Jumat, 03 Februari 2017

My Family Forum Day#2

Di Hari Jum'at -Minggu famfor pavavima sedikit berbeda dengan rutinitas pada hari senin-kamis karna habis ba'da magrib  tidak ada rutinitas mengaji

Kamis blm menentukan teman famfor setiap harinya karna temanya bebas yg penting siapa boleh bercerita dan memulai obrolan dan bebas mau ngobrolin apa aja

Anak2 cerita ttg keseruan mama pada saat mengambil sendal vio yg jatuh pada saat naik motor ,mungkim buat kita itu adalah hal yg biasa tapi bukan buat anak anak ,menurut mereka itu adalah aksi heroik sang mama yg berjuang mengambil sendal yg terjatuh di tengah jalan. Ternyata kegembiraan anak2 itu simpel sekali gak perlu di setting just do it with your heart and it will come to be a nice story in their life .

Di rumah kita punya kesepakatan kalau tidak tidur siang maka jam tidur malam di percepat , Jam sudah menunjukka hampir jam 8 malam saatnya sudah harus beranjak ke tempay tidur . BBST (baca buku sebelum tidur) menjadi kegiatan rutin anak2 sebelum tidur  nah sebelum BBST juga saya sedang belajar membiasakan diri untuk membacakan buku sirah nawabawiyah rasulllah muhammat teladanku kepada anak2, semoga apa yg di sampaikan di serap oleh anak2 walau yach mereka tidak konsetrasi memdengarkan saya ini adalah rutinitas baru yg wajib harus saya ceritakan ke pada anak2 agar kelak.akhlak seindah rasulullah tertanam pada anak . Aamiin Ya rabbal alamin

Kebiasaam emak2 kayak saya nidurin anak2 sering kebablasan emaknya ikut tidur.. alhamdulilah terbangun baru ingat belum posting famfor day#2

Ini cerita family forum kami di hari ke-2

#day2
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Kamis, 02 Februari 2017

My Family Forum Day#1

Alhamdulillah akhirnya bisa memulai posting cerita family forum ala2 keluarga kami... karna memang baru bisa adaptasi dengan manajemen waktu yg baru karna saya mengambil challange jadi "Fasilitator" dan nyambi beberapa kegiatan yg harus di selesaikan

Alhamdulillah di kita family forum ala keluarga pavavima (papa,valens,vio,mama)  sudah terbentuk sejak nov 2016, family forum kita setiap harinya berlangsung dr jam 19.00 s.d 21.00 setelah solat magrib biasanya adalah jadwal mengaji  s.d jam 08.00,dan  selanjutnya adalah jadwal BBST (baca buku sebelum.tidur ) sebelum BBST saya meminta anak2 terlebih dahulu mendengarkan saya bercerita...1 halaman sirah nabawiyah rasulullah lalu membacakan buku kesayangan mereka..anak2 bebas memilih buku yg di bacakan dan bebas memilih siapa yg akan membacakam buku nya.

Nah setelah anak2 tidur saatnya quality time dengan suami, malam ini kami membahas ttg riba ,kami meninjau kembali pengeluaran setiap bulan tyt ada pos2 yg masih dekat dengan riba, malam ini kami mendengarkan webinar riba maa saptuari di youtube

Semoga semakin dapet pencerahan dan semakin mantap untuk berhijrah ..semoga suami bisa paham walau masih ada keraguan di raut wajahnya ..Allah Maha Membolak balikkan hati manusia
Bismillah ,Mudahkan ya Allah

#day1
#tantangan10hari
#KomunkasiProduktif
#Kuliahbunsayiip

*TANTANGAN 10 HARI BERKOMUNIkASI PRODUKTIF*

_Game Kelas Bunda Sayang_

Level 1
*TANTANGAN 10 HARI BERKOMUNIkASI PRODUKTIF*

Selamaaat anda memasuki game level 1, di kelas bunda sayang ini.

Dan inilah tantangan bulan ini :

KOMUNIKASI KELUARGAKU

a. Buatlah "family forum" ( forum keluarga) sebagai sarana komunikasi ala keluarga anda.

b. Ceritakan dg narasi pendek dan boleh disertai foto,

🍀Hal menarik apa saja yang anda dapatkan dalam berkomunikasi dengan keluarga anda hari ini?

🍀Perubahan apa yang anda buat hari ini dalam berkomunikasi?

c.Waktu yang kami berikan dari tanggal 24 januari -  11 feb 2017.

d. Anda cukup mengupload/menceritakan 10 hari dari 17 hari yg kami sediakan.

e. Setiap kali posting/upload gambar jangan lupa pakai hastag

#hari1
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

f. Posting link tulisan dan foto anda di grup FB kelas

g. Bagi anda yang sudah menyelesaikan tantangan di level 1 ini dengan tepat waktu akan mendapatkan badge cantik bertuliskan

_I'm responsible for my communication result_

yang sudah disiapkan oleh para tim fasilitator bunda sayang.

_Selamat berkreasi dalam membangun komunikasi_

Salam Ibu Profesional,

/Tim Bunda Sayang 2017/

Komunikasi Produktif

_Institut Ibu Profesional_
_Materi Kelas Bunda Sayang sesi #1_

*KOMUNIKASI PRODUKTIF*

Selisih paham sering kali muncul bukan karena isi percakapan melainkan dari cara penyampaiannya. Maka di tahap awal ini penting bagi kita untuk belajar cara berkomunikasi yang produktif,  agar tidak mengganggu hal penting yang ingin kita sampaikan,  baik kepada diri sendiri,  kepada pasangan hidup kita dan anak-anak kita.

*_KOMUNIKASI DENGAN DIRI SENDIRI_*

Tantangan terbesar dalam komunikasi adalah mengubah pola komunikasi diri kita sendiri. Karena mungkin selama ini kita tidak menyadarinya bahwa komunikasi diri kita termasuk ranah komunikasi yang tidak produktif.

Kita mulai dari pemilihan kata yang kita gunakan sehari-hari.

*_Kosakata kita adalah output dari struktur berpikir  dan cara kita berpikir_*

Ketika kita selalu berpikir positif maka kata-kata yang keluar dari mulut kita juga kata-kata positif, demikian juga sebaliknya.

_Kata-kata anda itu membawa energi, maka pilihlah kata-kata anda_

Kata  *masalah* gantilah dengan *tantangan*

Kata *Susah* gantilah dengan *Menarik*

Kata *Aku tidak tahu* gantilah *Ayo kita cari tahu*

Ketika kita berbicara “masalah” kedua ujung bibir kita turun, bahu tertunduk, maka kita akan merasa semakin berat dan tidak bisa melihat solusi.

Tapi jika kita mengubahnya dengan “TANTANGAN”, kedua ujung bibir kita tertarik, bahu tegap, maka nalar kita akan bekerja mencari solusi.

*_Pemilihan diksi (Kosa kata) adalah pencerminan diri kita yang sesungguhnya_*

Pemilihan kata akan memberikan efek yang berbeda terhadap kinerja otak. Maka kita perlu berhati-hati dalam memilih kata supaya hidup lebih berenergi dan lebih bermakna.

Jika diri kita masih sering berpikiran negatif, maka kemungkinan diksi (pilihan kata) kita juga kata-kata negatif, demikian juga sebaliknya.

*_KOMUNIKASI DENGAN PASANGAN_*

Ketika berkomunikasi dengan orang dewasa lain, maka awali dengan kesadaran bahwa “aku dan kamu” adalah 2 individu yang berbeda dan terima hal itu.

Pasangan kita dilahirkaan oleh ayah ibu yang berbeda dengan kita, tumbuh dan berkembang pada lingkungan yang berbeda, belajar pada kelas yang berbeda, mengalami hal-hal yang berbeda dan banyak lagi hal lainnya.

Maka sangat boleh jadi pasangan kita memiliki *_Frame of Reference (FoR)_* dan *_Frame of Experience (FoE)_* yang berbeda dengan kita.

FoR adalah cara pandang, keyakinan, konsep dan tatanilai yang dianut seseorang. Bisa berasal dari pendidikan ortu, bukubacaan, pergaulan, indoktrinasi dll.

FoE adalah serangkaian kejadian yang dialami seseorang, yang dapat membangun emosi dan sikap mental seseorang.

FoE dan FoR mempengaruhi persepsi seseorang terhadap suatu pesan/informasi yang datang kepadanya.

Jadi jika pasangan memiliki pendapat dan pandangan yang berbeda atas sesuatu, ya tidak apa-apa, karena FoE dan FoR nya memang berbeda.

Komunikasi dilakukan untuk *MEMBAGIKAN* yang kutahu kepadamu, sudut pandangku agar kau mengerti, dan demikian pula SEBALIKnya.

*_Komunikasi yang baik akan membentuk FoE/FoR ku dan FoE/FoR mu ==> FoE/FoR KITA_*

Sehingga ketika datang informasi akan dipahami secara sama antara kita dan pasangan kita, ketika kita menyampaikan sesuatu,  pasangan akan menerima pesan kita itu seperti yang kita inginkan.

Komunikasi menjadi bermasalah ketika menjadi *MEMAKSAKAN* pendapatku kepadamu, harus kau pakai sudut pandangku dan singkirkan sudut pandangmu.

Pada diri seseorang ada komponen NALAR dan EMOSI; *_bila Nalar panjang - Emosi kecil; bila Nalar pendek - Emosi tinggi_*

Komunikasi antara 2 orang dewasa berpijak pada Nalar.
Komunikasi yang sarat dengan aspek emosi terjadi pada anak-anak atau orang yang sudah tua.

Maka bila Anda dan pasangan masih masuk kategori Dewasa --sudah bukan anak-anak dan belum tua sekali-- maka selayaknya mengedepankan Nalar daripada emosi, dasarkan pada fakta/data dan untuk problem solving.

Bila Emosi anda dan pasangan sedang tinggi, jeda sejenak, redakan dulu ==> agar Nalar anda dan pasangan bisa berfungsi kembali dengan baik.

Ketika Emosi berada di puncak amarah (artinya Nalar berada di titik terendahnya) sesungguhnya TIDAK ADA komunikasi disana, tidak ada sesuatu yang dibagikan; yang ada hanya suara yang bersahut-sahutan, saling tindih berebut benar.

Ada beberapa kaidah yang dapat membantu meningkatkan efektivitas dan produktivitas komunikasi Anda dan pasangan:

1. *Kaidah 2C: Clear and Clarify*

Susunlah pesan yang ingin Anda sampaikan dengan kalimat yang jelas (clear) sehingga mudah dipahami pasangan. Gunakan bahasa yang baik dan nyaman bagi kedua belah pihak.

Berikan kesempatan kepada pasangan untuk bertanya, mengklarifikasi (clarify) bila ada hal-hal yang tidak dipahaminya.

2. *Choose the Right Time*

Pilihlah waktu dan suasana yang nyaman untuk menyampaikan pesan. Anda yang paling tahu tentang hal ini. Meski demikian tidak ada salahnya bertanya kepada pasangan waktu yang nyaman baginya berkomunikasi dengan anda, suasana yang diinginkannya, dll.

3. *Kaidah 7-38-55*

Albert Mehrabian menyampaikan bahwa pada komunikasi yang terkait dengan perasaan dan sikap (feeling and attitude) aspek verbal (kata-kata) itu hanya 7% memberikan dampak pada hasil komunikasi.

Komponen yang lebih besar mempengaruhi hasil komunikasi adalah intonasi suara (38%) dan bahasa tubuh (55%).

Anda tentu sudah paham mengenai hal ini. Bila pasangan anda mengatakan "Aku jujur. Sumpah berani mati!" namun matanya kesana-kemari tak berani menatap Anda, nada bicaranya mengambang maka pesan apa yang Anda tangkap? Kata-kata atau bahasa tubuh dan intonasi yang lebih Anda percayai?

Nah, demikian pula pasangan dalam menilai pesan yang Anda sampaikan, mereka akan menilai kesesuaian kata-kata, intonasi dan bahasa tubuh Anda.

4. *Intensity of Eye Contact*

Pepatah mengatakan _mata adalah jendela hati_

Pada saat berkomunikasi tataplah mata pasangan dengan lembut, itu akan memberikan kesan bahwa Anda terbuka, jujur, tak ada yang ditutupi. Disisi lain, dengan menatap matanya Anda juga dapat mengetahui apakah pasangan jujur, mengatakan apa adanya dan tak menutupi sesuatu apapun.

5. *Kaidah: I'm responsible for my communication results*

Hasil dari komunikasi adalah tanggung jawab komunikator, si pemberi pesan.

Jika si penerima pesan tidak paham atau salah memahami, jangan salahkan ia, cari cara yang lain dan gunakan bahasa yang dipahaminya.

Perhatikan senantiasa responnya dari waktu ke waktu agar Anda dapat segera mengubah strategi dan cara komunikasi bilamana diperlukan. Keterlambatan memahami respon dapat berakibat timbulnya rasa jengkel pada salah satu pihak atau bahkan keduanya.

*KOMUNIKASI DENGAN ANAK*

Anak –anak itu memiliki gaya komunikasi yang unik.

*_Mungkin mereka tidak memahami perkataan kita, tetapi mereka tidak pernah salah meng copy_*

Sehingga gaya komunikasi anak-anak kita itu bisa menjadi cerminan gaya komunikasi orangtuanya.

Maka kitalah yang harus belajar gaya komunikasi yang produktif dan efektif. Bukan kita yang memaksa anak-anak untuk memahami gaya komunikasi orangtuanya.

Kita pernah menjadi anak-anak, tetapi anak-anak belum pernah menjadi orangtua, sehingga sudah sangat wajar kalau kita yang harus memahami mereka.

Bagaimana Caranya ?

a. *Keep Information Short & Simple (KISS)*

Gunakan kalimat tunggal, bukan kalimat majemuk

⛔Kalimat tidak produktif :
“Nak, tolong setelah mandi handuknya langsung dijemur kemudian taruh baju kotor di mesin cuci ya, sisirlah rambutmu, dan jangan lupa rapikan tempat tidurmu.

✅Kalimat Produktif :
“Nak, setelah mandi handuknya langsung dijemur ya”  ( biarkan aktivitas ini selesai dilakukan anak, baru anda berikan informasi yang lain)

b. *Kendalikan intonasi suara dan gunakan suara ramah*

Masih ingat dengan rumus 7-38-55 ? selama ini kita sering menggunakan suara saja ketika berbicara ke anak, yang ternyata hanya 7% mempengaruhi keberhasilan komunikasi kita ke anak. 38% dipengaruhi intonasi suara dan 55% dipengaruhi bahasa tubuh

⛔Kalimat tidak produktif:
“Ambilkan buku itu !” ( tanpa senyum, tanpa menatap wajahnya)

✅Kalimat Produktif :
“Nak, tolong ambilkan buku itu ya” (suara lembut , tersenyum, menatap wajahnya)

Hasil perintah pada poin 1 dengan 2 akan berbeda. Pada poin 1, anak akan mengambilkan buku dengan cemberut. Sedangkan poin 2, anak akan mengambilkan buku senang hati.

c.  *Katakan apa yang kita inginkan, bukan yang tidak kita inginkan*

⛔Kalimat tidak produktif :
“Nak, Ibu tidak ingin kamu ngegame terus sampai lupa sholat, lupa belajar !”

✅Kalimat produktif :
“Nak, Ibu ingin kamu sholat tepat waktu dan rajin belajar”

d.  *Fokus ke depan, bukan masa lalu*

⛔Kalimat tidak produktif :
“Nilai matematikamu jelek sekali,Cuma dapat 6! Itu kan gara-gara kamu ngegame terus,sampai lupa waktu,lupa belajar, lupa PR. Ibu juga bilang apa. Makanya nurut sama Ibu biar nilai tidak jeblok. Kamu sih nggak mau belajar sungguh-sungguh, Ibu jengkel!”

✅Kalimat produktif :
“Ibu lihat nilai rapotmu, hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan, ada yang bisa ibu bantu? Sehingga kamu bisa mengubah strategi belajar menjadi lebih baik lagi”

e. *Ganti kata ‘TIDAK BISA” menjadi “BISA”*

Otak kita akan bekerja seseai kosa kata. Jika kita mengatakan “tidak bisa” maka otak akan bekerja mengumpulkan data-data pendukung faktor ketidakbisaan tersebut. Setelah semua data faktor penyebab ketidakbisaan kita terkumpul , maka kita malas mengerjakan hal tersebut yang pada akhirnya menyebabkan ketidakbisaan sesungguhnya. Begitu pula dengan kata “BISA” akan membukakan jalan otak untuk mencari faktor-faktor penyebab bisa tersebut, pada akhirnya kita BISA menjalankannya.

f. *Fokus pada solusi bukan pada masalah*

⛔Kalimat tidak produktif :
“Kamu itu memang tidak pernah hati-hati, sudah berulangkali ibu ingatkan, kembalikan mainan pada tempatnya, tidak juga dikembalikan, sekarang hilang lagi kan, rasain sendiri!”

✅Kalimat produktif:
“ Ibu sudah ingatkan cara mengembalikan mainan pada tempatnya, sekarang kita belajar memasukkan setiap kategori mainan dalam satu tempat. Kamu boleh ambil mainan di kotak lain, dengan syarat masukkan mainan sebelumnya pada kotaknya terlebih dahulu”.

g. *Jelas dalam memberikan pujian dan kritikan*

Berikanlah pujian dan kritikan dengan menyebutkan perbuatan/sikap apa saja yang perlu dipuji dan yang perlu dikritik. Bukan hanya sekedar memberikan kata pujian dan asal kritik saja. Sehingga kita mengkritik sikap/perbuatannya bukan mengkritik pribadi anak tersebut.

⛔Pujian/Kritikan tidak produktif:

“Waah anak hebat, keren banget sih”
“Aduuh, nyebelin banget sih kamu”

✅Pujian/Kritikan produktif:
“Mas, caramu menyambut tamu Bapak/Ibu tadi pagi keren banget, sangat beradab, terima kasih ya nak”

“Kak, bahasa tubuhmu saat kita berbincang-bincang dengan tamu Bapak/Ibu tadi sungguh sangat mengganggu, bisakah kamu perbaiki lagi?”

h. *Gantilah nasihat menjadi refleksi pengalaman*

⛔Kalimat Tidak Produktif:
“Makanya jadi anak jangan malas, malam saat mau tidur, siapkan apa yang harus kamu bawa, sehingga pagi tinggal berangkat”

✅Kalimat Produktif:
“Ibu dulu pernah merasakan tertinggal barang yang sangat penting seperti kamu saat ini, rasanya sedih dan kecewa banget, makanya ibu selalu mempersiapkan segala sesuatunya di malam hari menjelang tidur.

I. *Gantilah kalimat interogasi dengan pernyataan observasi*

⛔Kalimat tidak produktif :
“Belajar apa hari ini di sekolah? Main apa saja tadi di sekolah?

✅Kalimat produktif :
“ Ibu lihat matamu berbinar sekali hari ini,sepertinya  bahagia sekali di sekolah,  boleh berbagi kebahagiaan dengan ibu?”

j. *Ganti kalimat yang Menolak/Mengalihkan perasaan dengan kalimat yang menunjukkan empati*

⛔Kalimat tidak produktif :
"Masa sih cuma jalan segitu aja capek?"

✅kalimat produktif :
kakak capek ya? Apa yang paling membuatmu lelah dari perjalanan kita hari ini?

k. *Ganti perintah dengan pilihan*

⛔kalimat tidak produktif :
“ Mandi sekarang ya kak!”

✅Kalimat produktif :
“Kak 30 menit  lagi kita akan berangkat, mau melanjutkan main 5 menit lagi,  baru mandi, atau mandi sekarang, kemudian bisa melanjutkan main sampai kita semua siap berangkat

Salam Ibu Profesional,

/Tim Bunda Sayang IIP/

Sumber bacaan:
_Albert Mehrabian, Silent Message : Implicit Communication of Emotions and attitudes, e book, paperback,2000_

_Dodik mariyanto, Padepokan Margosari : Komunikasi Pasangan, artikel, 2015_

_Institut Ibu Profesional, Bunda Sayang : Komunikasi Produktif, Gaza Media, 2014_

_Hasil wawancara dengan Septi Peni Wulandani tentang pola komunikasi di Padepokan Margosari_

Senin, 24 Oktober 2016

MENJADI IBU PROFESIONAL, KEBANGGAAN KELUARGA🙋

Matrikulasi Ibu Profesional Sesi #2

🙋MENJADI IBU PROFESIONAL, KEBANGGAAN KELUARGA🙋

Apa kabar bunda dan calon bunda peserta matrikulasi IIP batch #2? Pekan ini kita akan belajar bersama
a. Apa Itu Ibu Profesional?
b. Apa itu Komunitas Ibu Profesional?
c. Bagaimana tahapan-tahapan untuk menjadi Ibu Profesional?
d. Apa saja indikator keberhasilan seorang Ibu Profesional?

🍀APA ITU IBU PROFESIONAL?

Kita mulai dulu dengan mengenal kata IBU ya. Menurut Kamus Besar bahasa Indonesia Ibu itu memiliki makna 1 perempuan yang telah melahirkan seseorang; 2 sebutan untuk perempuan yang sudah bersuami;3 panggilan yang takzim kepada perempuan baik yang sudah bersuami maupun yang belum; 4 bagian yang pokok (besar, asal, dan sebagainya): -- jari; 5 yang utama di antara beberapa hal lain; yang terpenting: -- negeri; -- kota;

Sedangkan kata PROFESIONAL, memiliki makna 1 bersangkutan dengan profesi; 2 memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya: ia seorang juru masak --;
Berdasarkan dua makna tersebut di atas, maka IBU PROFESIONAL adalah seorang perempuan yang :

a. Bangga akan profesinya sebagai pendidik utama dan pertama bagi anak-anaknya.
b.Senantiasa memantaskan diri dengan berbagai ilmu, agar bisa bersungguh –sungguh mengelola keluarga dan mendidik anaknya dengan kualitas yang sangat baik.

🍀APA ITU KOMUNITAS IBU PROFESIONAL?

Adalah forum belajar bagi para perempuan yang senantiasa ingin meningkatkan kualitas dirinya sebagai seorang ibu, istri dan sebagai individu.

🍀MISI KOMUNITAS IBU PROFESIONAL

1.Meningkatkan kualitas ibu dalam mendidik anak-anaknya, sehingga bisa menjadi
guru utama dan pertama bagi anaknya.
2. Meningkatkan kualitas ibu dalam mengelola rumah tangga dan keluarganya
sehingga menjadi keluarga yang unggul.
3. .Meningkatkan rasa percaya diri  ibu dengan cara senantiasa berproses menemukan misi spesifik hidupnya di muka bumi ini. Sehingga  ibu bisa produktif dengan bahagia, tanpa harus meninggalkan anak dan keluarganya
4. Meningkatkan peran ibu menjadi "change agent" (agen pembawa perubahan), sehingga keberadaannya akan bermanfaat bagi banyak orang.

🍀VISI KOMUNITAS IBU PROFESIONAL

Menjadi komunitas pendidikan perempuan Indonesia yang unggul dan profesional sehingga bisa berkontribusi kepada negara ini dengan cara membangun peradaban bangsa dari dalam internal keluarga.

🍀BAGAIMANA TAHAPAN-TAHAPAN MENJADI IBU PROFESIONAL?

Ada 4 tahapan yang harus dilalui oleh seorang Ibu Profesional yaitu :
a. Bunda Sayang
Ilmu-ilmu untuk meningkatkan kualitas ibu dalam mendidik anak-anaknya, sehingga bisa menjadi guru utama dan pertama bagi anak-anaknya

b. Bunda Cekatan
Ilmu-ilmu untuk meningkatkan kualitas ibu dalam mengelola rumah tangga dan keluarganya sehingga menjadi keluarga yang unggul.

c. Bunda Produktif
Ilmu-ilmu untuk meningkatkan rasa percaya diri  ibu, dengan cara senantiasa berproses menemukan misi spesifik hidupnya di muka bumi ini. Sehingga  ibu bisa produktif dengan bahagia, tanpa harus meninggalkan anak dan keluarganya

d. Bunda Shaleha
Ilmu-ilmu untuk meningkatkan peran ibu sebagai agen pembawa perubahan di masyarakat, sehingga keberadaannya bermanfaat bagi banyak orang.

🍀APA INDIKATOR KEBERHASILAN IBU PROFESIONAL?

“Menjadi KEBANGGAAN KELUARGA”

Kalimat di atas adalah satu indikator utama keberhasilan seorang Ibu Profesional. Karena  anak-anak dan suami kitalah yang paling berhak pertama kali mendapatkan ibu dan istri yang terbaik di mata mereka.

Maka yang perlu ditanyakan adalah sbb :

BUNDA SAYANG
a. Apakah anak-anak semakin senang dan bangga dididik oleh ibunya?
b. Apakah suami semakin senang dan bangga melihat cara istrinya mendidik anak-anak, sehingga keinginannya terlibat dalam pendidikan anak semakin tinggi?
c. Berapa ilmu tentang pendidikan anak yang kita pelajari dalam satu tahun ini?
d. Berapa ilmu yang sudah kita praktekkan bersama anak-anak?

BUNDA CEKATAN
a. Apakah manajemen pengelolaan rumah tangga kita menjadi semakin baik?
b.Apakah kita sudah bisa meningkatkan peran kita di rumah? Misal dulu sebagai “kasir” keluarga sekarang menjadi “manajer keuangan keluarga”.
c.Berapa ilmu tentang manajemen rumah tangga yang sudah kita pelajari dalam satu tahun ini?
d.Berapa ilmu yang sudah kita praktekkan dalam mengelola rumah tangga

BUNDA PRODUKTIF
a. Apakah kita semakin menemukan minat dan bakat kita?
b. Bagaimana cara kita memperbanyak jam terbang di ranah minat dan bakat kita tersebut?
c. Apakah kita merasa menikmati (enjoy), mudah (easy), menjadi yang terbaik (excellent) di ranah minat dan bakat kita ini?
d. Bagaimana cara kita bisa produktif dan atau mandiri secara finansial tanpa harus meninggalkan anak dan keluarga?

BUNDA SHALEHA
a. Nilai-nilai apa saja yang kita perjuangkan dalam hidup ini?
b. Apa yang ingin kita wariskan di muka bumi ini, yang tidak akan pernah mati ketika kita tiada?
c. Program berbagi apa yang akan kita jalankan secara terus menerus?
d. Apakah kita merasa bahagia dengan program tersebut?

Selamat berproses menjadi Ibu Profesional, dan nikmatilah tahapan-tahapan belajar yang bunda dan calon bunda rasakan selama mengikuti program pendidikan di Ibu Profesional ini dengan segenap kesungguhan

Seperti pesan pak Dodik ke saya untuk meyakinkan beliau tentang pentingnya kesungguhan menjadi seorang Ibu sbb:
“Bersungguh-sungguhlah kamu di dalam, maka kamu akan keluar dengan kesungguhan itu, tidak ada hukum terbalik” -Dodik Mariyanto

Salam Ibu Profesional

/Septi Peni dan Tim Matrikulasi Ibu Profesional/

📚SUMBER BACAAN:
Kamus Besar Bahas Indonesia, Edisi keempat, Balai Pustaka, Jakarta, 2008
Hei, Ini Aku Ibu Profesional, Leutikaprio, cetakan 1, 2012
Bunda Sayang, Seri Ibu Profesional, Gaza Media, cetakan 1, 2013
Bunda Cekatan, Seri Ibu Profesional, Gaza Media, cetakan 1, 2014
Bunda Produktif, Catatan Ikhtiar Menjemput Rizki, Seri Ibu Profesional, J&J Publishing, cetakan 1, 2015

*Pendidikan Karakter dalam perspektif Pendidikan berbasis Fitrah*

*Pendidikan Karakter dalam perspektif Pendidikan berbasis Fitrah*

Oleh: Ustadz Harry Santosa

Sampai hari ini walau banyak sekolah dengan bangga menyebut sekolahnya sebagai tempat mendidik karakter, namun sebenarnya mereka masih bingung apa sebenarnya definisi karakter. Mereka umumnya sibuk pada How dan What, namun tidak pernah bergerak ke Why.

Ketika ditanyakan apakah karakter itu dilahirkan (nature) atau dibentuk (nurture)? Maka hampir semuanya merasa ragu dan tidak yakin menjawabnya. Misalnya jika ada anak yang sejak kecil suka bersih bersih atau suka mengatur, apakah itu karakter? Jika itu disebut karakter, berarti karakter dilahirkan, lalu mengapa ada istilah membentuk karakter?

Jika semua karakter bisa dibentuk mengapa riset riset memperlihatkan bayi sudah memiliki moralitas bahkan spiritualitas sejak usia 3 bulan. Mengapa 1000 orang ditraining kepemimpinan sampai advance, namun hanya yang sejak kecil berbakat pemimpin yang akan mampu memimpin jauh lebih baik? Mengapa 1000 orang ditraining Photoshop sampai mahir, lalu hanya segelintir saja yang mampu mendesain dengan kreatif?

Pertanyaan kemudian menjadi meluas, apakah bayi lahir sudah bermoral? Apakah mendidik anak menjadi shalih lebih mudah daripada mendidik anak menjadi jahat? Apakah ada karakter yang dilahirkan dan ada karakter yang dibentuk?

Mari kita lihat studi kasus di bawah ini, kemudian kita bisa mengambil kesimpulan mengapa dan bagaimana pendidikan karakter itu sejatinya.

Studi Kasus

Banyak sekolah atau banyak keluarga homeschooling menetapkan beberapa Value atau Nilai Nilai di dalam lembaganya. Beberapa Value ini misalnya  terkait keimanan, kecerdasan, kedisplinan atau kemandirian dll. Mereka kemudian membrekadown masing masing value atau nilai itu menjadi beberapa level derivasinya dan menetapkan indikatornya untuk setiap jenjang usia.

Umumnya, indikator yang dibuat adalah checklist "anak mampu...." dan checklist "anak paham bahwa..."

Kompetensi tanpa Kegiatan

Dalam ranah pendidikan seringkali kita dengar kata kata, "bagaimana menanamkan nilai nilai", bagaimana mengadabkan anak dll. Lalu sayangnya di tataran praktis, kata "bagaimana" ini kemudian berwujud pada kumpulan check list "anak mampu..." atau "anak paham...". Kita sering terjebak pada mengilmui tanpa mengalami.

Kata "mampu" dan "paham" seringkali bukan berwujud kegiatan atau bukan diperoleh sebagai hikmah dari suatu aktifitas, tetapi penjelasan semata.

Misalnya anak mampu menjelaskan bahwa naik gunung itu perlu ketabahan, tolong menolong, kepemimpinan dstnya. Misal lainnya adalah anak memahami bahwa pemimpin itu harus adil, empati, dsbnya. Misal lainnya, anak memahami bahwa adab menuntut ilmu adalah respek pada ulama, mengimplementasikan ilmu dsbnya.

Lalu semua itu hanya berupa pengetahuan yang disampaikan, lalu anak anak menghafalnya dan pandai menjawab ketika ujian tiba. Kemudian kita bangga melihat deretan nilai nilai.

Jadi walaupun kita paham ada panduan "Adab sebelum Ilmu", semua pada akhirnya dibawa ke ranah Ilmu atau pengetahuan. Padahal Adab itu diperoleh dengan hikmah dari sebuah kegiatan yang dirancang agar anak anak betul betul antusias menjalankannya, kemudian hikmah diperoleh dari kegiatan itu sebagai pengalaman berharga yang berkesan sepanjang hayat.

Bisa dibayangkan jika anak anak mampu menjelaskan atau mampu melakukan ulang, lalu anak anak memahami 100% namun tidak pernah merasakan dan mengalaminya langsung dalam keseharian, maka benar benar akan muncul manusia yang ilmunya banyak namun tak beradab karena tidak memiliki hikmah dimana hikmah hanya diperoleh dengan mensyukuri diri dan lingkungan melalui pengalaman.

Begitulah turunnya alQuran memberikan hikmah luarbiasa. AlQuran turun ayat demi ayat sesuai peristiwa yang dialami Nabi SAW dan para Sahabat, sehingga adab terbangun dari pensikapan mereka atas peristiwa yang terjadi, bukan sekedar Nabi SAW membacakan lalu para Sahabat menghafalnya.

Ketika para Sahabat ditanya mengapa hafalan mereka amat lambat bertambah, mereka pun mengatakan, "kami tidak menambah hafalan kami sampai kami mengamalkan apa yang telah kami hafalkan"

Sungguh anak anak kita memerlukan kegiatan hebat yang menginteraksikan fitrahnya dengan alam dan kehidupan nyata serta tadabur ayat Qouliyah agar mereka memperoleh hikmah hikmah yang mendalam sehingga menjadi Adab yang muncul dari dalam jiwa mereka (intrinsic motivation atau niat yang kuat)

Berkegiatan adalah fitrah manusia. Dan fitrah manusia memerlukan interaksi pengalaman dengan alam dan kehidupan agar tumbuh paripurna. Ingat bahwa antusia dan ghairah tidak bisa ditumbuhkan dengan pembiasaan dan stimulus.

Kompetensi tanpa Potensi ( "Mampu" tanpa "Mau")

Selain berkegiatan, hal yang penting untuk membangun karakter adalah menemukan "mau" atau potensi dari anak anak kita. Tentu saja "mau" atau "potensi" yang berangkat dari sifat produktif.  Menemukan "mau" anak kita adalah menyadari bahwa manusia bukan mesin yang bisa dipaksa bekerja serta bukan komputer yang bisa dijejalkan data.

Munculnya generasi yang hanya menjadi human thinking dan human doing bukan human being (insan kamil) adalah karena banyak sistem pendidikan hanya fokus pada bagaimana anak bisa dan mampu bukan apakah anak mau selaras potensi fitrahnya.

Karena tidak pernah berempati pada "mau" atau "potensi fitrah" anak seperti keunikan anak atau fitrah bakat maka umumnya kompetensi sering mengabaikan unsur fitrah.

Umumnya kompetensi didefinisikan sebagai A.S.K (Attitude, Skill, Knowledge) semata. Dalam profesi atau karir semestinya kompetensi itu meliputi T.A.S.K (Talent, Attitude, Skill, Knowledge), dalam skala yang lebih manusiawi harus meliputi semua aspek fitrah bukan hanya talent.

Jika abai terhadap fitrah, maka sudah bisa diduga bahwa metode yang digunakan adalah behaviorism seperti drilling, pembiasaan (conditioning), iming iming dan pemaksaan (reward n punishment), rangsangan (stimulus) dsbnya. Ujung ujungnya muncul menjadi check list bisa dan mampu yang pro cognitive semata.

Banyak sekolah atau keluarga karena juga masih akademik oriented bukan fitrah oriented, sehingga sangat sulit mengangkat "mau anak" atau "potensi fitrah anak" sebagai basis membangun moral karakter ( jujur, berani, mandiri, amanah dll).

Padahal kita tahu bahwa moral karakter akan menguat ketika anak anak dibantu untuk tumbuh sesuai potensi fitrahnya. Anak yang mengenal potensi dirinya dengan baik atau "kutahu yang kumau" lalu difasilitasi untuk dikembangkan potensinya itu sehingga menjadi performance character akan jauh lebih mudah untuk dibangun moral karakternya.

Di masa Nabi SAW, potensi para Sahabat dikenali dan dihargai dengan baik, kemudian penugasan penugasan senantiasa selaras dengan potensi unik mereka masing masing sehingga menjadi kinerja terbaik. Kita tidak pernah melihat Umar bin Khattab RA ditugaskan menjadi panglima perang, Abdurrahman bin Auf RA menjadi pencatat hadits, Abu Hurairah RA sebagai pencari dana, Abu Bakar RA sebagai duta atau delegator dsbnya.

Potensi unik inilah yang kita sebut dengan fitrah bakat atau karakter kinerja, dimana manusia akan hebat kinerjanya jika apa yang dilakukannya relevan dengan potensi unik dirinya atau potensi fitrahnya.

Performance Character vs Moral Character

Dalam Islam ada 2 tema pusat dalam mendidik yaitu Fitrah dan Adab. Pendidikan yang seimbang antara fitrah dan adab akan melahirkan generasi yang hebat perannya dan mulia adabnya.

Jika potensi fitrah ditumbuhkan maka kelak akan menjadi Peran terbaik dan produktif, inilah karakter kinerja (performance character). Karakter kinerja ini amat terkait dengan potensi bawaan manusia.

Jika adab dikuatkan dan direlevankan dengan potensi fitrah maka kelak peran peran terbaik tadi akan menjadi jauh lebih bermanfaat, bermartabat atau mulia yang kita namakan dengan Beradab, inilah karakter moral (moral character). Karakter moral ini amat terkait dengan value atau nilai nilai yang diyakini.

Jadi ada karakter yang dilahirkan terkait dengan potensi Fitrah, ini sejatinya hanya memerlukan aktifasi untuk ditumbuhkan dari dalam (inside out) dan ada karakter yang dibentuk terkait Adab, ini sejatinya terkait dengan nilai nilai yang diyakini atau Kitabullah. Keduanya harus berjalan seiring, fitrah yang tumbuh paripurna akan mudah diadabkan menjadi mulia.

Karenanya dalam pendidikan karakter perlu diperhatikan keseimbangan untuk tiap tahapan usia antara menumbuhkan potensi fitrah dan memperkuatnya dengan nilai nilai Adab. Potensi fitrah saja yang ditumbuhkan tanpa  penguatan Adab akan menjadi peran peran hebat namun tak beradab, sementara penguatan atau penanaman Adab tanpa memperhatikan potensi fitrah dan penumbuhannya akan menyebabkan peran yang tidak produktif, mekanistik dstnya.

Dahulu mengapa nilai nilai alQuran dan alhadits amat mudah diterima oleh para Sahabat, karena selain alQuran dan alHadits selaras dengan fitrah juga karena potensi fitrah para Sahabat telah ditumbuhkan secara paripurna melalui tarbiyah yang baik oleh Rasulullah SAW sehingga fitrah yang tumbuh hebat akan mudah disempurnakan oleh Adab yang mulia.

Salam Pendidikan Peradaban

#pendidikanberbasisfitrah dan akhlak
#fitrahbasededucation

Minggu, 23 Oktober 2016

Review NHW #1

Review NHW #1

📚ADAB SEBELUM ILMU📚

Disusun oleh  Tim Matrikulasi Institut Ibu Profesional

Apa kabar bunda dan calon bunda peserta Matrikulasi IIP Batch #2?
Tidak terasa sudah 1 pekan kita bersama dalam forum belajar ini. Terima kasih untuk seluruh peserta yang sudah “berjibaku” dengan berbagai cara agar dapat memenuhi “Nice Homework” kita. Mulai dari yang bingung mau ditulis dimana, belum tahu caranya posting  sampai dengan hebohnya dikejar deadline:). Insya Allah kehebohan di tahap awal ini, akan membuat kita semua banyak belajar hal baru, dan terus semangat sampai akhir program.

Di NHW#1 ini, tidak ada jawaban yang benar dan salah, karena kita hanya diminta untuk fokus pada ilmu-ilmu yang memang akan kita tekuni di Universitas Kehidupan ini. Yang diperlukan hanya dua yaitu *FOKUS* dan *PERCAYA DIRI*. Jangan sampai saat kuliah dulu kita salah jurusan, bekerja salah profesi, sekarang mengulang cara yang sama saat menapaki kuliah di universitas  kehidupan, tapi mengaharapkan hasil yang berbeda. Kalau pak Einstein menamakan hal ini sebagai “INSANITY”

*INSANITY : DOING THE SAME THINGS OVER AND OVER AGAIN,AND EXPECTING DIFFERENT RESULT - Albert Einstein*

Setelah kami cermati , ada beberapa peserta yang langsung menemukan jawabannya karena memang sehari-hari sudah menggeluti hal tersebut. Ada juga yang masih mencari-cari, karena menganggap semua ilmu itu penting.

Banyak diantara kita menganggap semua ilmu itu penting tapi lupa menentukan prioritas. Hal inilah yang menyebabkan hidup kita tidak fokus, semua ilmu ingin dipelajari, dan berhenti pada sebuah “kegalauan” karena terkena “tsunami informasi”. Yang lebih parah lagi adalah munculnya penyakit “FOMO” (Fear of Missing Out), yaitu penyakit ketakutan ketinggalan informasi. Penyakit ini juga membuat penderitanya merasa ingin terus mengetahui apa yang dilakukan orang lain di media sosial. FOMO ini  biasanya menimbulkan penyakit berikutnya yaitu”NOMOFOBIA”, rasa takut berlebihan apabila kehilangan atau hidup tanpa telepon seluler pintar kita.

Matrikulasi IIP batch#2 ini akan mengajak para bunda untuk kembali sehat menanggapi sebuah informasi online. Karena sebenarnya sebagai peserta kita hanya perlu komitmen waktu 2-4 jam per minggu saja, yaitu saat diskusi materi dan pembahasan review,  setelah itu segera kerjakan NHW anda, posting dan selesai, cepatlah beralih ke kegiatan offline lagi tanpa ponsel atau kembali ke kegiatan online dimana kita fokus pada informasi seputar jurusan ilmu yang kita ambil. Hal tersebut harus diniatkan sebagai investasi waktu dan ilmu dalam rangka menambah jam terbang kita.
Katakan pada godaan ilmu/informasi yang lain yang tidak selaras dengan jurusan yang kita ambil, dengan kalimat sakti ini :

*MENARIK, TAPI TIDAK TERTARIK*

Apa pentingnya menentukan jurusan ilmu dalam universitas kehidupan ini?

*JURUSAN ILMU YANG KITA TENTUKAN DENGAN SEBUAH KESADARAN TINGGI DI UNIVERSITAS KEHIDUPAN INI, AKAN MENDORONG KITA UNTUK MENEMUKAN PERAN HIDUP DI MUKA BUMI INI*

Sebuah alasan kuat yang sudah kita tuliskan  kepada pilihan ilmu tersebut, jadikanlah sebagai bahan bakar semangat kita dalam menyelesaikan proses pembelajaran kita di kehidupan ini.

Sedangkan strategi yang sudah kita susun untuk mencapai ilmu tersebut adalah cara/kendaraan yang akan kita gunakan untuk mempermudah kita sampai pada tujuan pencapaian hidup dengan ilmu tersebut.

Sejatinya,

*SEMAKIN KITA GIAT MENUNTUT ILMU, SEMAKIN DEKAT KITA KEPADA SUMBER DARI SEGALA SUMBER ILMU, YAITU “DIA” YANG MAHA MEMILIKI ILMU*

Indikator orang yang menuntut ilmu dengan benar adalah terjadi perubahan dalam dirinya menuju ke arah yang lebih baik. 

Tetapi di  Institut Ibu Profesional ini, kita bisa memulai perubahan justru sebelum proses menuntut ilmu. Kita yang dulu sekedar menuntut ilmu, bahkan menggunakan berbagai cara kurang tepat, maka sekarang berubah ke Adab menuntut ilmu yang baik dan benar, agar keberkahan ilmu tersebut mewarnai perjalanan hidup kita.

*MENUNTUT ILMU ADALAH PROSES KITA UNTUK MENINGKATKAN KEMULIAAN HIDUP, MAKA CARILAH DENGAN CARA-CARA YANG MULIA*

Salam Ibu Profesional,

/Septi Peni Wulandani/

Sumber Bacaan :
Hasil Penelitian “the stress and wellbeing” secure Envoy, Kompas, Jakarta, 2015

Materi “ADAB MENUNTUT ILMU” program Matrikulasi IIP, batch #2, 2016

Hasil Nice Home Work #1, peserta program Matrikulasi IIP batch #2, 2016

 

Mama Belajar Template by Ipietoon Cute Blog Design