergantikan oleh siapapun dan tdk bisa didelegasikan kpd siapapun.

HE bukanlah memindahkan persekolahan ke rumah, bukan pula menjejalkan (outside in) berbagai hal kpd anak2 kita  namun membangkitkan dan menumbuhkan (inside out) potensi fitrah2 dalam diri kita dan anak2 kita agar mencapai peran sejati peradabannya dengan semulia2 akhlak.

Rumah2 kita adalah miniatur peradaban, bila potensi fitrah2 baik bisa ditumbuhsuburkan dan dimuliakan di dalam rumah2 kita maka secara kolektif menjadi baik dan mulialah peradaban.

Setiap anak kita setidaknya memiliki 4 potensi fitrah sejak dilahirkan:

1. Potensi fitrah keimanan, setiap bayi yg lahir pernah bersaksi bhw Allah sbg Robb. Maka setiap bayi yg lahir pd galibnya mengenal dan merindukan sosok Robb.
2. Potensi fitrah belajar, setiap bayi yg lahir adalah pembelajar tangguh sejati
3. Potensi fitrah bakat, setiap bayi yg lahir adalah unik, memiliki sifat bawaan yg kelak akan menjadi panggilan hidup dan peran spesifik nya di muka bumi
4. Potensi fitrah perkembangan, setiap bayi sampai aqilbaligh dan sesudahnya, memiliki tahap2 perkembangan yg harus diikuti. Tdk berlaku kaidah makin cepat makin baik.

Ke 4 potensi fitrah ini sebaiknya simultan, seimbang dan terpadu. Kurang salah satunya akan memberikan hasil yang tidak paripurna. Jika pendidikannya benar dan tepat, maka resultansi dari ke 4 fitrah ini adalah insan kamil yang memiliki peran peradaban.

Fitrah bakat tanpa fitrah keimanan akan melahirkan talented professional yang berakhlak buruk, begitupula sebaliknya fitrah keimanan tanpa fitrah bakat akan melahirkan orang2 beriman yg paham agama namun sedikit bermanfaat.

Lihatlah mereka yang berbakat menjadi pemimpin tanpa akhlak maka akan menjadi diktator. Begitupula mereka yang bertauhid tanpa bakat, akan sangat sedikit memberi manfaat.

Fitrah belajar tanpa fitrah keimanan akan melahirkan para sciencetist dan innovator yang berbuat kerusakan di muka bumi, begitupula sebaliknya fitrah keimanan tanpa fitrah belajar akan melahirkan generasi agamis namun mandul dan tidak kreatif.

Fitrah belajar tanpa fitrah bakat akan melahirkan pembelajar yang tidak relevan dengan jatidirinya, begitu pula sebaliknya, fitrah bakat tanpa fitrah belajar akan melahirkan orang berbakat yang tidak innovatif. Berapa banyak kita lihat orang yang bakatnya hanya berhenti sebagai hobby semata.

Semua fitrah personal itu jika tidak ditumbuhkan sesuai fitrah perkembangannya akan membuat generasi yang tidak matang dan tidak utuh menjadi dirinya.

Fitrah belajar dan fitrah bakat yang tumbuh bersamaan dengan fitrah keimanan melahirkan generasi yg inovatif, produktif dan berakhlak mulia. ✅

DUA IKATAN (Bonding) YANG MENGUATKAN Oleh: Masyhuri Az Zauji

#OrangtuaBerkemampuanKhusus

DUA IKATAN (Bonding) YANG MENGUATKAN
Oleh: Masyhuri Az Zauji

Berawal dari sebuah curhatan...

Tema diskusi kali ini, diantaranya dilatar belakangi sebuah 'alasan' yaitu ketika  saya menerima curhatan dari seorang sahabat tentang ‘masalah’ anaknya di sekolah. Bagi yang bersangkutan dan kita semua semoga ulasan sederhana ini mampu menjadi tambahan motivasi untuk menghadapi dan menyelesaikan segala permasalahan terutama yang dialami oleh anak-anak kita dengan cara yang benar dan jalan keluar semoga terbuka lebar. Aamiin...

Sahabat saya mengeluhkan tentang minimnya pembatasan dan pengawasan oleh pihak sekolah terhadap anak didik di sekolah dalam penggunaan gadget dan fasilitas internet. Di sekolah (SD) tersebut tersedia fasilitas WiFi yang bisa dengan bebas diakses oleh siapapun termasuk para siswa/i SD. Keleluasaan akses internet ini semakin ‘menghawatirkan’ karena pihak sekolah membebaskan anak didik untuk membawa gadget (smartphone) ke sekolah. Beberapa dampak buruk pada diri anak sudah mulai dirasakan/terlihat, akan tetapi sahabat saya ini kurang mendapat ‘dukungan’ baik dari wali murid lain maupun pihak sekolah. Pihak sekolah berdalih hal ini demi kelancaran proses pembelajaran dan sudah mengawasi saat anak berada di dalam kelas, tapi tentu tak bisa mengawasi saat anak sedang berada di luar kelas.

Saya menyarankan bahwa solusi terbaik adalah pindah sekolah. Tetapi pilihan untuk pindah ini sangat tidak memungkinkan sehingga tiada pilihan lain selain tetap ‘bertahan’. Kemudian saya menyarankan agar orangtua memaksimalkan upaya untuk “meminimalkan efek buruk agar tidak meluas dan merembet ke hal2 buruk lainnya”, yaitu dengan mengintensifkan komunikasi dan edukasi. Sering mengajak ngobrol, berbagi cerita sambil menguatkan pemahaman tentang aturan batasan yang telah ditetapkan dalam Islam.

Dua bonding; emotional and spiritual bonding...

Salah satu tugas pengasuhan adalah membuat ikatan emosi yang kuat antara ortu dan anak yang dikenal dengan istilah emotional bonding. Ikatan emosi atau batin ini berpengaruh bagi anak dalam menjalani masa-masa sulit semasa hidup sekalipun tak ada ortu di sisi. Tak selamanya ortu mendampingi hidup anak. Ia harus tumbuh mandiri dengan potensinya. Emotional bonding yang kuat terhadap ortu sebagai pengarah.

Setidaknya ada beberapa masa kehidupan dalam diri anak dimana ia alami krisis : pra sekolah, pra puber, pubertas, pra nikah dan nikah. Di masa-masa tersebutlah ia butuh bimbingan dan arahan. Maka meski tak ada ortu di sisi, nasehat-nasehat dan teladan ortu tetap dijaga selama masih ada ikatan batin. Hal ini lah yang dialami oleh Nabi Yusuf muda saat terpesona dengan kecantikan zulaikha dan diajak berbuat mesum. Ia punya hasrat, hasratnya hampir saja menjerumuskannya seandainya Allah tak berikan ‘pertanda’. Seperti yang terdapat dalam surat Yusuf : 24. Sila dibaca.

‘Pertanda’ yg dimaksud adalah nasehat ayahnya yang tiba-tiba muncul saat ia hampir saja terpedaya oleh nafsunya. Ini kata ibnu katsir. Bayangkan! Nabi yusuf yang terpisah jauh oleh ayahnya, terjaga diri dari bujukan setan. Tak jadi berbuat zina. Tersebab ikatan batin dengan ayahnya. Itu pula yang diharapkan dari anak kita. Jauh terpisah namun menjaga kehormatan keluarga karena nasehat indah ortu yang tertanam dalam jiwa.

Anak yg tak punya emotional bonding maka tak percaya dengan ortunya. Lebih dengar kata temannya sekalipun buruk, sehingga ia akan sangat mudah sekali terbawa arus pergaulan negatif yang menjerumuskan pada kerusakan.

Selain emotional bonding, yang lebih wajib dibangun oleh orangtua adalah Spiritual Bonding yakni keterikatan batin dengan Allah SWT. Ia bukan hanya ‘dikendalikan’ oleh nasihat kedua orangtuanya akan tetapi ia merasa sepenuhnya diawasi dan dikendalikan oleh kuasa Allah SWT. Kokohnya dua bonding ini menjadikan seorang anak matang kepribadiannya terjaga dalam kebaikan-kebaikan.

Dalam kasus yang dialami oleh sahabat saya ini sebagaimana diungkap diawal bahasan, penguatan emotional dan spiritual bonding ini menjadi hal yang sangat penting dalam membangun ‘imunitas’ dalam diri anak terhadap berbagai virus-virus lingkungan yang ‘mematikan’. Kebal 100% dari virus tentu juga tidak, akan tetapi dengan “Vaksin Bonding” ini anak akan lebih mudah ‘diakses’ dan dikendalikan.

Ada juga salah satu member OBK yang bertanya terkait maraknya pemberitaan di media massa tentang tindak kekerasan seksual yang terjadi di kalangan anak remaja belakangan ini (seolah ada 'settingan' terkait blow-Up issu ini di media). Sekali lagi, peran maksimal orangtua harus dimaksimalkan. Kualitas kehadiran ayah dan bunda harus betul-betul tidak lagi ASSAL !!!

Bagaimana menciptakan emotional dan spiritual bonding pada anak?
Dua bonding ini bisa dilakukan dalam beberapa langkah strategis, diantaranya sebagai berikut:

1# Pahami sumber utama emotional dan spiritual bonding. Emotional bonding bersumber dari kehangatan komunikasi sejak masa awal pertumbuhan, dan sumber utama spiritual bonding adalah aqidah tauhid pada Allah sang penggenggam alam semesta.

2# Evaluasi cara dan konten komunikasi. Cara berkomunikasi yang perlu dievaluasi adalah dalam hal ‘pelibatan’ emosi, apakah selama ini cenderung terkendali ataukah selalu ‘meledak’ saat masalah pada anak terjadi. Konten dalam komunikasi juga wajib kembali dicermati. Dalam setiap bahasa dan ungkapan yang digunakan apakah lebih banyak mengeksekusi (langsung melayani, gampang menyalahkan atau melemahkan, memberi solusi tanpa diskusi) ataukah lebih banyak bermuatan edukasi dan diskusi serta menguatkan pikiran dan hati (memberi kesempatan anak ‘mengekspresikan’ pemahaman dan pengalamannya sendiri, memberi pemahaman sesuai tahapan/usia perkembangan, menjaga harga diri anak, melatih kesabaran, menanamkan rasa tanggungjawab, mengokohkan rasa percaya diri, dll)

3# Waspadai bahaya ‘benalu-benalu’ tumbuh kembang.
- Jangan biarkan anak: ‘dinasihati’ si pembual dan berhati kejam yang bernama TeleVisi; bergaul dengan gadget dan video games hingga lupa ‘makan’ (makanan jasmani maupun ruhani); mengidolakan para pembangkang; berteman dengan para pecundang.
- Tancapkan doktrin (dengan cara yg baik) tentang kriteria: sarana hiburan yang diperbolehkan, tokoh idola yang mjd panutan, orang baik dalam pertemanan, bahkan sesuatu yang sebaiknya dimakan.
- 'Matikan' TV, perbanyak baca buku ngaji.

Paling tdk ada 10 ‘benalu’ tumbuh kembang yang harus 'diamankan':
1) Tiada  keharmonisan, 2) Lemahnya  keteladanan, 3) Tutur  kata  melemahkan/menyakitkan, 4) Pemanjaan  berlebihan, 5) Interaksi  gadget  tanpa  batasan, 6) dosa  dan  kelalaian  dibiarkan, 7) Pendidikan  agama  telat  diberikan, 8) Kebebasan  pertemanan, 9) Tiada  ngobrol &  meberi penghargaan, 10) Makanan  tidak  halalan thoyyiban.

Sepuluh benalu ini harus dirubah/diganti menjadi tanaman bunga yang menyejukkan pandangan...

4# Mengenalkan anak pada: Allah dan RasulNya, syurga dan neraka. Minimal sekali: anak tahu bahwa Allahlah yang menciptakan, menjaga dan menjamin segala kehidupan, memahami bahwa Rasulullah adalah manusia yang paling mulia dan yang paling mencintai ummatnya termasuk ananda, anak memahami diantara sekian kenikmatan syurga yang akan diterima oleh hamba Allah yang bertaqwa. Untuk anak usia dibawah 10 tahun "lebih banyak" kenalkan syurga dibanding neraka.

5# Mengenalkan kedisiplinan ibadah/ ketaatan pada syariat sejak usia dini. Beberapa kalimat yang kami tanamkan pada anak-anak (putri), diantaranya:
- “Nak, setiap muslimah itu wajib berhijab atau membiarkan tubuhnya digantung di neraka di hari kemudian...”
- “OK adek, karena sekarang usiamu masih 3 tahun, 3 kali sehari shalarnya gak papa. Sambil belajar ya, tapi nanti klo sudah besar seperti abi dan umi gak boleh lagi enggak shalat 5 kali sehari”
- “Kakak, usia kakak sekarang 4 tahun. 6 tahun lagi kan 10 tahun. Rasulullah memerintahkan untuk memukul anak jika 10 thn gak shalat. Tapi abi gak tega mukul kamu kak, jadi dari sekarang kita sama-sama membiasakan ya...”

6# Jangan ada dua raja dalam satu istana. Jalin kekompakan dan kuatkan keteladanan.

7# Harus langsung turun tangan, bukan hanya ‘turun kata’. BERHENTI untuk menyuruh tanpa terlebih dulu mencontohkan. STOP menginstruksi dg intonasi tinggi dari kejauhan, mengalahlah untuk mendekat dan menyentuh langsung pundak ananda, gandeng tangannya untuk meninggalkan keburukan menuju kebaikan dan perbaikan.

Uraian singkat dan sederhana sungguh amatlah tidak ‘layak’ untuk menjawab semua persoalan. Minimal dari sini kita bersama-sama saling menguatkan untuk terus berada di jalan kebenaran dan menyelesaikan permasalahan dengan cara-cara yang benar.

Hanya Allah tempat kembali dan pertanggungjawaban segala urusan...

Raising A Reader - Menumbuhkan Minat Baca Anak Sejak Dini

KULWAAP SOLO RAYA #2 - TAHUN 2016

✏ MATERI : Raising A Reader - Menumbuhkan Minat Baca Anak Sejak Dini

�� Selasa, 17 Mei 2016

⏲20.00 - 21.00

Narasumber : Thasya Sugito S.Pd, S.Kom
Moderator : Wahyu Mardhatillah
Notulen : Chika K Rachma

BIODATA
����������������
�� Narasumber : Thasya Sugito S.Pd, S.Kom

CV Singkat :
- Ketua Islamic Parenting Community
- Founder dan Owner Smart Talent Indonesia
- Parenting &Academic Advisor "Prime Smart Islamic Montessori School"

Thasya Sugito, adalah seorang Ibu dari empat orang anak. Anak pertamanya, Ai Nurmalativah (21thn), adalah anak yang diasuhnya sejak kelas satu smp hingga sekarang telah duduk di bangku semester 4 Jurusan Manajemen. Pengalaman mengasuh Ai ini menjadi pengalaman berharga untuknya mengasuh tiga anak kandungnya (M. Rayshan Fikri (11 thn); Ayesha Rayhana(5 thn); dan M.Razzan Abdurrahman(3 thn)).

Suaminya (Alek Kuswandi) adalah partner sejatinya yang sejak tahun 1996 hingga sekarang, mewakafkan diri untuk mengelola dan mengembangkan asset umat di bilangan gegerkalong, Bandung. (Pondok Daarut Tauhid)

Berlatar belakang pendidikan, ilmu komunikasi, dan psikologi, ia pernah menekuni berbagai profesi, mulai dari pedagang, pemandu wisata, humas di sebuah lembaga dakwah dan pendidikan, guru, dosen, hingga akhirnya menetapkan hati untuk menjalani keseharian sebagai IRT sekaligus konselor di Smart Talent –sebuah lembaga yang berfokus di bidang pengembangan diri, konsultansi pendidikan, dan juga evaluasi psikologis.

Hal ini didasari oleh cintanya pada dunia psikologi pendidikan. Disinilah, ia berkesempatan berbagi ilmu dan bertemu dengan banyak orangtua di Indonesia (di Jawa, Sumatra, Kalimantan). Berbagi dengan mereka adalah hal yang membahagiakan baginya.

Dari sini juga, ia semakin meyakini bahwa anak-anak adalah anugerah terbesar yang dimiliki setiap orangtua, dan betapa setiap anak adalah bintang di kehidupannya sendiri.

Cita-citanya adalah menjadi pribadi yang penuh manfaat untuk orang lain, serta dapat berkontribusi positif di dunia pendidikan dan parenting.

Pin BB: 53b40a88
WA : 0813 9454 1030
Email: sthasya@gmail.com
FB: Thasya Sugito
IG: @thasya_sugito   @ensiklotoko��

MATERI
������������������

�� Raising A Reader
������������������������
Membaca adalah kebiasaan orang2 sukses. Bagi seorang muslim, membaca juga adalah perintah pertama yang Allah turunkan. IQRA'. Membaca dalam perintah Allah SWT tersebut bukan hanya membaca kertas-buku...namun juga membaca lingkungan, alam sekitar, perilaku orang lain, dll.
������������������������

Untuk meyakinkan kita betapa pentingnya menumbuhkan kecintaan membaca sejak dini, mari kita lihat pointers berikut:

‼Mengapa Membaca Itu Penting‼
1. Membaca mengembangkan otak. Otak butuh 'latihan'. Memahami bahasa tulisan, adalah salah satu cara untuk melatih otak ��
2. Kita hidup di era 'banjir informasi', sehingga bila kita tidak memiliki keterampilan membaca yang baik, akan sulit untuk memilah informasi serta mengedukasi diri
3. Membaca meningkatkan imajinasi
4. Membaca dapat meningkatkan kemampuan fokus dan konsentrasi
5. Membaca membantu diri mengembangkan self image yang baik
6. Membaca meningkatkan kosakata, sehingga dapat membantu juga meningkatkan kemampuan verbal
7. Meningkatkan daya ingat
8. Membaca itu MENCERDASKAN!
����

Karenanya tentu yang menjadi pertanyaan berikutnya adalah: "HOW TO RAISE A READER?"

Ceritanya, anak pertama saya (12thn), memiliki hobi membaca ensiklopedi, siroh nabawiyah, dll. Buku2 teks setebal 700-900 halaman dapat diselesaikan dalam waktu 2 hari saja. Secara sadar saya sadari bahwa hobi ini tidak serta merta hadir begitu saja. Maka izinkan saya berbagi dengan sahabat2 disini.

Apa saja ikhtiar saya dalam mengasuh anak menjadi pencinta buku:
1⃣ Jadilah TELADAN! MEMBACALAH! ����
2⃣ Sisihkan waktu setiap hari untuk membacakan buku/membaca bersama anak2 meski hanya 10-15mnt/hari
3⃣ Penuhi lingkungan anak dengan bahan bacaan bergizi dan bervariasi
4⃣ Jadwalkan 'Family Reading Time'
5⃣ Jadikan membaca sebagai bagian integral aktivitas anak2 (misal: saat berjalan2, saat belanja, saat memasak, dll)
6⃣ Kembangkan kebiasaan 'cinta perpustakaan', bawa mereka mengunjungi perpustakaan lokal secara berkala. Ajarkan 'library skill' pada mereka ��
7⃣ Perhatikan perkembangan kemampuan membaca anak (pastikan buku yang dibacanya sesuai dengan perkembangan kemampuan membaca mereka)
8⃣ Pastikan anak tidak memiliki kesulitan/hambatan belajar membaca, bila ada, segera lakukan intervensi dini. Segera bantu ia mengatasi kesulitannya, agar membaca tidak menjadi momok baginya. ��
9⃣ Minta anak menceritakan bacaannya, dan bersikaplah antusias-positif saat anak menceritakan bacaannya.

Hasan al-Bashri berkata, “Sungguh saya telah berjumpa dengan beberapa orang, mereka lebih bersungguh-sungguh dalam menjaga waktu daripada kesungguhan kalian untuk mendapatkan dinar dan dirham.” (Syarhus Sunnah, juz: 14).

Hammam bin al-Haris berdoa, “Ya Allah, cukupkanlah diriku dengan sedikit tidur dan anugerahkan kepadaku bangun malam dalam ketaatan.” (Sifatus Shafwah, 3:22). Mungkin doa yang dipanjatkan Hammam ini tidak pernah terpikirkan di benak kita, bagaimana seseorang bisa terpikir berdoa kepada Allah agar dicukupi dengan sedikit tidur demi memanfaatkan waktunya untuk beribadah kepada Allah. Kita lebih sering meminta agar tidur kita pulas dan nyenyak dan tidak jarang tertinggal shalat subuh di masjid.

Ibnu Aqil al-Hanbali mengisahkan perjalanannya menuntut ilmu dan fokus terhadap apa yang ia cita-citakan sehingga ia menjadi seorang ulama yang terpandang. Beliau mengatakan, “Tidak halal bagiku untuk menyia-nyiakan sesaat saja dari umurku, tatkala lisanku telah membaca dan berdiskusi, mataku lelah membaca, maka aku menggunakan pikiranku dalam keadaan beristirahat dan berbaring. Sehingga aku berdiri dalam keadaan ide-ide yang banyak dalam benakku lalu, aku tuangkan ide tersebut dalam tulisan. Aku dapati kesungguhanku dalam belajar lebih kuat saat aku berusia 80 tahun dibanding waktu aku berumur 20 tahun.” (al-Muntadzim fi Tarikhil Umam, juz: 9).

��������������

Buibu...pasti pengen punya putra putri seperti ulama shalih terdahulu dong ya?
Rata-rata mereka menguasai banyak cabang ilmu dan unggul pada bbrp bidang sekaligus.

Kalau bahasa sundanya mah: kabita ��

Nah sepakat kan kl sumber ilmu itu salah satu nya buku?

Gimana sih bikin anak cinta ilmu, cinta buku?

Mari berbagi ^^

Konon, M.Hatta sang proklamator mulai mengoleksi buku sejak berusia 17thn, dan pada saat menikah, maharnya adalah 17 peti buku ������

Seorang Hasan Al Banna lain lagi.. Putra putrinya diberikan 3 jenis uang saku:

3 qirsy utk harian
10 ma'dain uang pekanan
50 qirsy utk bulanan

Yang paling banyak ini dialokasikan untuk apa?

Yaitu untuk beli buku dan mengisi perpustakaan pribadi anak2nya ����

Yg pertama dan paling efektif tentu saja adalah: KETELADANAN.
Dari siapa? Tentu dari kita, orangtuanya.
Kenapa? Karena bila anak terbiasa melihat, akan lebih mudah menumbuhkan ketertarikannya pada bahan bacaan ��

TANYA JAWAB✨✨

Wahyu: 1⃣ Ika Yogya

Bunda...metode apa yg digunakan untuk mengajari anak membaca? Anak saya Mirza *4th suka sekali dengan buku tapi blm bisa membaca. Adakah tips khusus?

1⃣ bunda Ika yang baik, anak usia 4 tahun belum wajib bisa membaca ��, cukup dengan sering mengajaknya membaca dengan metode:
- follow the line➡saat membaca bersama anak, gunakan jari kita untuk menunjuk baris2 yang kita baca.
- story telling/mendongeng. Gunakan intonasi menarik untuk memancing ketertarikan anak pada apa yg kita bacakan

Karena, yang terpenting untuk anak usia 4 tahun adalah membangun kecintaannya pada aktivitas membaca dulu.

Nanti di usia 6.8 atau 7 tahun, barulah kita boleh 'pusing' bila anak belum juga tertarik untuk belajar membaca ��

2⃣ Fera - Kartasura

��� tanya bunda, anak sy perempuan 4th dan laki2 2th. Utk teladan baca sy baca buku, suami baca koran. Tp ya blm tentu setiap hari sih. Anak2 sudah disediakan buku sendiri, tp ujung2nya lebih tertarik dg buku ortunya ��
Gmn ya bund, agar anak mjd lebih tertarik dg buku? Terutama anak sy yg 4th klo buka buku malah nyanyi2 yg tidak nyambung dg buku bacaannya? ��
Terima kasih.

2⃣ bunda Fera sholihah, agar anak lebih tertarik pada buku, caranya adalah lebih sering beraktivitas dengan buku, agendakan secara khusus setiap hari untuk membacakan buku. Bila belum bisa menyediakan waktu yg panjang, minimal sediakan 10menit setiap hari ��
Pastikan saat kita membaca bersama anak, hati-pikiran kita fokus kepada aktivitas tsb. Sehingga, kita akan mempersiapkan proses membaca bersama itu dengan sebaik mungkin, karena kita akan berusaha memikat klien utama kita (anak) ��

3⃣ Chika - Solo (Shaw 3th)

Buku apa yg menarik utk anak 3th cowok.. apakah ada waktu yg baik utk membaca? Misal pagi hari jam brp atau sblm tidur gt

3⃣ Bunda Chika...great questions! ��
Buku yang menarik utk anak usia 3thn adalah buku yang lebih dominan gambarnya, dan berisi kurang dari 100 kata. Sebisa mungkin, cari buku2 yg bergambar mendekati bentuk aslinya.
Waktu terbaik? Saat anak sedang bahagia dan nyaman...��
Selamat membaca bersama Shaw ya bund...

4⃣ Nares - Yogya

Ibu thasya yang baik,
Terkait raising a reader, anak saya (3tahun) lagi senang2nya pada buku. Sejak 6bln sy kenalkan soft book hingga sekarang hardbook yang semua halaman hardpaper. Tiap dikamar jelang tidur minta dibacakan.
Buku genre apa untuk anak balita?

4⃣bunda Nares tersayang, langkahnya sudah luar biasa ya...mulai dari buku bertekstur, hingga board book.
Saya pribadi meyakini, bahwa momen sebelum tidur sangat efektif untuk menanamkan nilai2 positif dan menguatkan karakternya melalui kisah. Maka saya memilih buku yang menguatkan hal tersebut. Biasanya buku yang saya pilih adalah buku2 yang berkisah tentang rasul dan para sahabatnya. Pilihan kembali pada bunda ��

5⃣ Rini - Solo ( anak 1 usia 3,5 thun)

anak sy saat ini lg seneng2 nya diceritaain abinya karena memang blm bisa membaca, saat ini saya amati dia lbh intens membaca huruf hijaiyah dan kurang tertarik dengan huruf latin kecuali membaca namanya sendiri.
Jadi klo ada huruf yg sama kyk namanya dia menganggapnya itu namanya.

Apakah memang demikian anak usia segitu?bgmana sebaiknya mengenalkan membaca di usia 3th dg huruf atau lgsg kosakata

5⃣ bunda Rini, untuk anak usia 3 thn, target itamanya bukan mengajarkan membaca huruf per huruf atau kata per kata, namun bagaimana memantik ketertarikannya pada aktivitas membaca. 'Cinta membaca', jauh lebih penting dari 'bisa membaca'.
Nanti, setelah ia 'membaca' pancing ia untuk menceritakan apa yang sudah dibacanya 'versi dirinya' ��

6⃣ Esti - Sukoharjo

#Prioritas mana antara mengenalkan membaca huruf hijayyah atau membaca latin ?

#bagaimana menyeimbangkan antara suka baca buku/komik/koran dll, dengan baca Quran ?

trimkasih

6⃣ Bunda Esti, untuk pertanyaan pertama, ada dua pendapat. Ada yg memilih mengajarkan huruf hijaiyah terlebih dahulu karena mengutamakan pahala mengajarkan membaca al qur'an. Ada yg memilih mengajarkan huruf latin dahulu karena di Indonesia, sebagian besar bacaan yang ada di sekitar kita berhuruf latin (kiri ke kanan). Mangga dipilih saja bun ��

Bagaimana menyeimbangkannya? Saya pribadi cenderung mengarahkan anak untuk membaca hanya yg bermanfaat. Dan Al Qur'an mendapat porsi utama. Sedikit sekali porsi untuk komik, karena kami hanya menemukan sedikit sekali komik yang bermanfaat dan meningkatkan kualitas iman anak2. Sehingga, saya pikir....pilihan bacaan akan sangat bergantung pada visi misi keluarga kita ��

7⃣ Lovi - Jaten

Library skill itu apa?
Mulai usia brp anak dikenalkan ensiklopedi? Baiknya ensiklopedi yg bergambar asli ato kartun?
Minta saran tema bacaan untuk anak balita bun.
Terima kasih

7⃣ library skill itu kemampuan 'menggunakan' perpustakaan bunda Lovi. Mulai dari menyiapkan tema yang akan kita cari, bagaimana cara mencari buku di perpustakaan untuk tema tersebut, hingga proses pengembaliannya.

Ensiklopedi visual (yg didominasi gambar, boleh2 saja dikenalkan sejak usia 3 tahun sekalipun. Saran saya, pilih yang gambarnya bukan kartun.
Tema bacaan untuk balita, baiknya yang mendekati kehidupan nyatanya, contoh: buku belajar menyikat gigi sendiri, tini membantu ibu, dll. ��

8⃣ Wiwik - Klaten
Anak sy udah hoby baca, pertanyaannya, bgmn ya crnya menambah kecepatan baca? dia emang masih kelas dua sd dan sudah keliat suka bc d tulis apapun yg diliatnya.

8⃣Bunda Wiwik shalihah, kecepatan membaca akan meningkat secara otomatis seiring 'jam terbangnya'. Nanti di usia 15 tahun'an, boleh saja bila ingin diajarkan sistem speed reading, tapi untuk sekarang, saran saya perbanyak saja jam terbangnya ��

9⃣ Tyas - Skh
Mbak kalau untuk buku bacaan anak, Apakah Kita harus membaca dulu baru mereka baca?

9⃣ Bunda Tyas, semua buku untuk anak, wajib kita baca terlebih dahulu untuk menghindari anak terpapar konten yang tidak sesuai untuk usianya. ��

�� Rahma - Solo

Bunda kaka
Saat ini banyak buku2 bagus utk anak yg harganya jutaan sampai ada arisan segala utk memperingan angsuran biayanya. Perlukah kita memilikinya? Ada rekomen bgs buku utk balita seperti apa

��Bunda Rahma...tentang perlu atau tidaknya, lagi2 harus dikembalikan pada visi misi keluarga. Bila kontennya dianggap mendukung proses pendidikan dalam keluarga, maka buku2 tersebut dapat menjadi pilihan. Namun bila sekiranya harganya malah memberatkan, tentu kembali ke prioritas keluarga. Jangan terpaku pada harga. Untuk urusan buku, saya termasuk yang sering berburu buku di pasar murah atau pasar buku bekas. Karena, ensiklopedi yang harganya jutaan itu, di pasar buku bekas rata2 dijual hanya 50-200ribu saja/paket ��. Selain itu, buku2 lainnya pun masih banyak yg tak kalah bagus dari buku2 yang harganya jutaan itu lho.. ��

Q&A Kulwapp Hebat Community , "Fatherhood"

1⃣ bunda Dita, Semarang
assalamu'alaikum...
pada keluarga yg ayahnya lbh sering tidak di rumah karena pekerjaan (minimal 200hari di lapangan) shg tidak bs optimal menjalankan poin2 tsb, kira2 poin mana yg bisa digantikan oleh ibu anak2 dan mana poin yg tidak boleh sama sekali digantikan?
terima kasih....

Waalaikumsalaam Bunda Dita dan ayah bunda semua

Terkait peran ayah, pada prinsipnya peran-peran tersebut *Tidak Bisa Digantikan*

Hal ini adalah prinsip, dan untuk kita para ayah, kita harus betul-betul memahami ini dan menjadikan ini standar kita. Bahwa tanggung jawab dan peran kita di tengah keluarga itu Tidak Tergantikan.

Ini adalah prinsip. Ini adalah "Aqidah" seorang ayah yang total dengan tanggung jawabnya.

Adapun dalam pelaksanaannya, kita bisa meminta keterlibatan istri untuk menjadi pendukung dan pelanjut peranan kita saat kita sedang tidak di rumah.

Jadi untuk peran sebagai pemimpin keluarga, teladan, guru, pelatih, mentor, dll itu, kita HARUS selalu berperan.

Jika situasi menuntut kita secara berkala harus pergi jauh, pada saat itu, rencana kita, arahan kita, panduan kita untuk keluarga bisa dititipkan pada istri.

Namun sebelum itu, saat kita sedang bersama keluarga, sehari-hari bersama, kita harus memastikan semua peran dan tanggung jawab itu kita lakukan langsung.

Jadi kita harus mengatur bagaimana DEFAULT nya adalah kita bersama keluarga kita, hadir dan berperan di tengah-tengah mereka. Situasi di mana kita harus meninggalkan keluarga karena tugas untuk sementara waktu adalah kondisi sewaktu-waktu saja, bukan defaultnya begitu.

Demikian menurut saya. Monggo kalau ada tanggapan dari Bunda Dita atau dari ayah bunda yang lain ✅

2⃣ Ayah Eri - Bekasi
Bagaimana utk ayah menjalankan peran fatherhood-nya smntara pkerjaannya menuntut ia bekerja jauh dr keluarga (di luar kota/negeri) utk jngka waktu yg ckp panjang, smntra tdk terlalu memungkinkan utk pulang pergi secara intens?

Baik, saya akan langsung tanggapi ya.

Inti pertanyaan dari Ayah Eri ini "bagaimana", artinya ini bersifat teknis.

Sebelum masuk ke teknis, pastikan dulu bahwa standar kita tentang keharusan berperan memimpin dan memelihara keluarga sudah pada standar tertinggi.

Kalau standarnya sudah poll, saya yakin seorang laki-laki akan melakukan apapun untuk sesuatu yang sangat dipentingkannya.

Bahasa gampangnya, kalau sudah betul betul penting dan tidak ada kompromi, seorang laki-laki siap untuk nekat melakukan apapun demi tujuan dan kepentingannya tercapai.

3⃣ Bunda Fajri - Makassar.
Bagaimana menyikapi ayah yang tidak bisa membentuk visi misi hidup untuk keluarga, padahal telah sering didorong oleh istrinya, bagaimana tips mendorong ayah untuk bisa mempunyai semangat untuk menjadi coach/mentor untuk keluarganya, sehingga tidak hanya berlabel "suami" saja. Dan bagaimana seharusnya sikap suami terhadap seorang istri yang cenderung dominan dalam keputusan dalam keluarga, karena sikap dominannya terkadang karena sang ayah cenderung bersikap seolah cuek.  Terima kasih

Terima kasih Bunda Fajri untuk pertanyaannya. Ini memang pertanyaan mendasar untuk umumnya ayah di indonesia.

Perlu dipahami bahwa pada tiga atau dua generasi terakhir, laki-laki tumbuh dalam dunia yang menggambarkan mereka sebagai pekerja, bukan sebagai pemimpin keluarga, dan oleh karena itu umumnya kami para lelaki dewasa tidak memiliki konsep tentang keluarga dan tidak memiliki gambaran yang jelas tentang tanggung jawab dan peran kami di dalam keluarga.

Ini seperti bahwa di masyarakat kita ada fase di mana para muslimah berusaha untuk mengembalikan pemahaman bahwa berhijab itu wajib dan merupakan mandat hidup setiap muslimah. Dahulu memang standarnya yang penting wanita itu berpakaian dan berperilaku santun. Namun para muslimah berjuang bersama untuk melengkapi standar kesantunan itu dengan juga memenuhi kewajiban berhijab.

Saat ini dunia para ayah, memang punya PR sendiri. ya ini, kesadaran bahwa menjadi pemimpin keluarga, dan menunaikan kewajiban memelihara, memandu, dan memimpin keluarga adalah keharusan yang tidak bisa ditawar.

Karena itulah saya juga merasa berkewajiban untuk ikut terlibat dalam gerakan penyadaran bagi para ayah.

Jadi yang ingin saya tekankan di awal adalah : ini adalah kewajiban kaum laki-laki, kewajiban para ayah untuk saling mengingatkan.

Terlebih karena pada kenyataannya laki-laki itu cenderung lebih mudah mendengarkan dan mengikuti arahan dari sesama laki-laki, terutama dari mereka yang tampak lebih senior, lebih bijak, lebih berilmu, lebih punya otoritas, atau lebih dihormati.

Saya menyimpulkannya secara sederhana dalam kalimat ini "Tugas istri adalah mendengarkan suaminya, tugas suami adalah mendengarkan orang yang lebih berilmu dari kalangannya".

Maka ada 2 hal yang bisa dilakukan oleh seorang istri untuk membantu suaminya membangun kesadaran dan kesungguhan untuk menjadi ayah yang sejati.

1. Jadilah istri yang sebaik-baiknya. Berikan yang terbaik pada suami dan keluarga. Dengan ini saya yakin Allah akan menjadikan keluarga anda semakin menyenangkan, berkah, dan nyaman. Hal ini kemudian saya yakin akan dirasakan oleh sang suami. Ia merasakan bahwa yang paling mendengarkan, menghormati, dan menyenangkannya adalah istrinya. Tempat yang paling nyaman baginya adalah rumahnya.

Semua kebaikan yang dilakukan istri akan memberikan pengaruh positif pada sang suami, dan akan membangun persepsi yang semakin positif tentang rumah dan keluarga pada pikiran sang suami.

Jadikanlah sang suami sebagai tempat bertanya dan meminta saran dalam apapun. Tempatkan sang suami sebagai "raja" di rumah. Berikan apapun yang bisa diberikan. Pada akhirnya itu semua adalah ibadah, dan Allah pasti akan menghargai semua yang telah diikhtiarkan oleh sang istri.

Berikutnya yang kedua :

Bantu dan mudahkan suami untuk semakin baik dalam beribadah dan berjamaah. Mudahkan suami untuk bisa shalat berjamaah di masjid, berinteraksi dengan orang lain yang lebih berilmu, dan menjadi dekat dengan sumber-sumber ilmu.

Bukan dengan disuruh atau diceramahi "ayo tho Pah, sholat itu mbok ya di masjid. wajib lho!"

Bukan begitu.. senep nanti sang suami ������

Carilah cara yang halus dan menyenangkan ��

Misalnya : setiap mendekati waktu sholat, pastikan sudah tersedia baju koko, sarung, atau apapun yang suami butuhkan untuk bisa sholat di masjid.

Kalo weekend, bisa minta diantar ke kajian atau ceramah.

Kalau punya rejeki lebih, bicarakan dengan suami apakah bisa rejeki tersebut digunakan untuk membantu tetangga yang kekurangan, barangkali di lingkungan sekitar ada anak yatim atau keluarga miskin.

Ketika istri bisa menciptakan keseharian yang kondusif, penuh semangat ibadah dan muamalah, Insya Allah suami akan juga bersentuhan dengan sumber sumber ilmu dan kebaikan.

Adapun untuk situasi di mana istri dominan dan suami cuek..

Langkah 1 : sang istri harus bisa menahan diri. Kalau istri bersikap dominan, tentu ini justru menghambat suami untuk sepenuhnya berperan sebagai pemimpin keluarga.

Kalau di rumah banyak masalah yang perlu sentuhan dan arahan sang ayah namun kok kelihatannya sang ayah tidak juga bertindak, tanyakanlah baik-baik. minta saran dan arahan. tetap tenang dan tidak perlu panik.

kalau keburu panik, istri bisa jadi ngga sabaran kan? jadi nggrusa-nggrusu, gelisah, emosional.. ya kalau begitu umumnya para laki-laki memang bakal jadi jengah dan akhirnya jadi cuek..

Jadi, kalau disederhanakan : bantu dan mudahkan sang ayah untuk merasakan bahwa dialah bos dan pemimpin perusahaan ini ��

Kabar baiknya : umumnya laki-laki paling senang dipercaya dan diandalkan. mereka akan sangat bersemangat di tempat di mana mereka merasa paling dihargai dan dibutuhkan. so, simpel sebenarnya kan ? pastikan sang ayah merasa di rumah dia adalah CEO atau Direktur. Maka dia akan berperilaku sebagai CEO di rumah ��

Situasi di setiap keluarga tentu tidak sama persis. Namun secara garis besar menurut saya seperti itu ✅

. Pertanyaan bunda Fajri - Makassar,
hampir sama isinya dengan:
- bunda Nesri - Bogor
- bunda Diah - Bogor
>> Bagaimana jika ibu yang lebih concern masalah misi hidup?
*misi hidup dan turunannya, suami tinggal manut (ikut ��)= istri DOMINAN

Solusinya : Ilmu.

Laki-laki yang menjalani hidup sekedar secara praktis dan pragmatis, hidupnya fokus di kerja kerja kerja saja.. yang dia butuhkan adalah ilmu tentang hidup. ia membutuhkan pencerahan. dan jalan satu-satunya adalah dengan menjadi seorang muslim yang lebih baik.

Supaya suami tergerak mencari ilmu, pastikan istri tidak hanya menunjukkan kebutuhan didukung secara finansial dan praktis saja. istri perlu menempatkan suami sebagai tempat bertanya dan meminta panduan. hargai panduannya seperti apapun yang bisa seorang suami berikan saat ini. seiring waktu saya yakin sang suami merasa ia harus belajar dan mencari ilmu lebih banyak agar ia dapat memberikan arahan dan solusi yang lebih baik untuk pertanyaan pertanyaan istrinya.

Salah satu yang menurut saya akan sangat efektif membantu para ayah menjadi lebih baik adalah : jika para istri semakin membaikkan adab dan penghormatannya pada suami.

Coba kalau kita lihat bagaimana ibu atau nenek kita berkomunikasi dengan ayah atau kakek kita. Kita terlihat ada tata krama dan unggah ungguh yang betul betul dijaga, maka cobalah juga berkomunikasi seperti itu dengan suami anda. jadi tidak seperti obrolan antara teman kuliah, atau sekedar obrolan dua orang manusia yang sama sama dewasa.

4⃣ Pak Khaerudin - Bogor
Mau bertanya Bagaimana langkah  seorang ayah menjadi seorang konselor bagi keluarganya?

Agar Ayah bisa menjadi konselor bagi keluarganya, mulailah bergeser dari sekedar menjalani hidup ini di tengah pekerjaan dan kesibukan praktis pragmatis, mulailah memahami dan menjalani hidup ini secara utuh.

Renungkanlah tentang hidup. Tentang Allah dan apa tujuan Allah menghadirkan kita ke dunia, memberikan kita keluarga, dan menghadapkan kita dengan berbagai tantangan kehidupan.

Saat kita para lelaki yang sudah berkeluarga ini mau mulai lebih merenungkan hidup, kita akan mulai merasakan kebutuhan akan ilmu, akan kebijaksanaan dan nasehat dari orang orang yang lebih berilmu.

Jika itu sudah ada dalam diri kita, kita sudah mulai menjalani hidup ini secara utuh, saya yakin di saat yang sama kita semakin siap untuk memberikan arahan dan jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan yang hadir dari istri dan anak-anak kita.

Kita akan juga mulai peduli untuk memahami hidup istri dan anak-anak kita. Kita mau mencari tahu dan berusaha memahami apa sih yang dihadapi oleh istri dan anak-anak kita.

Insya Allah dengan begitu kita mampu berperan sebagai pemandu, pendengar, dan pendamping istri dan anak-anak kita dalam menjalani kehidupan meraka.

RESUME KULWAPP HEBAT COMMUNITY


HEbAT Semarang Community
Kulwap Materi Lanjutan dengan Tema  "Fatherhood" 

Bersama  
Narsum: ayah Firman Muhammad
Host : bunda Feby

�� Jumat, 03 Juni 2016
⏰ 19.30-21.00 WIB

Judul :  *Amanah Ayah Sang Pemimpin Keluarga*

Kita sama-sama bersyukur bahwa kesadaran akan pentingnya seorang ayah/suami berperan nyata di tengah keluarga semakin dirasakan oleh semua orang. Memang sudah merupakah fitrahnya, keluarga hanya akan sehat dan kuat jika ayah/suami sebagai pemimpin keluarga sungguh-sungguh menjalankan peran dan tanggung jawabnya.

Kini saat kesadaran itu semakin menyebar, tidak sedikit yang bertanya-tanya sebenarnya apa saja peran ayah di tengah keluarga dan bagaimana cara menjalankan peranan tersebut. Sudah cukup banyak referensi yang mengkaji tentang hal ini.

Untuk sekedar memberikan kerangka diskusi kita, di sini saya mencoba merangkum apa saja tugas seorang ayah sebagai pemimpin dan pendidik dalam keluarga.

A. Memimpin Keluarga Menuju Akhirat

Membawa keluarga ke dalam kebenaran. Membawa ilmu yang benar ke dalam keluarga, dan mencontohkan amal yang benar dan konsisten dalam keluarga. Mampu memilah dan memilih antara yang haq dan bathil. Menjaga keluarga dari segala keburukan. Mampu menjadi hakim yang adil di dalam keluarga, dan mampu memelihara jamaah keluarga.

B. Menaungi/Memelihara Keluarga dalam Kehidupan Dunia

Tugas ayah adalah mencari nafkah yang halal dan barokah. Kemudian ia pun harus menyediakan tempat tinggal dan lingkungan yang baik untuk kehidupan keluarganya. Ayah juga ada pemelihara hubungan kekeluargaan dengan keluarga besar baik dari pihak sang ayah atau dari pihak keluarga sang istri. Mengenalkan anak-anaknya pada keluarga besar dan asal usulnya, menjaga silaturahim dengan mertua, dan saudara baik yang dekat maupun yang jauh.

C. Mengenal Diri dan Mampu Mewujudkan Misi Hidupnya

Menjadi ayah adalah salah satu amanah hidupnya. Di samping itu, ia adalah seorang manusia, seorang muslim, seorang anak, seorang anggota masyarakat. Sebelum mampu menjadi seorang ayah yang paripurna maka ia pun harus mampu memimpin dirinya sendiri.
      Hanya seorang ayah yang mampu mengenal diri dan mewujudkan misi hidupnya yang bisa menjadi teladan bagi anak-anaknya.

D. Memimbing Istri dalam Menyempurnakan Misi Hidupnya

Seorang suami harus mengenal sifat dan potensi istrinya dan memahami apa sebenarnya peran dan misi hidup istrinya baik sebagai istri/ibu/wanita/manusia. Setelah itu, lakukanlah apapun yang bisa dilakukan untuk mendukung istri menyempurnakan peran dan misi hidupnya.

E.Memandu Anak menuju Masa Depannya

Seorang ayah juga adalah pendidik dan pelatih bagi anak-anaknya. Ia harus mengenali anak-anaknya dan mampu membantu anaknya tumbuh berkembang menjadi manusia dewasa yang siap menjalani hidupnya di masa depan sesuai jalan hidup yang Allah berikan bagi masing-masing anaknya.
      Ayah harus mampu menjadi teman bermain bagi anak-anaknya, namun juga mampu melatih anaknya memasuki masa aqil baligh dengan baik untuk akhirnya menjadi manusia dewasa yang matang dan mandiri.

Dengan memahami peran-peran yang ada di atas, maka secara sederhana dapat kita simpulkan bawah dalam Pendidikan Keluarga di Rumah (Home Education), peran ayah adalah :

1. Seorang ayah adalah ulama, murobbi, dan da’i di tengah keluarga, baik itu keluarga inti maupun keluarga besar. Ayah lah yang harus paling bersungguh-sungguh untuk memahami ilmu agama. Paling bersungguh-sungguh mengenal dan menaati Allah. Begitu juga dalam mengenal Rasulullah dan mencontoh sunnah-sunnahnya. Ayah adalah pendidik, pembina, dan juga role model/teladan dalam hal ini.

2. Seorang ayah adalah teladan. Dalam aktivitasnya mencari nafkah, seorang ayah akan mencontohkan ketekunan, kesungguhan, kerja keras, serta kejujuran. Ayah mencontohkan pada anak-anaknya bagaimana menjadi manusia dewasa yang produktif dan mandiri. Istri dan anak-anak pun akan melihat bagaimana cara hidup bermasyarakat dan menjadi bagian dari suatu lembaga yang lebih besar seperti komunitas, lembaga, perusahaan, dan lain sebagainya.

3. Dalam kaitannya dengan poin C, D, dan E, Ayah adalah mentor, coach, atau fasilitator dalam proses mengembangkan hidup istri untuk mewujudkan misi hidupnya, serta membimbing anak-anak menuju masa depan mereka masing-masing.

4. Sebagai pelengkap, seorang ayah adalah pemelihara, pendukung, dan pelayan keluarga. Proses pendidikan dalam keluarga tentu membutuhkan sistem pendukung yang bisa menyediakan sumber daya, situasi, media, alat atau apapun yang dibutuhkan untuk memastikan proses berjalan optimal. Dibutuhkan totalitas ayah untuk bisa menyediakan apapun yang dibutuhkan dalam proses pendidikan di rumah.

 

Mama Belajar Template by Ipietoon Cute Blog Design